Aduh kita kan sibuk, mana ada waktu

[sebuah tulisan pendek memuat potret keluarga kecil di perkotaan, dengan titik berat kegiatan mendongeng dan membaca]

storytitle

Coba kita ingat-ingat jaman kita kecil dulu, betapa Ibu ada setiap saat mendampingi kita di rumah. Sambil Ibu memasak, tak henti mengalir dari mulut Ibu macam-macam cerita. Juga saat Ibu duduk menjahit baju, memandikan adik, atau saat duduk di sisi mengantar kita lelap. Sering inisiatif murni datang dari Ibu, kadang merupakan respon Ibu terhadap lontaran pertanyaan, keluhan ataupun masalah kita misalnya saja saat kita kepergok sedang berebut mainan. Ceritanya bisa membawa bermacam muatan, mulai dari nasihat, cerita fabel, legenda atau kisah nyata tentang perjalanan hidup Ibu yang bisa sangat panjang dan ‘rumit’ jika sudah menyangkut silsilah super panjang keluarga besar. Cerita-cerita Ibu meninggalkan kesan dalam, begitu menarik sekaligus bermakna.

Dongeng-dongeng itu ternyata masih erat melekat di ingatan kita yang kini bukan bocah lagi. Dari Ibulah kita pertama mengenal Malin Kundang, atau cerita si burung yang sangat cantik namun sombong, atau cerita tentang bagaimana Eyang harus mengungsi saat perang berkobar. Lalu bertumbuh di hati kesadaran nilai untuk hormat terhadap orangtua, untuk rendah hati tidak pongah, juga makna perjuangan hidup. Lewat potongan dongeng sarat nilai, terbentuk kita apa adanya seperti sekarang ini : kita yang tangguh, yang tak mudah putus asa, peka dan berbelas asih. Ibu dengan segala kesederhanaan dan keterbatasannya (relatif dalam hal materi, pergaulan dan tingkat pendidikan) mampu memanfaatkan dongeng sebagai satu media efektif penyampaian nilai pendidikan.

Hari berganti waktu terus bergulir tak kenal kompromi, tiba-tiba saja saat ini kita sendiri telah berstatus Ibu atau Ayah. Mengikuti perkembangan jaman dan dihadapkan dengan faktor kebutuhan ekonomi atau aktualisasi diri, pola kehidupan kita kian bergeser ke double income family. Semakin banyak Ibu meniti jalur sukses sebagai wanita karir, entah karena keterpaksaan atau semata pilihan hidup. Lalu yang terjdi tak mungkinlah kita bisa melestarikan tradisi mendongeng untuk anak-anak kita, mana ada waktu. Tengok saja padatnya kesibukan setiap orang dalam keluarga, ya kita sendiri dengan rutinitas kantor atau urusan tetek bengek rumah, juga anak-anak kita berjuang mengusung beban persekolahan yang menyita habis energi dan waktu milik mereka.

Karena ada ulangan pagi buta anak dibangunkan sekedar mengulang materi, takut hafalannya lupa karena terbawa tidur dan tertinggal di kasur. Pulang sekolah anak pontang panting les renang, musik, menggambar, Inggris, dll, dll, dll. Jangan tanya kegiatan rutin les pelajaran yang wajib dijalani anak atas nama masa depan yang lebih baik : agar anak biar lebih siap, bisa keep up dengan materi di kelas, ngga keteteran. Mengejar waktu, makan siangpun harus di mobil. Muka keruh anak yang kelelahan seperti tak lagi kasat di mata orangtua.

Kita seperti terjebak, tak punya kesempatan memilih kecuali pasrah menerima keadaan : ini semua adalah cost yang harus kita bayar untuk segala kenyamanan hidup yang kita nikmati. Kita ‘tenggelam’ dalam tugas seharian penuh. Dan ketika waktu kumpul yang tersisa hanyalah sepenggal waktu di meja makan untuk ritual makan pagi (dengan kecepatan tinggi) dan makan malam (dalam kondisi ‘stamina habis’), kitapun lalu makin terseret saling menjauh. Hubungan langsung orangtua-anak kian melemah seiring makin menguatnya peran para mediator (pengasuh/baby sitter). Anak menjalani waktu lebih banyak bersama mereka dibanding orangtuanya; fungsi dan peranan orangtua sedikit demi sedikit beralih dan dialihkan.

Banyak di antara kita yang menyadari penuh kecenderungan ini lalu berusaha untuk tetap menjaga kedekatan denagn memanfaatkan setiap kesempatan pendek. Kitapun mencoba ‘mengobrol’. Di meja makan, seperti di tayangan sinetron obrolan dibuka dengan pertanyaan Ayah, ” Bagaimana Adik  tadi di sekolah, ulangannya bisa?”. Atau dari Ibu, ” Kakak les Inggris tadi diajarin apa?”. Anak menyahut seperlunya, pembicaraan berlanjut membawa keluarga ke satu pembicaraan berformat tanya-jawab mirip laporan rutin harian. Tak ada yang salah dengan ini, ini hal terbaik yang bisa kita upayakan. Tanpa usaha seperti ini, kita mungkin hanyalah sekumpulan orang yang terkait hubungan darah yang tinggal bersama di satu bangunan bernama rumah. Dan pasti bukan itu definisi mendasar dari kata keluarga. Apa benar tak ada lagi yang bisa kita upayakan untuk memaknai sebuah kata ‘keluarga’?

Kemajuan jaman dan pengaruh lingkungan kerap memperumit permasalahan. Kemajuan teknologi mencipta arus yang terlalu besar untuk kita bisa bertahan tidak sampai terhanyut. Beberapa contoh kecil saja.

Televisi setia setiap saat menemani anak yang duduk dengan mata lekat asik melahap setiap sajian, tanpa dampingan Ayah Ibu bijak yang sigap menterjemahkan tontonan agar sesuai dengan tingkat kematangan pamahaman anak. Anak jadi terbiasa mendapat informasi ‘matang’ secara instan tanpa sensor dan seleksi, tanpa perlu mengolah apapun, tanpa perlu berpikir sedikitpun, tanpa perlu usaha apapun selain duduk dan merelakan hati dan pikiran digiring sesuai alur cerita dan target para pebisnis pertelevisian.

 

Fasilitas SMS kian signifikan menggantikan sosok, suara dan belai sayang orangtua, yang biasanya nyata hadir saat menjalin komunikasi. Semua bentuk komunikasi, informasi, instruksi mudah disampaikan dan diterima melalui ujung jari dan ujung mata. Satu kisah mengungkap seorang Ibu bisa seharian memantau penuh anaknya melalui SMS: bekal hbs? sdh mkn siang? buat pr! les renang pk sun block! mnm su2 dl baru tdr, bla.bla..bla. Sesingkat dan setegas pesan-pesan itukah kepedulian dan ketersediaan waktu kita untuk anak kita…

 Kegiatan membaca buku (bukan buku pelajaran) yang dulu merupakan kegiatan hiburan/kesenangan kini makin redup keberadaannya. Anak lebih memilih main computer games atau jalan ke mall. Atau, apa mungkin anak sekarang sudah terlanjur muak ya melihat wujud buku yang sudah erat terasosiasikan dengan setumpuk PR atau bahan ulangan di sekolah? Anak kehilangan antusiasme untuk mengembangkan keterampilan membaca, meningkatkan kemampuan daya pikir dan kebebasan berimajinasi, yang semua itu mustahil dapat dibangun optimal saat misalnya nonton TV atau main PS.

Jika situasinya adalah demikian adanya, bahwa anak malas dan kehilangan minat membaca, mungkin kita para orangtua harus bertanya lanjut, mencoba jujur terhadap diri kita sendiri: apakah kita sendiri sudah cukup memberi contoh yang akhirnya dapat membangun pemahaman pada anak untuk mencintai buku. Apalagi jika itu dikaitkan dengan keberadaan kita sebagai mahlukNya, sudahkah kita membebaskan diri dari jerat rutinitas dan tetap meluangkan waktu untuk terus mengembangkan diri menjadi lebih utuh, melalui berbagai cara dan usaha termasuk di situ banyak membaca buku.

Mungkin kita malah yang harus belajar dari anak. Di usianya yang dini yang mau belajar tentang apapun dengan antusiasme menggebu. Lalu saat kita mau mencoba untuk lebih mengoptimalkan pemanfaatan waktu kita bersama anak, buku dapat menjadi salah satu media yang baik untuk membangun kedekatan. Memang pemilihan buku sangat penting; buku yang baik berkemampuan mentransfer banyak hal baik bagi pembacanya.

 

Sering saya terpesona melihat si kecil di usianya yang ke-empat menjalin hubungan dengan buku. Didongengkan dari buku, ia bisa begitu ‘masuk’ melebur ke alur cerita. Ia meneteskan air mata saat si anak bebek gagal menemukan ibunya, ia menampakkan muka sangat was-was saat si tokoh seusianya tersesat di hutan, ia melonjak kegirangan di babakan ksatria hebat berhasil mengalahkan naga jahat. Pekat ‘terbaca’ empatinya terhadap si anak bebek, kepeduliannya saat dia sebisa-bisanya berusaha membantu mencarikan si teman jalan keluar dari hutan, sukacitanya saat ia serius meniru gerakan ksatria petarung dengan pedang panjangnya. Pengalaman menunjukkan anak usia SD besarpun masih menikmati didongengkan / kegiatan story telling jika dibawakan secara menarik. Anak belajar banyak dan pada saat itu pula kita belajar lebih banyak lagi, kita berkesempatan belajar memahami anak.

Nah masalahnya, kan tidak semua dari kita berbakat menjadi pendongeng, jadi bagaimana dong? Mungkin bila kita bisa yakin, saat kita diberi kepercayaan olehNya untuk sesosok mungil anak kita, pastilah kita ada dibekali kemampuan untuk menjalankan fungsi sebagai orangtua yang baik baginya. Ibu di waktu lampau di tengah segala sesahajaan dapat begitu terasa dekat dan berperan dalam mendampingi anak bertumbuh-kembang dan salah satunya melalui dongeng, itu hebat sekali. Kita juga pasti bisa hebat jika di abad modern yang sarat ‘godaan’ berwujud segala kemudahan dan alternatif kegiatan serta seabrek kesibukan, kita masih mau mengupayakan untuk menciptakan “waktu khusus orangtua dan anak”, dimana kita bisa saling terbuka berkomunikasi melalui berbagai media, mengenai berbagai hal. Ada banyak hal sederhana yang bisa dicoba: bermain sambil berkarya bersama, memasak bersama yang melibatkan semua anggota keluarga, pergi berpetualang di kebun, berkemah sekeluarga, atau sederetan panjang bentuk kegiatan lain. Dengan demikian mungkin di sela kegiatan-kegiatan seperti itu kita betul jadi punya banyak kesempatan untuk menghidupkan kembali tradisi mendongeng.

 

Yang diperlukan hanyalah keteguhan kemauan kita dan sedikit lebih banyak waktu dari yang kita biasa ‘jatahkan’ untuk anak. Dan kita bisa berharap itu akan mengantarkan keluarga kita makin dekat ke kondisi ‘tanah subur’ yang diperlukan ‘si tunas mungil’  untuk dapat tumbuh dan berkembang secara lebih utuh.

 

[kak Lyn | 2007]

Tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *