[studi mahasiswa] tangan-tangan ajaib

Ternyata, ketika kita merasa banyak tahu akan sesuatu, pada saat yang bersamaan banyak hal yang tidak kita ketahui. Itulah yang disadari sebagai sebuah proses belajar tiada henti. Belajar sepanjang hidup untuk kehidupan. Setidaknya itu yang menjadi refleksi diri ketika muara perkuliahan telah terlalui. Muara itu bukan akhir. Akan tetapi, muara itu kemudian membawa kita pada satu samudera kehidupan yang sangat luas. Dan semua itu harus kembali dilalui.

Saya berterima kasih pada Semi Palar, melalui Mas Andy, Ibu Lyn dan kakak-kakak pengajar serta adik-adik semua atas apresiasi pada hasil skripsi saya mengenai salah satu kehidupan di Semi Palar. Meskipun sangat sederhana, saya menyadari banyak hal ternyata yang saya tidak ketahui mengenai Semi Palar dan sistem persekolahan yang kompleks. Banyak kekurangan di sana sini. Dan, semoga saya dapat membenahi kekurangan itu di jenjang studi yang lain. Amin.

Kekurangan. Hal itu yang membuat saya berfikir keras ketika menghadapi hujaman pertanyaan dan pernyataan dalam sesi sidang sarjana. Mungkin, bagi sebagian orang sidang lekat dengan acara “pembantaian” dosen pada mahasiswanya dan setelah itu selesai maka selesailah itu semua. Akan tetapi, apa yang saya alami tampak tidak seperti itu. Sidang bukan menjadi jatah waktu atau undian yang diberikan bergantian pada mahasiswa yang antri untuk dipanggil. Ternyata bukan itu. Saya baru menyadari bahwa dosen-dosen di Jurusan Antropologi memiliki dedikasi yang tinggi. Dedikasi terhadap satu kemampuan deskripsi analisis seorang mahasiswa yang kelak berguna dikemudian hari. Saya sadari itu.

Sedari awal saya menyadari makna akan sebuah proses panjang. Orang lain mungkin menilai begitu saja tanpa memahami tahapan yang saya lalui. Maraton. Itulah sekiranya perumpamaan perkuliahan. Tidak harus menyia-nyiakan waktu, menunggu semuanya usai baru segera memulai. Saya fikir tidak seperti itu. Jauh-jauh hari saya telah mengawali jejak langkah pertama. Tidak harus terburu-buru memang, tetapi tidak pula sangat lambat atau terhenti tanpa sebab. Pada waktunya memang harus berlari kencang. Langkah awal memberikan arti penting dalam proses pembelajaran. Dan saya melalui tahapan-tahapan itu semua.

Terdapat hal essensial yang saya sadari kemudian. Ternyata, sehebat apa pun manusia tetaplah manusia. Orang yang mengklaim dirinya “tak bertuhan pun” satu ketika tengah sakit mengharapkan “sesuatu” untuk menyembuhkannya. Saya yakin  itu.  Saya bukan seorang pengkaji teologi yang begitu memahami essensi Tuhan begitu dalam. Saya kerapkali memahami Tuhan di jalanan, di kamar kosan, di kampung, di mall, di pasar dan banyak tempat lainnya. Saya fikir rumah Tuhan tidak terbatas dinding. Maha Besar Kekuasaan Allah. Tahapan penulisan skripsi tidak semata upaya diri ini saja. Akan tetapi saya meyakini banyak tangan-tangan Allah yang memberikan kemudahan untuk itu semua. Penghambaan diri, doa orang tua, doa guru-guru, sedekah kita, empati kita dan banyak lagi yang mengulurkan tangan-tangan ajaib itu. Saya yakin itu.

Banyak hambatan yang saya temui ternyata banyak pula kemudahan yang saya dapatkan. Doa menjadi penggenap harapan kita semua. Doa menyeruak ketika kita mengagungkan kebesaran Tuhan. Ketika kita menyadari diri ini yang begitu fana. Refleksi ini yang menjadi bahan diskusi saya dengan teman-teman yang lain mengenai essensi perkuliahan. Hal yang utama adalah upaya digenapkan oleh doa. Mintalah doa pada orang tua, guru, keluarga, teman dan siapa pun itu, sedari kita tetap bernapas. Jangan putus berdoa. Sesederhana apa pun doa itu.

Semi Palar menanamkan doa menjadi bagian dari kehidupan sekolah yang tidak terpisahkan. Saya berharap doa-doa kecil itu dibawa ke rumah, jalanan, kampung, pasar, kebun, hutan, mall dan banyak tempat lain. Doa kecil yang membuat kita tidak lupa apa yang terjadi dikanan-kiri kehidupan kira semua. Semoga kita semua tetap menjadi bagian dari kebaikan.

Terimakasih atas kesediaan membaca refleksi ini. Salam.

 

Purwakarta, 18 Oktober 2008

Ridwan Nugraha
Refleksi untuk majalah dinding Semi Palar – paska penelitian skripsi di jurusan Antropologi Unpad tahun 2008.

Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *