[studi mahasiswa] The Way Teacher Creates a Positive Energy

 

Berawal dari ketertarikan saya pada sistem pembelajaran Smipa, sejak awal kunjungan saya bersama ketua program studi sastra Inggris Unpas dan teman teman mahasiswa ke Rumah Belajar Semi Palar. Entah kenapa semakin terbayang-bayang pertanyaan efektif kah pembelajaran secara konvensional? Personally, saya menjawab tidak. Bila dibandingkan dengan yang saya lihat, yaitu baiknya upaya Smipa sebagai wadah untuk saling belajar, dalam menciptakan pembelajaran yang mendalam, dengan diterapkannya pendekatan holistik dan pembelajaran tematik. Dimana seperti yang kita tahu bahwa pembelajaran di sekolah konvensional lebih bersifat teoritis, adapun praktik, namun intensitasnya lebih sedikit dibandingkan dengan pembelajaran statis di kelas, setiap harinya. Sedangkan kebutuhan anak tidak hanya pada kognitifnya saja melainkan afektif dan psikomotornya juga harus dilibatkan.

Martha Graham mengatakan “I believe that we learn by practice. Whether it means to learn to dance by practicing dancing or to learn live by practicing living, the principles are the same”. Betapa pentingnya praktik dalam suatu pembelajaran, kadang, ilmu yang diajarkan terlupakan, akibat pembelajarannya bersifat teoritis, karna tidak adanya pengalaman mereka mengamalkan ilmu tersebut.

Pembelajaran di Smipa saya fikir komplit, karna melibatkan kognitif, afektif dan psikomotor dimana semuanya memang harus seimbang. Maka dari itu saya tertarik untuk menjadikan Smipa sebagai subjek penelitian untuk skripsi saya, yang diberi judul “An Analysis of Classroom Management in Teaching and Learning English of 6th Grade at Rumah Belajar Semi Palar Bandung”, dan pada tanggal 25 Agustus hingga 7 Oktober 2013 saya melakukan observasi kelas, khususnya di kelas 6.

Observasi ini dimaksudkan untuk mengetahui seperti apa manajemen kelas di Smipa, sehingga kemampuan berbicara bahasa Inggrisnya cukup baik untuk usia mereka. Observasi ini juga bertujuan untuk mencari tahu apa saja instruksi guru selama pembelajaran, sejak pelajaran dimulai hingga berakhir, lalu seberapa persentase Teacher Talking Time (TTT) dan Student Talking Time (STT), bagaimanakah seating arrangement-nya, hingga peran atau usaha guru dalam melibatkan anak dalam aktivitas belajar dan mengajar.

Seperti yang saya ketahui, Smipa merupakan sekolah yang menerapkan pendekatan holistik, dan pembelajaran tematik yang aktif, yang saya bayangkan manajemennya pun akan berbeda dengan di sekolah konvensional. Setelah saya melakukan observasi ternyata instruksi guru terhadap siswa tidak terlalu berbeda, karena kebetulan yang saya teliti adalah kelas 6, khususnya pada jam pelajaran bahasa Inggris. Dimana kelas 6 tidak terlalu diberikan materi pelajaran baru, melainkan mengulang apa yang telah dipelajari dikelas-kelas sebelumnya, sehingga instruksi guru untuk pada siswa untuk melakukan suatu aktifitas/memanage kelas tidak terlalu variatif.

Namun ada satu perbedaan yang saya tangkap dan itu sangat positif, yaitu instruksi guru pada siswa yang bertujuan untuk menstimulasi pemikiran anak, seperti sebelum memulai pelajaran siswa diberikan PR di hari sebelumnya, yaitu siswa diinstruksikan untuk mencari atau mempelajari hal-hal yang bersangkutan dengan materi, dan mereka memang tidak menggunakan buku paket seperti sekolah lainnya, sehingga itu melatih siswa menjadi lebih terbuka dalam mencari materi tersebut dari berbagai sumber karena ilmu pengetahuan sangatlah luas dibanding harus terpatok pada satu buku acuan. Trik pengajaran tersebut juga menjadikan anak lebih mandiri, dan lebih aktif. Dihari berikutnya siswa pun diminta untuk menceritakan apa yang telah mereka pelajari, sehingga disini siswa lebih aktif dibanding guru, ilmu bahasan pun kan menjadi luas karena kemungkinan sumber belajar setiap siswa berbeda, dan mungkin juga ini cara guru untuk melatih tanggung jawab siswa. Miss. Miming, yang merupakan pengajar bahasa Inggris di Smipa mengatakan bahwa pentingnya membangun keinginan siswa untuk belajar, dan inilah salah satu caranya. Saya fikir ini sangat positif.

Secara tidak langsung itu menjawab research problem selanjutnya, yaitu seberapa banyakkah waktu bicara siswa maupun guru. Setelah melalui proses penghitungan, bila dipersentasekan dihari pertama penelitian kelas lebih aktif, yaitu TTT (Teacher Talking Time) sebanyak 32%, sementara STT (Students Talking Time) mencapai 53%. Di hari ke-dua TTT sedikit lebih banyak dari STT, TTT sebanyak 35,8% dan STT 33,63%. Sementara di hari ke-tiga persentase waktu bicara siswa kembali lebih banyak yaitu TTT mencapai 38,4% dan TTT sebanyak 55,8%. Dari data diatas saya simpulkan bahwa dikelas bahasa Inggris ini pembelajarannya siswa lebih aktif, dan guru hanya sebagai fasilitator dan pembimbing.

Dalam aktifitas pembelajaran bahasa Inggris, pengaturan tempat duduk siwa bersifat kondisional, dimana tempat duduk mengikuti posisi belajar sebelumnya, ataupun disesuaikan dengan kegiatan pembelajaran yang akan dilakukan, seperti siswa duduk melingkar tanpa kursi dan meja, dengan tujuan agar guru dan siswa menjadi lebih intens, dan siswa lebih memperhatikan guru, dikarenakan pada saat itu guru membacakan sesuatu yang harus siswa tuliskan

Satu lagi yang sangat saya suka dari pembelajaran di Smipa khususnya di kelas ini, yaitu cara guru dalam memicu keterlibatan siswa di aktifitas belajar mengajar. Kita tahu bahwa salah satu tujuan Smipa adalah dalam pembelajarannya siswa melibatkan body, mind and soul dimana itu mencakup kognitif, afektif dan psikomotor sehingga pembelajaran anak akan seimbang. Salah satu cara memunculkan keterlibatan anak dalam pembelajaran adalah dengan merangsang pemikiran anak. Secara tidak langsung dengan cara itu akan meingkatkan rasa keingintahuan anak, saat keinginan belajar anak timbul maka mereka akan interest dalam pembelajaran, dan tentunya itu akan melibatkan jiwa mereka dalam pembelajaran.

Sejauh ini hasil observasi sangatlah positif, dan saya sebagai pengamat mendapatkan energi positif tersebut, semoga hasil observasi ini pun dapat bermanfaat, baik itu untuk di-copy kebaikannya maupun untuk lebih dikembangkan lagi. Inilah nilai-nilai positif yang dapat diterapkan:

  • Guru yang menginstruksikan siswa untu mencari informasi sebelumnya, sehubungan dengan materi yang akan diajarkan sedikitnya menjadikan siswa terlibat langsung dalam pembelajaran dan siswa lebih mandiri.
  • Guru yang sedikit menerangkan namun lebih banyak memberi instruksi dalam pembelajarannya membuat siswa menjadi aktif dan curious.
  • Cara guru menstimulasi keterlibatan siswa dalam pembelajaran adalah dengan menstimulasi pemikiran anak dan membangun kemauan belajar anak.

disusun oleh Yuni Hapsyah
mahasiswa tingkat akhir Jurusan Sastra Inggris Universitas Pasundan

Tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *