Belajar / Berjuang Membaca

Mungkin banyak di antara kita yang mempunyai sejumlah 58 atau 127 buku inspiratif yang tak terlupakan, sehingga sulit betul buat memilih salah satu untuk ‘difavoritkan’. Berbeda dengan saya yang relatif cuma punya sedikit daftar bacaan. Terlepas dari perihal pilihan judul serta jumlah buku favorit, saya di sini cuma mau berbagi tentang bagaimana pengalaman saya dengan dunia buku. Semoga pengalaman ini bermanfaat bagi khalayak Smipa sekalian ~ Amin. —

Perlu menjadi catatan, bahwa saya sebetulnya sangat pantas terkategori sebagai orang yang “tidak hobi membaca”. Saya dibesarkan tanpa dongeng; tanpa rak dengan koleksi buku; tanpa orang yang menularkan atau sekadar mengenalkan kultur baca. Seingat saya, buku yang saya punya ketika kecil hanyalah satu buku bergambar tentang Putri Salju, satu buku Smurf, beberapa serial Asterik, Kungfu Boy, serta Dragon Ball (bahkan hampir semua adalah komik belaka).

Semasa sekolah, saya punya anggapan bahwa buku yang perlu saya baca cukuplah buku pengetahuan (referensi/nonfiksi) saja. Sementara buku cerita, saya anggap tidak penting dan tidak akan menambah pengetahuan. Namun, nyatanya buku-buku nonfiksi pun kala itu tidak saya baca secara utuh. Walhasil sepanjang masa sekolah, tak ada buku yang cukup spesial buat saya. Tidak ada pengalaman masa kecil dan masa remaja yang mengaitkan saya dengan dunia buku (ketika dulu saya ditanyai soal ‘buku kesukaan’, saya tidak bisa menjawab samasekali—bingung).

Menjelang lulus SMA, saya baru ‘bisa’ benar-benar membaca buku secara utuh dan tuntas. Buku itu karya Pak Haryoto Kunto, Wajah Bandoeng Tempo Doeloe, terbitan 1984 (ketertarikan saya atas banyak hal di kemudian hari, bermula dari buku ini). Lewat buku-buku Pak Kunto, kegiatan membaca sedikit demi sedikit mulai mendapat porsi yang pantas dalam kehidupan saya.

Namun, karena tidak punya latar belakang kultur baca, maka saya pun tidak mempunyai kecakapan baca yang baik. Jika banyak orang lain yang menempatkan kegiatan membaca sebagai kesenangan, hobi atau hiburan, maka saya samasekali tidak demikian. Saya membutuhkan energi banyak untuk membaca. Di masa awal saya ‘belajar membaca buku’, saya membutuhkan tempat yang benar-benar tenang untuk bisa membaca. Saya bahkan punya penyumpal kuping—agar momen baca saya hening ——Ow! Saya masih menyimpan benda itu; coba lihat fotonya! 😀

Cukup lama saya memandang fiksi dengan sebelah mata. Barulah kemudian di masa kuliah, saya akhirnya berhasil ‘MEMBUNUH prasangka’ saya atas jenis bacaan fiksi. Novel pertama yang (coba) saya baca adalah Sang Alkemis karya Coelho. Samasekali tidak dengan sengaja. Kala itu, saya samasekali tidak kenal sastrawan mahsyur macam Paulo Coelho. Saya cuma kebetulan dikasih anjuran oleh seorang penjual buku ketika sedang melihat-lihat buku dagangannya (di kios pinggir jalan ITB). Saya percaya omongan sang penjual, karena toh di sampul buku itu tertulis “Terjual 24 juta dalam 43 bahasa!”. Saya pun ‘iseng’ membelinya.

Sang Alkemis tidak langsung dibaca; didiamkan cukup lama. Hingga akhirnya di bulan-bulan kemudian saya pun mendapatkan kepenasaranan yang cukup untuk membacanya. Entah bagaimana, kala membaca novel pertama saya tersebut, saya mulai menemukan kenikmatan membaca cerita fiksi; menyerap rasa dan seolah menemukan sebuah petualangan. Saya pun berhasil menyelesaikan petualangan bersama Sang Alkemis dengan sensasi rasa yang (bagi saya kala itu) cukup luar biasa—sebuah pengalaman baru.

Sejak itu, saya mulai menentukan buku sastra mana saja yang akan saya baca kemudian. Seperti bagaimana saya terbiasa mengapresiasi musik dan film, dalam hal bacaan pun saya memilih untuk mendahulukan karya-karya yang tergolong klasik. Kala itu, sisi perfeksionis saya membuat saya enggan membaca ‘buku dalam karung’; dan karya klasik seringkali terbukti memuaskan.

Biarpun lambat dan penuh daya juang, saya mulai mengapresiasi bacaan-bacaan klasik sedikit demi sedikit. Bahkan buku-buku yang biasanya menjadi bacaan anak-anak kecil, sedari karya Lindgren, Blyton, Dahl, C.S. Lewis, E.H. Porter, Grahame, Nesbit, hingga kemudian Montgomery, Twain, dsb., semua baru saya baca kala dewasa (sedari kecil, saya memang tahu cerita Alice yang terjerembab ke lubang kelinci, tapi saya baru benar-benar menyentuh bukunya dan membacanya di masa kuliah).

Penuh daya juang. Energi yang ‘terkuras’ saat berhadapan dengan buku, berlipat tergantikan dengan rasa yang muncul ketika-dan-setelah membacanya. Saya kemudian menemukan, bahwa bacaan dengan cerita yang seru dan menarik ternyata bukan sekadar kesenangan belaka. Ada sensasi yang barangkali memang sulit terdeskripsikan. Saya segera tahu, kesenangan dan hiburan hanyalah lapisan terdangkal dari suatu bacaan yang baik—’yang tergolong sastra’.

Bagi saya, sastra adalah pengalaman majemuk umat manusia. Ada banyak pengalaman manusia yang bisa kita cerap lewat tokoh-tokoh cerita yang kita temui dalam buku. Ada butir-butir hikmah yang barangkali tidak mungkin kita dapatkan dari sekadar pengalaman tunggal diri sendiri. Saat membaca, kisah para tokoh cerita seolah melebur dengan pengalaman kita sendiri; seolah menemukan sari hikmah bersama sembari saling melengkapi jawaban teka-teki besar kehidupan yang sedang berusaha kita ‘pecahkan’. Dan sensasi yang juga luar biasa adalah ketika imajinasi penulis yang dihidupkan dalam lembar-lembar halaman seolah bertemu langsung dengan imajinasi dalam benak kita sendiri—beradu atau saling mengkayakan: liar.

Hal lain yang tak dinyana jauh sebelumnya, (jauh dari apa yang saya anggap ketika masa sekolah) bahwa ternyata kisah fiksi juga meluaskan wawasan dan pengetahuan kita. Ada fakta yang bercampur dengan imajinasi dan gagasan, jiwa zaman, kebudayaan dan sejarah manusia, hingga sains beserta interpretasi tentang keagungan semesta dan Penciptanya (Apa mau dikata jika tulisan yang dibuat Pramoedya, Jostein Gaarder, Remy Sylado, misalnya, disebut tidak meluaskan pengetahuan? Toh seringkali kadarnya malah lebih dari ensiklopedia atau buku teks sejarah dan filsafat sekalipun. Kita juga bahkan bisa menyelami fisika quantum lewat dongeng petualangan semacam A Wrinkle in Time karya L’Engle; atau menyelami teori evolusi semesta lewat kisah semacam Maya karya Gaarder. Demikianlah kiranya gambaran luasnya lingkup sastra.

Jika (kebanyakan) buku referensi/nonfiksi cenderung cuma mengisi kepala dengan wawasan dan ‘kepintaran’, maka sastra mengisi kita secara jauh lebih menyeluruh, memoles-molesi jiwa yang membacanya. Dalam sastra, ada banyak hal yang tidak tergantikan oleh jenis pembelajaran yang lain. Seseorang mungkin mendapat wawasan tentang kerusakan alam (beserta anjuran solusinya) dari pemaparan yang sangat ilmiah, misalnya dari tulisan karya Fritjoff Capra atau presentasi dari Al Gore. Namun sastra bisa membantu menghaluskan jiwa kita untuk kemudian meleburkan pemahaman dan nilai-nilai yang kita pahami ke dalam keseharian (hingga mengubah perilaku). Bukankah sudah terlalu banyak yang orang pintar cemerlang tapi jauh dari bijak?

Berkaitan dengan daftar bacaan, saya memang tak punya daftar panjang, tapi saya biasanya punya hubungan intim dengan buku-buku tertentu—hubungan intim (!).

Sosok ayah seperti Atticus Finch barangkali memang dijamin akan menginspirasi siapa saja yang menemuinya di kisah To Kill a Mockingbird (karya Harper Lee, 1960). Pengalaman kanak-kanak nan sahaja Scout dan Jim Finch dalam cerita ini juga bahkan telah terbukti memoles-molesi saya (entah bagaimana cara tokoh-tokoh cerita tersebut melakukannya). Kisah sahaja yang sangat kanak-kanak bahkan bisa meluluhlantakkan prasangka dan sinisme; membuat seorang sarkas ternganga, sehingga mau belajar meredakan luapan diri dan mengubah cara pandangnya atas banyak hal.

Kisah Momo yang berjuang melawan para Tuan Kelabu (karya Michael Ende, 1973) atau karya-karya satir ala George Orwell, sejatinya akan mengusik kesadaran siapapun tentang realitas zaman—selama membacanya dengan nurani dan nalar tentunya. Saya sendiri banyak ‘berdiskusi’ dengan tokoh-tokoh dalam kisah-kisah tersebut: Mengenai realita apa yang mengungkung kita di zaman modern ini; Mana yang semestinya pantas dan lumrah? Diskusi imajiner yang membantu memantapkan pilihan dan langkah.

Karena sejatinya membaca bukanlah sekadar kesenangan alias aktivitas hedonis atau gaya hidup belaka, maka di sini saya ingin ikut menegaskan apa yang diwanti-wanti oleh Alberto kepada Sophie dalam sebuah babak di Dunia Sophie (karya Gaarder, 1991), bahwa “Kebanyakan isi rak buku di toko-toko buku itu adalah SAMPAH.” Maka gunakanlah rasa, nalar, dan wawasan yang cukup untuk memilih bacaan (terlebih di zaman yang kebelinger ini; kala buku jadi komoditas industri; siapa saja seolah bisa menulis dan menerbitkan buku; kala buku yang tak mengandung keluhuran diaku-akui sebagai karya sastra dan banyak dibaca orang). Jangan pula lupa bahwa karya masterpis terpilih pun bisa nyata ibarat angin lalu belaka seiring buka-tutup halaman-halamannya. Ini semata tergantung bagaimana adab kita dalam membacanya.

Kerja badaniah membaca buku memang berujung di halaman terakhir, tapi daya dari apa yang kita baca seringkali baru mulai memuncak ketika halaman tersebut ditutup. Jika kepala Anda tidak berputar-putar setelah menyelesaikan suatu karya sastra, berarti ada yang salah dengan diri Anda—atau mungkin dengan diri penulisnya.

Selamat Adib Membaca, Taufan

——

GOETHE bilang, “Orang yang tidak dapat mengambil pelajaran dari masa tiga ribu tahun, hidup tanpa memanfaatkan akalnya.”

Dan SAYA juga mau bilang, “Orang yang tidak pula membijak dari buku tiga ribu jilid, hidup tanpa menggunakan nuraninya.”

Tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *