renungan masakan kentang…

  Setiap hari Jum’at, di Semi Palar dikenal dua kegiatan Jumaatan. Yang satu adalah Sholat Jum’at yang jadi bagian dari ibadah rutin saudara-saudara kita umat Islam di manapun berada; yang kedua adalah koordinasi rutin mingguan kakak Smipa. Kami mengevaluasi perjalanan pembelajaran satu minggu ke belakang dan mempersiapkan rangkaian kegiatan di minggu berikutnya. Koordinasi … Baca lebih lanjut

catatan-catatan merefleksi Slametan TP12

  Seusai kegiatan Slametan TP12 : Cinta Bumiku Cinta Negeriku dengan segala dinamika dan prosesnya, kami menangkap ada beberapa catatan refleksi yang muncul. Berikut beberapa catatan refleksi dari rekan orangtua dan para kakak yang sempat menuliskannya dalam blog mereka. Sampai hari ini ada 8 blogpost yang merekam tentang ini. Menarik untuk … Baca lebih lanjut

Kata Siapa? [catatan paska selametan]

 

“Kemerdekaan adalah berhasil menemukan keberanian untuk mengikuti kata hati”

Tag-line ini merupakan hasil kesimpulan sementara dari proses diskusi yang saya lakukan bersama rekan-rekan saya di sebuah warung kopi (obrolan warung kopi biasanya lebih berkualitas, objektif, dan kritis, ketimbang forum diskusi kacangan di saluran televisi, haha…). Kesimpulan ini pun muncul dengan ketentuan; kata hati itu merupakan jalur komunikasi alami antara kita dengan Tuhan, sehingga kata hati tidak pernah salah (inipun lagi-lagi buah kesimpulan sementara dari diskusi di warung kopi yang dimaksud).

Jadi… Apakah kita sudah benar-benar merdeka?

*****

Tanggal 17 Agustus 2016 lalu, saya berkesempatan mengikuti acara yang diselenggarakan oleh Rumah Belajar Semi Palar. Acara Slametan Awal Tahun yang bertepatan dengan memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia. Sebuah acara yang diramu dan dilakukan oleh berbagai pihak praktisi pendidikan (anak, orangtua, dan sekolah), yang bertujuan untuk menghimpun doa di awal tahun ajaran serta untuk mensyukuri tonggak kemerdekaan bangsa – selain juga bertujuan untuk mempererat ikatan, komunikasi, koordinasi, kerjasama, antar ketiga praktisi pendidikan, dan meningkatkan rasa kebangsaan.

Susunan acara diisi dengan berbagai kegiatan permainan kelompok yang perlu dilakukan agar setiap kelompok memiliki bahan serta peralatan yang dibutuhkan untuk melakukan pengibaran bendera merah putih di penghujung acara.  Beberapa hal yang paling menarik perhatian saya adalah: 1) Pengibaran bendera dilakukan dengan cara yang tidak ortodoks, dan 2) Divisi kebersihan nyaris tidak bertugas sama sekali!

 

Pengibaran Bendera

Meski mayoritas peserta acara mengenakan sepatu, namun pakaian yang dikenakan memang tidak seragam; ada jeans, bahan katun, celana panjang, celana pendek, kaos, kemeja, jaket, dsb. Di samping itu, format upacara tidak mengikuti alur kegiatan upacara bendera pada umumnya. Yang paling menarik adalah pengibaran bendera diiringi dengan lagu Syukur, bukan dengan lagu Indonesia Raya (lagu Indonesia Raya tetap dinyanyikan bersama setelah bendera selesai dikibarkan).

Lah… Emang boleh?!

Untuk sebuah prosesi upacara pengibaran bendera resmi (instansi dan kenegaraan), memang ada sebuah protokoler baku yang harus dilakukan, dimana protokoler ini dilakukan (menurut saya) agar seluruh warga negara memiliki patokan yang umum dalam rangka menghormati simbol kenegaraan dan patokan penyelenggaraan kegiatan upacara pengibaran bendera.

Namun, esensinya adalah niat, itikad, dan keluaran sikap berkebangsaan yang dimunculkan melalui penyelenggaraan upacara pengibaran bendera. Ketika bendera dikibarkan dengan diiringi oleh lagu Indonesia Raya, pada umumnya rasa bangga, haru, serta jiwa patriotisme kita seketika itu juga ikut muncul dan membara. Bolehkah saya menitikberatkan perasaan syukur ketika pengibaran bendera dilakukan? Mensyukuri karunia Tuhan yang diberikan lewat perjuangan para pahlawan bangsa? Mensyukuri kondisi positif serta kemajuan yang telah dialami oleh bangsa Indonesia hingga saat ini? Kata hati saya berujar, “Jangan kau lupa mensyukuri hal-hal ini…”.

Kemerdekaan adalah berhasil menemukan keberanian untuk mengikuti kata hati; saya insan merdeka, saya akan ikuti kata hati saya…

 

Kondisi Kebersihan

Selain karena mayoritas peserta acara sudah memiliki kesadaran yang baik akan pentingnya menjaga kebersihan, pentingnya mereduksi sampah hingga ke titik mendekati nol, peserta acara juga sudah memiliki kebiasaan yang dibangun dalam keseharian tiap-tiap individunya. Kesadaran tanpa pembiasaan belum tentu berhasil…

Meski tukang sampah/petugas kebersihan sudah stand-by di lokasi acara, meski tidak ada plang pengingat “Buanglah sampah pada tempatnya!”, atau “Nyampah = benjol” misalnya, namun peserta acara tampak sudah sangat sungkan untuk menghasilkan sampah, terlebih lagi ketika acara ini memang diadakan di sebuah tempat terbuka yang relatif alami.

Peserta acara memang memiliki kebebasan untuk membuang sampah sembarangan, tapi mereka tidak memiliki kemerdekaan untuk membuang sampah sembarangan.

Kemerdekaan adalah berhasil menemukan keberanian untuk mengikuti kata hati; mereka insan merdeka, mereka akan mengikuti kata hati untuk tidak membuang sampah sembarangan…

Salah satu hal yang paling berkesan dari pengalaman ini adalah ketika saya benar-benar merasa gado-gado rujak gejrot; haru, syukur, miris, bangga, bercampur jadi satu ketika pengibaran bendera merah putih dilangsungkan. Satu dari sedikit pelaksanaan upacara pengibaran bendera yang saya lakukan dengan khidmat.

Haru? Jelas. Syukur, bangga? Pastinya iya. Tapi miris? Emang kenapa

Ketika bendera dikibarkan dengan lantunan lagu Syukur sebagai backsound-nya, tak terasa air mata saya menitik. Yang terlintas di benak saya adalah kesedihan saya, yang masih sering melihat berbagai kekonyolan dan absurditas yang dilakukan oleh segelintir warga negara, ketika berperilaku dan berinteraksi sehari-hari. Saya ketika itu juga berpikir, “Apa reaksi para pahlawan pejuang kemerdekaan jika saat ini beliau-beliau masih hidup kemudian melihat pengorbanan darah, materil, emosional, psikologis, serta nyawa mereka, seperti ‘disia-siakan’ oleh anak-cucu generasi penerus, yang seharusnya mengisi kemerdekaan dengan optimal?!”. Saya bayangkan mereka sedang menangis dan kecewa melihat arah bangsa Indonesia yang masih seperti ini…

Apakah kita sudah merdeka? Melakukan apapun peran kita dengan optimal, sepenuh hati, dan sesuai dengan arahan kata hati?

Kemerdekaan adalah berhasil menemukan keberanian untuk mengikuti kata hati. Namun sayangnya, kata hati kita semakin sayup, terimbas dan terdistorsi oleh suara ego dan bisikan hawa nafsu. Rajin-rajinlah berdialog dengan diri sendiri, kenali lagi kata hati kita, semoga kita tidak dibuat bingung, “Ini teh kata siapa?”, agar kita dapat menjadi insan yang betul-betul merdeka…

– EL –

catatan pak Iwan – perjalanan pengalaman literasi

  Pengantar: Di awal TP 11 ini, kami di Semi Palar mulai membedah kembali perihal Literasi secara mendalam. Pembekalan pertama bagi kakak-kakak Smipa di hari Rabu lalu diisi dengan mencoba memahami kembali hakikat literasi. Memahami bagaimana semestinya seorang manusia belajar berbahasa dengan sebaik-baiknya. Seusai pembekalan teringat sesosok istimewa yang ada di Semi Palar, … Baca lebih lanjut

Upacara Peringatan 70 Tahun Indonesia Merdeka

Ada yang berbeda dengan upacara Agustusan di Smipa untuk tahun ini, karena yang menjadi petugas upacara adalah kakak-kakak (guru) dengan pemimpin upacaranya salah seorang perwakilan dari orang tua siswa. Suasana khidmat melingkupi perasaan kami sepanjang jalannya upacara, baik kami para kakak, anak-anak, maupun sebagian orang tua yang juga ikut hadir … Baca lebih lanjut

belajar (tentang) hidup

  Masih ingat rasanya menjelang hari pertama kali masuk sekolah taman kanak-kanak? Telapak kaki melangkah riang, sesekali melompati genangan bekas hujan tadi malam. Tubuh bersih dan harum semerbak, akibat sabun mandi beraroma buah segar. Tawa yang terdengar bebas ketika percik air mengenai ujung sepatu. Mulut tak henti bersenandung lagu-lagu ceria. … Baca lebih lanjut

ruang diri, ruang mimpi

  Di tahun 1998 aku mulai menjejaki dunia yang sangat kental berkaitan dengan isu pendidikan. Melanjutkan sekolah yang konon katanya akan mencetak calon-calon pengajar yang pada akhirnya membaktikan dirinya sebagai pengajar di negeri ini. Namun apa nyana, di lembaga pendidikan itulah aku harus memapar diriku atas bobroknya dunia pendidikan di … Baca lebih lanjut

Learning by Doing: Memperbesar Peluang Kemanfaatan Belajar

  “Pendidikan bukanlah sebuah persiapan untuk kehidupan; pendidikan adalah kehidupan itu sendiri”. Kutipan dari John Dewey ini begitu menarik perhatian kita, di antaranya mungkin karena di balik kata-kata tersebut tersirat kritik yang cukup mengena bagi dunia pendidikan (formal), yaitu bahwa selama ini dunia pendidikan kita telah sekian jauh berjarak dengan … Baca lebih lanjut

Education is not preparation for life…

Petikan di atas ini tentu tidak asing bagi kita, terutama bagi yang berkecimpung di dunia pendidikan. Nama dari Eyang Dewey ini cukup sering lalu lalang di banyak artikel dan buku-buku pendidikan. Beliau bukan hanya dikenal sebagai tokoh pendidikan dan psikolog saja, namun juga diakui sebagai seorang filsuf, jurnalis, politikus juga. Beberapa … Baca lebih lanjut