[artikel] Model Pendidikan ala Bang Maman

 

oleh Acep Iwan Saidi

Lembar Kerja Siswa (LKS) kelas 2 SD tentang istri simpanan pada kisah “Bang Maman dari Kali Pasir” yang menghebohkan beberapa waktu lalu itu memang telah ditarik dari peredaran. Tapi, apakah hal tersebut merupakan tindakan yang bisa menghapus kasus hingga ke akarnya? Pasti tidak serta-merta dapat. Sebab soal mendasarnya sebenarnya bukan pada penampilan kisah Bang Maman semata, melainkan pada cara bagaimana para pengelola pendidikan kita mempersepsi teks dan mengajarkan cara membaca kepada siswa yang berhenti di lapis permukaan (surface structure). Teks (bacaan) hanya disikapi sebagai sejumput bahasa yang steril dari konteks, bahasa yang dibersihkan dari realitas di luar dirinya.

Hal tersebut tentu saja berkaitan dengan cara bagaimana pengetahuan dikonstruksi. Pengetahuan hanya dikumpulkan, bukan ditempatkan sebagai bahan dialog, apalagi dianalisis. Lihatlah, hal ini bahkan terjadi pada bidang-bidang yang menyangkut pendidikan moral, etika, dan karakter. Pelajaran menyangkut perilaku siswa tersebut hanya selesai sebagai “kumpulan pengetahuan” yang keluarannya (output) berupa kisaran angka-angka di buku rapor dan ijazah.

LKS tentang Bang Maman mengganggu sebab secara kebetulan materinya menyangkut hal yang sensitif semata-mata. Jika pada LKS itu dikisahkan tentang Bang Maman sebagai pegawai kantoran yang memiliki tiga orang anak dan hidup bahagia di Jakarta, misalnya, pastilah ia akan dianggap tidak bermasalah. Kita tidak akan pernah bertanya, untuk apa dan mengapa teks semacam itu ditulis untuk anak SD Kelas 2? Bagaimana kaitan teks itu dengan pengajaran yang mengkonstruksi pengetahuan (juga karakter) siswa? Bukankah kita pun tidak pernah bertanya, dan guru tidak pernah menjelaskan, mengapa terdapat kalimat “ini Budi”, Pak Harun guru Budi, Bu Ani guru Wati”, dan seterusnya pada buku pelajaran cara membaca di kelas I SD masa orde baru? Pada pelajaran lain, kita juga tidak pernah mengerti dan memahami teks lagu Indonesia Raya, kecuali  hanya menghapal tangga nada dan deretan not baloknya? Kita hanya diajarkan dan dianjurkan untuk menyamakan suara sebelum syair lagu tersebut dilantunkan dalam upacara penaikan bendera.

Membaca Menamai

Itulah model pengajaran dalam sistem pendidikan kita, yakni pengajaran yang memberikan pengetahuan dengan bertumpu pada pertanyaan “apa ini atau apa itu”, bukan “mengapa ini mengapa itu”.  Jawaban atas pertanyaan “apa ini apa itu” meniscayakan lahirnya berbagai uraian definitif yang diandaikan sebagai kebenaran yang harus diterima tanpa syarat. Di situ, pengetahuan adalah sejumput bahan baku yang siap dimasukkan ke dalam mesin putar pembelajaran. Ia disiapkan untuk menjawab soal-soal ujian yang diberikan guru atau, dalam konteks ujian nasional, diformat oleh negara, yang umumnya berupa soal pilihan ganda. Kita mengetahui bahwa dalam soal ujian model ini siswa hanya boleh menjawab dengan jawaban yang telah disediakan. Tentu saja ini sebuah paradoks: dalam soal pilihan ganda  sebenarnya tidak ada pilihan. Siswa dipaksa memungut salah satu jawaban yang disediakan, yang pilihannya itu diandaikan tersedia dalam pengetahuan berbasis apa ini apa itu tadi. Jelaslah di situ bahwa sistem pendidikan kita memang telah membunuh kreativitas sejak siswa menerima pengetahuan pertama hingga bagaimana pengetahuan itu diuji, dalam berbagai jenjang.

Merujuk pada Heraty (dalam STA, 1980) yang membicarakan topik kreativitas berdasarkan teori phisiologi I.P. Pavlov, cara bagaimana pengetahuan diterima seperti di atas berada pada level kondisioning semantik. Level ini mengidentifikasi tingkat kemampuan indvidu merespons realitas hanya berada batas penamaan, atau pemaknaan melalui bahasa, signals of signals, yang oleh A.R Luria dianggap sebagai jalan pintas dalam proses belajar. Seseorang yang produktif berkarya, tapi karyanya biasa-biasa saja, misalnya, bisa dikategorisasi bahwa kemampuan kreatif orang tersebut hanya berada pada level ini juga.

Dihubungkan dengan cara membaca, kondisi tersebut berbanding lurus  dengan peristiwa ketika siswa diajari mengenali Budi lewat deretan huruf sebagaimana telah disinggung. Mengacu pada pendapat Adler dan Van Doren (1972), cara membaca demikian berada pada level dasar, yakni sebatas mendapat informasi dari sederet huruf, kata, atau kalimat: sebuah respons menamai. Kita tahu kemudian, cara membaca seperti ini bukan hanya terjadi di tingkat dasar, tapi juga di sekolah menengah dan perguruan tinggi.

Akibat paling tampak dari cara membaca tadi adalah minimnya kemampuan menulis para siswa, mahasiswa, juga tenaga pengajar. Mengapa demikian? Sebab untuk mampu menulis seseorang harus mampu membaca lebih dari sekedar menamai dan mengumpulkan informasi: seseorang harus mampu membaca secara kreatif (kondisioning kreatif). Membaca kreatif adalah mempertanyakan informasi yang tertera di dalam teks bacaan. Cara membaca demikian memungkin seseorang selalu penasaran untuk mencari dan membandingkan berbagai informasi dari berbagai sumber. Bagi seorang penulis yang baik, buku yang dijadikan sumber tulisannya bukanlah gudang ilmu sebagaimana dimitoskan masyarakat kita, melainkan teman berdialog. Hanya dengan cara membaca demikian pengetahuan-baru dapat dikonstruksi.

Untuk menuju pada kondisi tersebut, jelas yang harus dilakukan bukan hanya menarik LKS yang berisi kisah miring macam Bang Maman. Para pengelola kebijakan pendidikan, dalam hal ini terutama Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, mesti insyaf bahwa bagian terpenting dari pembelajaran adalah cara membaca sekaligus menyeleksi teks bacaan. Tentu saja, keinsyafan itu mesti diikuti oleh tindakan konseptual dan konkret, yakni membenahi sistem pendidikan nasional hingga ke akarnya. Jika tidak, selamanya pendidikan kita akan tetap berputar-putar pada “kisah Bang Maman”

***Acep Iwan Saidi, Ketua Forum Studi Kebudayaan ITB.

 

Tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *