Satu Jari Roda Kehidupan

tulisan ini disusun oleh kak MJ (Maria Jeanindya) yang baru saja bergabung di Semi Palar di pertengahan tahun 2013 ini. Ini adalah salah satu prasyarat yang diminta sebelum seorang kakak bergabung menjadi fasilitator di Rumah Belajar Semi Palar. Saat ini kak MJ berperan sebagai kakak fasilitator di kelompok Orca (SD kelas 6). Selamat membaca. 
 
 

images (3)“Ibu, kenapa katong harus sekolah?” tanya seorang murid pada saya. Masyarakat beberapa desa di Fakfak Papua melihat kehidupan dari kacamata lain. Mereka mampu mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari dengan mengolah kekayaan alam yang ada. Dengan memancing, mereka tak perlu kuatir kelaparan. Bahkan saat musim pancing tiba, mereka bisa mendapatkan penghasilan lebih dari biasanya. Lalu, kenapa mereka harus memasuki institusi pendidikan? Mengapa mereka harus kuliah bila dengan hidup sederhana seperti itu mereka sudah bahagia?

Pertanyaan itu menggelitik saya. Sesederhana itu makna bahagia bagi mereka.

Lalu muncul pertanyaan lain, di mana sebenarnya fungsi pendidikan? Dan kenapa semua orang seharusnya, atau sebaiknya mengenyam pendidikan yang layak?

——

Anies Baswedan, Munif Chatib, Wei Lin Han, Nur Patiran (seorang guru asli Papua) adalah beberapa tokoh yang berhasil mencuci otak saya tentang makna pendidikan, dan arti ‘pendidik’. Dari mereka saya belajar dan melihat, bahwa pendidikan adalah elemen terpenting yang bisa memutar roda gerakan bangsa ini. Terdengar klise memang. Tapi saya mengamini pendapat klise tersebut.

Bayangkan sebuah roda sepeda yang ditopang oleh sekian banyak jari-jari. Karena jari-jari itu, roda dapat berputar, dan sepeda pun bergerak maju. Apa jadinya bila salah satu jari-jari itu hilang? Roda tetap bisa berputar, tapi sepeda tidak akan berjalan secara sempurna. Oleng, tidak seimbang, dan mungkin akan jatuh.

Sama halnya dengan roda kehidupan manusia. Bagi saya, pendidikan adalah salah satu jari-jari yang menopang roda kehidupan, yang membuatnya bisa berputar dengan sempurna. Meniadakan pendidikan bukan berarti roda kehidupan akan berhenti total. Tapi akan ada ketidakseimbangan dalam perputarannya.

Pendidikan bisa menjadi media untuk menanamkan nilai-nilai. Lewat instusi pendidikan usia dini, anak diajarkan kemandirian, keberanian dan tanggung jawab. Ia belajar bersosialisasi dan membangun relasi, mulai mengenal apa yang baik dan apa yang buruk. Pramuka, Wanadri, PMI, dan banyak organisasi lainnya juga menanamkan nilai-nilai lewat proses pendidikan. Nilai berbela rasa, ketangguhan, integritas, dan sebagainya. Saat bertugas di Fakfak, pendidikan adalah media saya untuk menanamkan nilai tentang berani bermimpi, berharap, dan memiliki cita-cita.

Pendidikan juga wadah untuk memberi pengetahuan tentang dunia luar. Bagi anak-anak yang tinggal di pedalaman Kapuas Hulu, misalnya. Mereka berpikir bahwa Indonesia tak lebih besar dari kampung dan kabupaten tempat mereka tinggal selama bertahun-tahun. Sebagian anak di Sangihe bahkan mengira bahwa gubernur mereka adalah Presiden RI. Lewat pendidikan seorang pendidik memberikan informasi tentang hal-hal yang tidak mereka lihat atau alami setiap hari.

Lewat pendidikan informal dari sebuah LSM Jerman, Marina (9), seorang anak down syndrome di Ciamis selamat dari gempa Tasikmalaya (2009). Saat gempat terjadi, tak ragu Marina mengambil helm di lemari, dan langsung bersembunyi di bawah meja. Persis seperti yang diajarkan para instruktur berminggu-minggu sebelumnya.

Melalui sebuah buku berjudul ‘Tepian Tanah Air – Wilayah Tengah Indonesia’, Abida Paus Paus (12) melihat bahwa Kampung Arguni bukan satu-satunya kampung yang menggunakan perahu ketinting. “Wah, dorang ternyata sama dengan kita, Ibu! Dorang juga pakai ketinting. Dorang pu pantai juga bagus!” ocehnya riang.

Pendidikan juga yang memudahkan para pendidik untuk mengenalkan apa dan siapa itu Indonesia. Institusi pendidikan mungkin seolah ‘mewajibkan’ tradisi upacara bendera. Tapi dari tradisi tersebut, seorang anak Indonesia belajar menghargai Merah Putih, belajar menanamkan nasionalisme dalam dirinya.

——-

Bicara tentang pendidikan, adalah omong kosong bila tidak berbicara tentang pendidik. Karena ‘pendidik’ adalah unsur terpenting dari pendidikan itu sendiri. Ini kalimat klise yang kedua. Tapi lagi-lagi, saya mengamini pendapat tersebut.

Kurikulum yang selalu berganti, dana BOS yang selalu diributkan, Ujian Nasional yang selalu menimbulkan kemelut bukannya tak penting bagi pendidikan. Tapi itu semua akan tidak berarti bila kualitas pendidik diabaikan. Kualitas seorang pendidik, yang akan menentukan arah pendidikan. Bukan soal kurikulum, Ujian Nasional, apalagi dana BOS dan sertifikasi.

Pendidik menjadi ujung tombak pendidikan saat proses penanaman nilai terjadi. Pendidik menanamkan nilai, dalam seorang makhluk Tuhan berakal budi, bernama manusia. Pendidik, punya andil dan tanggung jawab moral terhadap kehidupan manusia tersebut.

Saat institusi pendidikan menghasilkan seorang manusia yang jujur, berintegritas dan berbela rasa, pendidik ikut andil di dalamnya. Saat institusi pendidikan menghasilkan seorang manusia yang penuh kecurangan atau apatis, pendidik pun punya tanggung jawab moral atasnya.

Tugas sebagai pendidik punya pertanggungjawaban yang besar. Ia bukan satu profesi untuk coba-coba. Pendidik, berinvestasi atas seorang makhluk yang berakhlak dan berakal budi.

Pendidikan, adalah investasi terbesar sebuah bangsa. Dan pendidik, ikut iuran secara nyata dalam menentukan arah bangsa ini.

 

Maria Jeanindya

 

Tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *