[artikel] Membangun Kembali Rumah Budaya yang Roboh

Teknologi informasi dengan logikanya sendiri telah berinteraksi dengan user-nya di seluruh dunia. Dunia tak berjarak lagi dan batas nation tak lagi kuasa mengatur. Budaya dunia menjadi hampir seragam. Inilah globalisasi.

oleh : Amir Sodikin

 

Seharusnya ini kesempatan masyarakat sipil untuk bertumbuh dan berkembang. Asal memiliki satu kunci, yaitu jangan sembunyi, apalagi lari dari identitas lokal.

Namun, ternyata Indonesia yang kaya budaya itu tak percaya diri. Memilih melebur dengan budaya anonim bergaya global. Sayangnya, etosnya makin melempem. Indonesia makin kehilangan identitas. Hanya menjadi kumpulan orang-orang yang tak lagi memiliki akar local culture. Keindonesiaan dengan kebhinekaan dan kebesaran Nusantaranya itu kini tak berarti apa-apa menghadapi gejolak-gejolak budaya luar.

Di saat kekuatan nation sedang tidak sehat dan gempuran budaya global tak terelakkan, semangat sukuisme dan provinsialisme makin menguat. Terkadang keluar dari konteks keindonesiaan. Seorang panelis mengungkapkan keprihatinan yang mendalam terhadap persoalan ini. Jika tidak segera diselesaikan, maka proses “state building” bisa gagal.

Aset natural, sosial, politik, dan budaya terus mengalami kebangkrutan dan bisa menjerumuskan pada proses “self-destroying nation“, penghancuran nation dengan sendirinya. Paradoks global memang sedang terjadi di Indonesia. Negeri agraris dan memiliki konten lokal yang kuat itu sedang memimpikan menjadi masyarakat modern dan tanpa disadari dengan gembira telah menanggalkan identitas lokalnya.

Persoalan identitas dan krisis budaya ini memiliki kaitan talitemali dengan variabel lain sehingga harus segera dipetakan secara komprehensif spektrum permasalahannya. Tujuan akhirnya mencari prioritas penyelesaiannya.

Sejarah bangsa-bangsa membuktikan, semua negara atau bangsa yang ingin maju harus memiliki modal akar budaya lokal. Negara kecil seperti Jepang, misalnya, kental sekali kejepangannya. Begitu pula China, khas dan jelas. Negara muda seperti Inggris dan Australia juga memiliki konsep yang kuat untuk masalah identitas lokal ini.

 

Rumah budaya

Bagaimana dengan Indonesia? Kata seorang panelis, sesungguhnya kaya sekali, namun justru karena kekayaannya itu menjadi salah manajemen dan malah rusak. Akibatnya, budaya unggul yang berakar pada budaya lokal itu tak menemukan rumah budayanya.

Indonesia sebenarnya memiliki Aceh, punya Minang, juga Sunda, Bugis, Dayak, Jawa, dan masih banyak lagi. Namun selama Orde Baru, rumah budaya itu dibiarkan lapuk dan hancur, sementara pada tingkat atas hukum politik berantakan. Jelas saja rumah budaya itu tak menghasilkan putra-putra terbaiknya untuk maju ke pentas nasional, regional, apalagi internasional.

Karena itu, sekarang ke depannya bagaimana Indonesia bisa menghargai lagi kekayaan lokal itu. sebagai basis identitas nasional. Membentuk karakter bangsa dengan disertai penegasan identitasnya agar tak lagi mudah dipenetrasi budaya luar.

Budaya lokal nilah yang akan memberikan kontribusi identitas nasional. Identitas nasional tanpa punya akar lokal akan rapuh. Terlebih jika berbenturan dengan peradaban global tanpa akar nasional akan semakin rapuh.

Akhir-akhir ini kita telah kehilangan kekuatan ke dalam dan tak memiliki kepercyaan untuk melahirkan manusia-manusia unggul. Selalu minder, selalu tak yakin bahwa budaya lokal bisa menjadi modal di kancah global.

Kini yang bisa dilakukan adalah bagaimana kembali mengaudit aset budaya yang tercerai-berai dan sudah ditinggalkan itu. Aset-aset budaya ini bisa berasal dari komunitas etnis, bisa juga aset-aset unggulan pada pribadi. Nilai-nilai universal bisa memperkaya budaya unggul dan bisa bertemu dengan nilai-nilai lokal secara saling melengkapi, tidak harus saling berbenturan. Indonesia yang baru juga harus mampu membaca tren kompetisi global. Tanpa kemampuan membaca, Indonesia bisa terkungkung.

Tak bisa dipungkiri, masyarakat Indonesia masih membutuhkan munculnya pribadi-pribadi yang memberikan sumber inspirasi atau panutan pada masing-masing lingkungan. Mulai lingkungan sosial masyarakat, korporasi, hingga birokrasi.

Belajar kepada perjalanan sejarah dunia, Islam pernah besar karena dia punya sifat akomodatif dan apresiatif pada budaya Yunani, India, juga pada ajaran Plato dan Aristoteles. Amerika Serikat, kata seorang panelis, juga menjadi negara besar karena ada keterbukaan untuk menerima. Begitu pula sejarah Jepang.

Jadi semua peradaban besar yang pernah dilahirkan di dunia adalah hibrida, tapi dia punya akar identitas dan karakter ke dalam. Jika dia tidak punya karakter ke dalam, maka niscaya peradaban agung itu bisa roboh.

Dalam konteks ini, sebenarnya Indonesia kaya sekali. Hanya dibutuhkan suatu visi agar Indonesia ke depan bisa diselamatkan. Para panelis mengidentifikasi dua hal yang harus ditancapkan bersama pengukuhan budaya, yaitu dengan pendidikan yang bagus dan dengan pemberdayaan masyarakat.

Masyarakat harus kembali diingatkan untuk dilibatkan dan berpartisipasi dalam proses state building. Saatnya masyarakat bersama-sama mengaudit aset-aset budaya yang ada untuk membangun kembali rumah budaya Indonesia agar tak roboh diterjang tsunami sekalipun.

Jangan sampai masing-masing sibuk dan hanya peduli pada rumahnya masing-masing. Partai politik jangan sibuk sendiri menimbun modal, begitu pula perguruan tinggi jangan sampai hanya sekadar menjadi menara gading. Semua pihak diharapkan terlibat untuk membangun rumah Indonesia dan bersama-sama melahirkan macan-macan Asia. Setidaknya.

 

Kompas, Sabtu 10 Desember 2005

Tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *