[serial kenapa] kenapa anak-anak di smipa banyak diajak berkarya?

 

Di Rumah Belajar Semi Palar, salah satu cara untuk melihat sejauh mana anak-anak menangkap dan memahami apa yang berjalan dalam proses belajarnya adalah melalui karya-karya mereka. Anak-anak di Semi Palar tidak banyak berhadapan dengan test atau ujian tapi sangat banyak diajak berkarya. Mendengar hal tersebut, respon yang kerap muncul untuk pernyataan di atas adalah : “wah Semi Palar itu sepertinya sekolah untuk jadi seniman, anak-anak diajak berkarya terus”. Komentar spontan ini tidak sepenuhnya

5356307-the-word-create-in-print-letter-casestepat. Karena berkarya, berkreasi, mencipta adalah salah satu sifat dasar manusia – selain bahwa manusia adalah mahluk sosial, mahluk bermain dll. Kalau ingat ungkapan ‘there’s nothing new under the sun’, di atas muka bumi ini tidak pernah ada hal baru, yang ada adalah benda-benda lama yang diolah dan dimunculkan kembali dalam bentuk-bentuk yang baru. Singkat kata, segala hal yang sekarang ada di sekitar kita adalah olahan kreativitas semata.

Sistem pendidikan di Indonesia, hampir tidak memperhatikan hal ini. Anak-anak dibombardir dengan materi2 yang sudah jadi, sudah final, sudah terdefinisi, terangkum dalam buku2 paket pelajaran. Dunia dan alam semesta yang begitu luas dan penuh keajaiban dimampatkan ke dalam teks-teks buku pelajaran dan di dalam ruang kelas, anak-anak diharuskan menelannya (tanpa mengunyah dan mencernanya terlebih dahulu), dan mengeluarkannya kembali melalui berbagai bentuk ulangan dan test-test tertulis.

Lalu bagaimana hubungannya dengan berkarya? Berkarya adalah persoalan ekspresi diri, memunculkan apa yang kita ketahui, kita pikirkan, kita rasakan, kita imajinasikan. Proses berkarya hanya bisa berjalan optimal saat berkarya menjadi bagian dari pengalaman nyata proses belajar anak-anak. Sebaliknya test dan ulangan adalah bentuk ujian; menguji apakah kita tahu ini atau tahu itu, melalui bentuk-bentuk pertanyaan dan soal.

Berbeda dari menguji anak-anak akan pengetahuan mereka melalui ulangan, test atau ujian, proses berkarya menjadi hal yang jauh lebih bermakna dan membawa mereka dalam proses pembelajaran yang mendalam (deeper learning).

Bertentangan dengan berkarya, ulangan dan test arahnya datang dari luar diri para siswa, dari para guru kepada para murid. Menguji sejauh mana anak-anak ingat pengetahuan yang sudah ditanamkan. Berkarya adalah memunculkan gagasan, pemikiran dan perasaan berdasarkan pengalaman dan proses yang mendahuluinya. Pengalaman tentunya merupakan hal yang sangat berbeda dari sekedar mendapatkan pengetahuan / informasi.

Berkarya adalah juga karakter dasar untuk membangun jiwa wiraswasta. Para entrepreneur mutlak memiliki kemampuan berimajinasi, berinovasi dan berkreasi. Menciptakan pekerjaan daripada mencari pekerjaan. Menciptakan produk daripada sekedar memproduksinya… Contoh paling mudah adalah tokoh luar biasa yang baru saja meninggalkan kita, Steve Jobs.

Sistem Pendidikan kita tidak menuju ke sana. Perhatikan spanduk-spanduk institusi pendidikan kita yang sangat gandrung berslogan ‘Lulus Kuliah Siap Kerja’. Bagaimana kita memunculkan SJ-SJ lain, satu-satunya cara adalah dengan membiasakan anak-anak berkarya, dan berkreasi… berkarya dan berkreasi…

Bookmark the permalink.

2 Responses to [serial kenapa] kenapa anak-anak di smipa banyak diajak berkarya?

  1. cassia vera says:

    >we are making a "creating" culture.. right?

  2. Natsir says:

    Dalam berkarya ada unsur analisa,untuk bisa menganalisa mesti peka dan cerdas….terima kasih semipa anak kami sudah ditularkan hal ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *