[artikel] Bagi Seorang Anak, CINTA dibaca W.A.K.T.U

 

tangan ortu dan anak Sudah tak terhitung banyaknya saya mendengar orangtua yang mengatakan bahwa ia bekerja keras tujuan utamanya adalah agar anak-anaknya tidak mendapatkan kesusahan seperti dirinya.

Dalam jumlah yang kurang lebih sama pula,saya mendengar para ortu mengeluh bahwa anaknya sangat manja dan tidak mempunyai semangat, ketekunan atau kegigihan seperti dirinya.

Tidak usah saya menyimpulkan kedua kalimat diatas, saya percaya kita semua sudah mengetahui mengapa anak-anak di jaman sekarang tidak mempunyai keuletan seperti masa lalu.

kelangkaan adalah hal yang penting yang saat ini sudah menjadi langka di kota bahkan juga di daerah. Tersedianya TV dan gadget hadiah dari ortu membuat anak malas bergerak, apalagi ditambah dengan fasilitas mobil yang mengantar anak tepat dipintu sekolah. Alasan polusi, kecelakaan, juga penculikan anak memang terlihat masuk akal untuk memproteksi anak pergi sendiri ke sekolah dengan berjalan atau naik sepeda, namun bagaimana dengan kebutuhan manusia, apalagi anak, untuk bergerak? apakah orangtua menyediakan waktu untuk bermain atau mengajak berjalan-jalan disore hari?

Riset menunjukkan bahwa anak yang tidak sarapan namun berjalan, naik sepeda atau berolahraga dipagi hari sebelum sekolah akan mendapatkan konsentrasi lebih dibandingkan anak yang sarapan namun tidak bergerak cukup.

Ya, bagaimana dengan hal makanan, rasanya kita sekarang lebih banyak yang memasang program di otak bahwa “lebih banyak itu lebih baik daripada lebih sedikit” dengan kata lain kalau mau membeli sesuatu (utamanya makanan) lebih baik dibanyakin daripada nanti kekurangan. tindakan ini tentu didasari oleh ketakutan (fear based).

“Anak kurang pintar kalau kurang nutrisi atau anak terlambat perkembangannya kalau kurang makan” telah menjadi keyakinan kuat yang membuat orangtua lupa kenyataan yang ada. Kenyataan itu adalah bahwa para ahli, filsuf atau orang-orang hebat di masa lalu mempunyai otak cemerlang bukan karena nutrisi yang dijejalkan berlebihan seperti sekarang ini, bahkan dugaan saya mereka tidak mendapat lebih dari 1/2 porsi nutrisi seperti AA, DHA, Kholin atau sejenisnya yang sering kita yakini sebagai hal yang akan membentuk kepintaran.

Ingatkah kita dimasa lalu dimana pemainan tidak selengkap seperti saat ini, anak dipicu kreatifitas otaknya untuk membuat sesuatu dari bahan yang ada, seperti mobil-mobilan dari kulit jeruk, wayang dari karton bekas dan banyak lainnya. lihatlah disetiap marathon, bagaimana negara-negara Afrika selalu mendominasi, padahal kita semua tahu bagaimana kondisi kelangkaan disana.

Orangtua telah termakan ketakutan yang berasal dari berita dan cerita yang mereka lahap sendiri, lalu ia menyebarkan ketakutannya pada si kecil yang polos. Dunia adalah tempat yang ngeri, tempat bertanding, atau berlomba, itulah pesannya, untuk itulah papa mama akan menyediakan semua yang kamu butuhkan Nak.

Pertanyaan besarnya adalah apa yang benar-benar dibutuhkan si anak? Di tengah berjibunnya makanan dan tumpukan permainan saat ini tentu tidak bisa disangkal bahwa Cinta lah hal yang paling esensial bagi seorang anak. tapi apakah Cinta itu?? Sulit menjawabnya dengan sebuah kalimat sampai suatu saat saya membaca sebuah papan bijak yang bertuliskan.

‘Bagi Seorang anak CINTA dibaca W.A.K.T.U”

oleh Gobind Vashdev, Februari 2014

Tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *