Anak-anak bicara tentang Bumi Masa Depan

Kamis 22 Maret 2012. Pukul 07:30 mengajar di kelas 3 dan 4.

Dimulai dengan hearing session untuk kelas ini, yakni mendengarkan Jubing Kristanto – Mari Bergembira sebagai pembuka dan Beatles – When I’m Sixtyfour sebagai perkenalan membahas tema kali ini, yakni Petualang Waktu.

Aku tanya “Hmm, kalau kamu suatu hari umurnya 64. Seperti kata The Beatles ga ya? Temen-temen udah punya anak, pastinya Kak Galih udah kakek-kakek. Eh, sebelum kita ke masa depan, aku mau dongeng dari masa lalu dulu ya. Mari kita berangkat saat pertama kali manusia bermain alat musik. Setelah itu kita berangkat pada zaman mitologi Yunani tentang para Dewi Muse…” begitu kira-kira saya membuka perkenalan tentang Petualang Waktu dalam kaitannya dengan musik. Namun, saya cenderung suka anak-anak untuk sok tau terlebih dahulu, sebelum masuk pada wacana yang lebih luas, jadi saya gantungkan saja ceritanya dan saya ingin tau “Apa yang ada di pikiran anak-anak tentang masa depan mereka.” Lalu saya bilang “Bagaimana, kalau kita bikin lirik? Ketika kalian sudah tidak di sekolah ini lagi?”

Anak-anak membagi menjadi 2 kelompok. Saya melihat kecenderungan, siapa yang mengendalikan tema dan siapa yang melanjutkan ide membuat lirik yang mereka buat.

Kelompok 1 bercerita ketika mereka pernah bermain dan belajar menyenangkan di sini. Ada satu ba’it lirik menarik di kelompok ini: Di masa depan, kita semua akan lebih bertanggung-jawab. Pada ba’it sebelumnya mereka bercerita tentang suka-duka di sekolah ini, mereka ingin sekali ngobrol dengan Kepala Sekolah ketika mereka lulus dari sekolah ini dan berbincang tentang banyak hal seputar sekolah ini dan ketika saya tanya “Aku ingin ngobrol apa aja, Kak. Aku juga ingin berbagi pendapat tentang sekolah dan pengalaman selama aku sekolah di sini.” Saya anggguk-angguk, “Oke, kalian berani ga?” Mereka bilang, “Ya berani dong, Kak!”

Kelompok 2 menulis tentang pertemuan di masa depan. Ketika kakak-kakak pengajar rambutnya mulai memutih, mereka mengadakan reuni di masa depan nanti, lucunya dalam satu reuni nanti… kata anak-anak “Semua laki-laki rambutnya botak, Kak! Tapi kalo Kak Wilman, biarpun udah tua tapi tetep funky!” :))

Sayangnya, waktu pertemuan ini hanya 1 jam saja. Jadi… sampai jumpa teman-teman! Cerita kalian hebat, semoga di pertemuan selanjutnya ada ide-ide yang tidak saya perkirakan datang dari kalian, lebih dari saat ini.

***

Selanjutnya, pukul 08:30, saya di kelas 1 dan 2. Baru saja masuk “Kak! Ayo bikin lagu lagi!” berisik sekali ketika saya datang, “Bikin tarian juga, Kak!” saya jawab “Oke, berarti kita bikin lagu lagi ya?”

Pada pertemuan sebelumnya di semester lalu, anak-anak sempat membuat lagu bersama, yakni Kumba-Kumba, tentang kehidupan Kumba-Kumba di laut. Sepertinya mereka kurang puas ya…, sebab sebagian besar lagu ini saya yang buat (hahaha). Jadi kali ini, saya serahkan sepenuhnya dalam pembuatan lirik teman-teman kelas 1 dan 2 yang menangani.

“Temen-temen, kira-kira di masa depan bagaimana ya?” saya buka pertanyaan. Dan, ada jawaban menarik dari pria kecil berkaca mata, “Banyak pohon, Kak!” saya tanya lagi, “Kenapa?” dia menjawab, “Kan, kita semua yang tanemin pohon, Kak.” Hmm…

“Terus, ada apa lagi?” perempuan kecil berambut keriting bilang “Robot penanam bunga!”

Wah! Jawaban-jawaban semakin banyak: Kulkas pemasak nasi, berangkat sekolah pakai jet-pack, mobil tanpa bahan bakar, rumah bersayap dan lain-lain, sampai papan tulis penuh! :))

Kak Opan dan Kak Yudha membantu anak-anak agar terus memberikan pendapat mereka. Lalu, kita mulai merancang lirik dari ide-ide yang diberikan teman-teman Tarsius (Kelas 2) dan Kanguru Dahan (Kelas 1). Ini hasilnya:

klik untuk mendengarkan lagunya :
BUMI MASA DEPAN

Di masa depan,
ada banyak pohon,
robot-robot pintar,
dan kulkas pemasak.

Hey!
Robot penanam bunga!
Rumahku di angkasa, sekolah pakai jet-pack!

Di masa depan,
semua bahagia,
ramah lingkungan,
tak ada polusi.

 

***

Ternyata hari ini, selama saya menemani teman-teman dari kelas 1 sampai kelas 4. Tidak ada masa depan yang menyedihkan. Masa depan, adalah sesuatu yang menyenangkan sebagaimana ujar teman-teman “Di masa depan, kita semua akan lebih bertanggung-jawab.”

Hampir tidak ada yang menyebut masa depan seperti di film Wall- E, atau mengenai kehancuran dunia seperti di film-film Hollywood.

“Di masa depan, kita semua akan lebih bertanggung-jawab.” Semoga ini menginspirasi dan saya cukup malu dengan apa yang diungkapkan anak-anak. Semoga…, kamu juga.

* Aku tidak mencantumkan nama anak-anak, sebagai alasan: semua anak ikut berpendapat dan tidak semuanya bisa tertulis di sini. 🙂


Tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *