memanfaatkan kertas bekas

 

image

 

Penting kita sadari bahwa sekolah ataupun kampus (institusi pendidikan) adalah unit aktivitas yang sangat-sangat konsumtif dalam hal penggunaan kertas. Entah berapa ratus kilogram kertas dihabiskan seorang pelajar dalam proses belajarnya sejak bangku TK hingga perguruan tinggi. Mulai dari buku buku teks, buku buku latihan dan PR, kertas-kertas ulangan atau ujian dan lembar-lembar pengumuman. Untuk kertas-kertas yang dipergunakan, sejumlah pohon akan ditebang dan hutan-hutan akan digunduli. Jumlah yang sama juga akan kemudian beralih menjadi limbah, menjadi sampah kertas yang akan ikut menjadi timbunan sampah di mana-mana. Ironisnya, lulusan sistem pendidikan kita juga yang akhirnya menjadi pengusaha kertas, pengusaha kayu dan ikut menebangi jutaan hektar hutan di Indonesia untuk dijadikan sumber penghasilan mereka.

Kira-kira sekitar tahun 2008, pada tahun ketiga perjalanan Rumah Belajar Semi Palar, kami memutuskan untuk memanfaatkan kertas bekas (kertas yang sudah terpakai di satu sisi) untuk kebutuhan kegiatan pembelajaran di Semi Palar. Ini sebuah pilihan yang kami ambil dengan berpijak pada konsep pendidikan holistik. Di dalam konsep ini, kesadaran lingkungan atau kesadaran ekologi merupakan bagian integral dari pembelajaran dan kegiatan sehari-hari. Membangun kesadaran lingkungan – kami yakini tidak dapat efektif dilakukan melalui pendekatan pendidikan yang parsial seperti misalnya melalui mata pelajaran PLH yang diajaran kepada murid satu jam dalam seminggu. Sementara di jam-jam pelajaran lainnya, guru-guru dan mata pelajaran lainnya tidak mengambil sikap apapun terhadap isu-isu ekologi atau lingkungan hidup.

Hal ini seakan tampak sederhana, tapi sejauh ini kami amati ‘melekat’ cukup kuat di dalam kesadaran anak-anak di Semi Palar. Apabila dihitung secara kasar, sejak tahun 2008, Semi Palar sudah memanfaatkan lebih dari 3 ton kertas bekas. Hal ini berarti bahwa kita sudah mengurangi konsumsi kertas baru dalam jumlah yang sama sekaligus tidak menyumbangkan 3 ton limbah kertas setelah proses pembelajaran selesai dilakukan.

Bagi kami banyak pembelajaran yang diperoleh sebagai konsekuensi dari pilihan kita ini. Bersama ini kita bagikan beberapa tips agar hal ini dapat diterapkan dengan baik:

  • Pertama-tama orangtua harus mendapatkan penjelasan yang memadai tentang latar belakang, tujuan dan motivasi sekolah mengambil keputusan memanfaatkan kertas bekas.
  • Libatkan orangtua murid untuk ikut serta menyediakan / memasok kebutuhan kertas bekas ini. Orangtua yang berprofesi sebagai dosen atau bekerja di kantor dapat membantu menyediakan kertas bekas bagi kebutuhan putra-putrinya di sekolah.
  • Yakinkan bahwa bagian kertas yang terpakai tidak memuat konten yang tidak sesuai bagi konsumsi anak, karena kemungkinan anak ikut melihat / membacanya. Sekolah dapat membuat sistem sederhana untuk semaksimal mungkin menjaga agar hal-hal tersebut tidak terjadi.
  • Pilah untuk kebutuhan apa saja kertas bekas dapat efektif dimanfaatkan. Dalam beberapa situasi, pemakaian kertas bekas memang berpotensi mendistraksi anak dari apa yang seharusnya dikerjakan. Guru perlu membangun kemampuan anak untuk memfokuskan diri terhadap apa yang disajikan guru di lembar-lembar kerja yang menggunakan kertas bekas.

Konsistensi menerapkan hal ini akan berperan dalam menanamkan cara pandang dan kesadaran di dalam diri anak-anak bahwa kita bisa melakukan hal-hal kecil dan sederhana sehari-hari yang apabila dilakukan terus menerus berdampak besar bagi lingkungan hidup kita dan bagi hidup kita sendiri. Di dalam prosesnya saat anak berusia cukup, guru bisa mengajak anak untuk memahami, apa, kenapa hal ini kita lakukan bersama-sama (guru, anak dan orangtua) di sekolah. Lewat cara sederhana ini, kita bisa perlahan-lahan membangun kesadaran ekologis di dalam diri anak-anak kita…

wpid-IMG_6260670839741-1.jpg

Tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *