[artikel] Sekelumit Pengalaman : Pentingnya Pendidikan Dasar dalam Keluarga dan Negara | prof. Josaphat Tetuko Sri-Sumantyo

pengantar :

Sangat beruntung kami (Rumah Belajar Semi Palar) mengenal sosok yang menulis pengalaman dirinya di bawah ini. Beliau sekarang mengelola laboratorium Remote Sensing di Jepang. Mas Josh sempat berkunjung beberapa kali ke Rumah Belajar Semi Palar, juga atas rekomendasinya, Rumah Belajar Semi Palar sempat bekerja sama dengan Faculty of Education Chiba University melalui program SEND Twincle di tahun 2013. Berikut tulisan beliau mengenai Pendidikan Dasar berdasarkan refleksi pengalaman pendidikan yang dialaminya sendiri. Tulisan di-post ulang dari bagian catatan laman beliau di Facebook. Selamat membaca. 

 

oleh Josaphat Tetuko Sri-Sumantyo

(*Tulisan ini tanpa edit dari apa yang terlintas di pikiran penulis saat ini. Semoga dapat menjadi renungan dan memperbaiki pendidikan anak-anak kita*)

MD & papap : Junior high school entrance ceremony 06 April 2011MD & papap : Junior high school entrance ceremony 06 April 2011Bulan April merupakan awal tahun ajaran di Jepang yang bersamaan dengan berbunganya Sakura yang sangat indah yang menyambut para siswa dan mahasiswa baru untuk memulai proses pendidikan. Walau beberapa Universitas termasuk Universitas Tokyo pada awal abad 20an tidak mengijinkan di dalam kawasan kampus untuk ditanami pohon Sakura, karena saat berbunganya pohon Sakura pasti diikuti dengan acara pesta di di bawahnya atau kita kenal dengan Hanami, dan suasana kampus menjadi santai sehingga para mahasiswa malas belajar. Konon ditentukan awal tahun ajaran pada bulan April ini juga karena suasana alam Jepang yang sangat sejuk dan banyaknya bunga termasuk Sakura yang mulai tumbuh dan berkembang.

Penulis mempunyai pengalaman memulai pendidikan tinggi di Universitas Kanazawa, salah satu Universitas di wilayah Jepang utara sepanjang Laut Jepang yang dikenal sebagai wilayah Hokuriku. Tepatnya lokasi kampus di dalam Istana Kanazawa (Jonai Campus) berdampingan dengan taman terkenal Kenrokuen, dimana setiap hari penulis melewati taman ini, dan taman ini termasuk tiga taman terindah di Jepang bersama taman Korakuen (Okayama city) dan Kairakuen (Mito city). Orang Indonesia sangat suka dengan memberi peringkat kepada segala sesuatu, sehingga penulis selalu menjawab, Universitas Kanazawa mempunyai peringkat sekitar 15 di seluruh Jepang menurut budget yang ditentukan oleh Kementerian Pendidikan dan Teknologi Jepang. Pada saat memulai pendidikan dengan persiapan bahasa Jepang yang boleh dikata kurang mencukupi untuk komunikasi ilmiah, penulis selalu berusaha mengikuti proses warah ajar yang diberikan oleh para dosen. Salah satu pelajaran yang sangat menarik bagi penulis adalah Sejarah Jepang (Nihonkokurekisi). Penulis sangat menyukai keilmuan Sejarah, karena sejak Sekolah Dasar selalu mengumpulkan dan membaca buku-buku pelajaran sejarah yang ada di toko buku. Bila tidak didapat di toko buku pasar Kartasura, maka sering bersama Bapak sambil menaiki motor ‘gagak rimang’ Suzukinya ke toko-toko buku di kota Solo, seperti Toko Buku Tiga Serangkai, Mangkunegaran, Toko Buku dekat pasar Klewer (maaf lupa), hingga toko-toko buku di pasar buku bekas seperti Sriwedari. Terkadang saat para Siswa Dasar dan Komando Pasukan Khas TNI-AU (dulu PGT) yang dilatih oleh Bapak yang datang dari hampir seluruh Indonesia berkunjung ke rumah kami saat IB (Ijin Berlibur), khususnya yang datang dari luar Jawa, penulis pasti menanyakan buku-buku Sejarah kepada mereka dan berusaha mendapatkan buku-buku Sejarah yang mereka pakai sebelumnya, dimana isinya ternyata ada yang berlainan, tetapi tetap menarik bagi penulis karena persepsi penulis dan standar Sejarah sepertinya bermacam-macam, walau di satu negara, Indonesia.

Pada saat mengikuti kuliah Sejarah Jepang, penulis hampir dikata tidak dapat mengikuti kuliah tersebut, karena pasti ditulis dengan huruf-huruf khas Jepang, yaitu Kanji. Huruf Kanji (artinya Kan = China dan Ji = huruf) Jepang diadopsi dari huruf China daratan yang kemudian dimodifikasi menjadi huruf khas Jepang dengan cara baca dan tulis tersendiri yaitu Hiragana dan Katakana. Huruf Kanji di Jepang (dan Taiwan) hampir bisa dikata tidak berubah dibandingkan dengan huruf aslinya China daratan yang sangat cepat berubah dan menjadi sangat sederhana strukturnya. Sehingga warga China daratan bila berkunjung ke Jepang akan merasakan seperti berkunjung ke China pada jaman dahulu kala. Dari beberapa ratus hingga ribuan kanji yang ditulis di enam papan tulis di depan ruang kuliah, penulis hanya dapat membaca satu atau dua huruf kanji saja. Pada saat itu yang terlintas dalam pikiran saya hanya masa depan, atau beberapa tahun lagi, apakah saya bisa mengikuti kuliah di Jepang ini ? Sambil berpikir demikian, tangan saya tetap berusaha mengikuti tepatnya menirukan huruf-huruf Kanji yang ditulis oleh dosen Sejarah tersebut. Salah satu isi pelajaran yang menarik adalah mengenai Kofun atau tempat makam para raja di jaman dahulu kala. Ternyata Jepang sangat memperhatikan situs-situs Sejarah dan menjaga kondisinya agar dapat digunakan untuk mengetahui perkembangan Sejarah, baik secara kewilayahan maupun nilai-nilai kemanusiaan yang digunakan sebagai referensi dasar untuk mengembangkan negaranya ke masa depan.

Setiap selesai seharian kuliah, penulis kembali ke apartment tempat penulis tinggal di wilayah Kodatsuno dekat Kampus Fakultas Teknik – Kodatsuno Campus, untuk mengulang kembali apa saja yang diajarkan oleh para dosen sambil memilah kembali huruf-huruf baru yang didapat hari itu, sehingga sekitar 3 pasang kamus Indonesia-Jepang dan Jepang-Indonesia hancur selama satu setengah tahun untuk mengikuti Pendidikan Dasar Persamaan (Kyoyobu) di Universitas Kanazawa. Penulis kurang menyukai penggunaan kamus elektronik, karena saat itu disamping kurang lengkap keterangannya, penulis lebih menyukai proses, dimana menulis huruf Kanji perlu proses menulis sesuai dengan urutan tarik garis dan komposisi serta balancing hurufnya. Walau cukup lama untuk mengetahui dan master sekitar 10,000 huruf, syukur saat ini hampir seluruh huruf dapat diketahui oleh penulis dan akhirnya sekarang penulis sering mengajari kepada para staff dan mahasiswa Jepang menggunakan huruf-huruf tersebut saat mengajar dan bekerja sebagai peneliti dan pegawai negeri di Universitas Chiba.

Pada saat mengikuti pendidikan S1 di Universitas Kanazawa, penulis menemukan hal menarik pada level pengetahuan kita sebagai lulusan Sekolah Menengah Atas di Indonesia. Banyak sekali pengetahuan kita yang melebihi para mahasiswa asal Jepang pada mata kuliah dasar, seperti Matematika, Fisika, dan Biologi. Bila ada tugas atau pekerjaan rumah (PR) dari para dosen, hasil hitungan penulis sering dicontek oleh para mahasiswa Jepang. Sebenarnya sejak Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas di Solo, hasil PR yang ditulis oleh penulis sering dicontek oleh teman-teman dulu yang bergilir dari satu kelas ke kelas lain, sehingga terkadang penulis bingung mencari buku PRnya sendiri. Penulis sejak mengikuti pendidikan dasar di Universitas Kanazawa menjadi kurang tidur, karena harus berusaha menguasai bahasa Jepang secepat mungkin dan mengetahui isi pendidikan di Jepang ini untuk diboyong pulang ke Indonesia sebanyak mungkin, serta merealisasikan cita-cita sejak kecil yaitu membuat radar sendiri. Penulis biasa tidur lebih dari jam 12:00 malam dan bangun sekitar jam 4:00 untuk mengulang-persiapan mata kuliah dan rasa tidak ingin ketinggalan dari para mahasiswa Jepang sendiri.

Pendidikan dasar di tahun pertama sendiri tidak menjadi masalah besar bagi penulis yang merasa sudah cukup dengan pendidikan yang diperoleh di Indonesia, malah bisa dikata overload sebelum datang ke Jepang. Bahkan penulis dapat menduduki peringkat cukup atas di antara para mahasiswa Jepang dan masuk lima besar saat kelulusan S1, dan mendapatkan rekomendasi masuk program master tanpa mengikuti ujian masuk. Hanya pada tahun kedua semester awal S1, penulis harus mengikuti mata kuliah dasar yang membutuhkan analisa, dimana dasar-dasar analisa hampir tidak pernah diperoleh selama pendidikan di Indonesia, hal ini sangat beda dengan mahasiswa asal Jepang, Amerika, Eropa yang kebetulan satu angkatan dengan penulis. Selama ini penulis mendapatkan begitu banyak ilmu tanpa ada kesempatan untuk menganalisa, seperti mengapa keliling lingkaran dapat diestimasi menjadi 2 x pi x r, luasan pi x r x r dan masih banyak dasar-dasar pemikiran yang belum sempat penulis terima atau kembangkan sendiri saat di Indonesia, maklum waktu untuk menguasai seluruh mata pelajaran di SD hingga SMA sudah cukup menyita waktu, serta jarak tempat tinggal penulis (kota kecil Colomadu) dan SMA Negeri 1 Surakarta (Solo) cukup jauh untuk diakses. Fenomena demikian penulis kira hampir terjadi di seluruh Indonesia, seperti pengalaman rekan-rekan penulis yang datang bersama ke Jepang saat itu melalui program beasiswa Habibie (sekitar 25an orang saat itu). Proses menganalisapun cukup menyulitkan penulis karena tidak biasa dengan memikirkan satu hal (tema) menjadi sangat luas dan mendalam. Setengah tahun pertama ini sangat menentukan untuk dapat naik ke spesialis atau tidak. Peringkat penulis sedikit menurun saat itu walau masih dalam sepuluh besar di jurusan, karena kemampuan analisa merupakan hal baru. Syukur penulis dapat lolos ujian dan dapat lanjut pendidikan spesialis di Department of Electrical and Information Engineering, dimana pada saat itu 50% mahasiswa harus tinggal kelas untuk mengulang mata kuliah yang penuh dengan analisa. Fenomena ketidaklulusan sebesar ini hingga menggemparkan kota Kanazawa, sehingga kabar buruk ini ditayangkan di TV dan surat kabar di wilayah Hokuriku. Penulis antara gembira karena lulus dan sedih karena beberapa rekan penulis, khususnya dari Malaysia semua tinggal kelas dan harus mengulang kembali pendidikan di kampus baru di Kakuma Campus, karena Jonai campus ditutup untuk pengembangan wisata kota Kanazawa. Penulis merupakan salah satu saksi terakhir perpindahan campus pusat Universitas Kanazawa yang sekarang telah menjadi taman wisata kota Kanazawa dan sedikit masih tersisa bekas Jonai campus.

Mata kuliah analisa begitu sulitkah dan apa kegunaannya ? Sering menjadi pertanyaan oleh banyak orang, setidaknya orang-orang yang pernah bertemu dengan penulis. Analisa merupakan dasar instinct manusia untuk membaca alam di sekitarnya. Alam sekitar manusia selalu berubah, demikian juga perkembangan ekonomi, teknologi, politik dllpun saling mendorong perubahan lainnya. Subyek dan obyek dari semua perubahaan ini dapat dikata manusia sendiri.

Dalam hal analisa teknik, penulis sudah mendapatkan begitu banyak rumus-rumus matematika (aritmatika, trigonometri, geometri dll), fisika, biologi dll selama pendidikan dasar di Indonesia tanpa mengetahui artinya. Demikian juga saat penulis mengikuti pendidikan dasar di Teknik Mesin, Universitas Gadjah Mada, walau selama beberapa bulan saja sebelum mendapat beasiswa Habibie untuk berangkat ke Universitas Kanazawa, Jepang, sudah sangat cukup untuk pengetahuan dasar di Jepang. Hanya satu hal penting yang mungkin terlupakan oleh sistem pendidikan Indonesia, yaitu proses analisa.

Proses analisa bukanlah hal yang sulit bila diajarkan sejak dini di pendidikan dasar atau Sekolah Dasar. Misalnya dasar-dasar penghitungan luas segitiga, segiempat, hingga penghitungan segi tak beraturan, bilangan deret dll, pengetahuan lumrah dalam kehidupan manusia, dimana nantinya dapat digunakan untuk menganalisa bentuk-bentuk yang lebih rumit, yaitu lingkaran, elips, hingga menghitung luasan maupun volume sebuah gugus bintang.

Penulis mempunyai seorang anak laki-laki yang lahir di awal tahun 1999. Hal lumrah bila penulis bersama isteripun mengkhawatirkan asupan-asupan pendidikan yang diperolehnya di masa kecilnya. Sehingga kami tidak ingin mengejar banyaknya isi pendidikan tanpa memperhatikan “proses” atau analisa. Isi atau contents pendidikan merupakan hasil analisa para pendahulu kita. Misalnya Ohm dengan hukum kelistrikannya, Maxwell dengan kumpulan rumus gelombang elektromagnetik, Einstein dengan relativitasnya dll. Demikian juga pi=3.14142 …, bilangan e=2.71828 …, bilangan komplek yang diekspresikan dengan komponen nyata dan imajiner dll. Tetapi mengapa sekarang di pendidikan kita melupakan proses atau analisa sehingga lahir sebuah system pendidikan yang menyajikan menu pendidikan kita yang basi seolah mengikuti jaman modern ? Proses atau teknik analisa sering kami tekankan kepada anak kami, demikian juga kepada para mahasiswa yang mengambil mata kuliah saya ‘Microwave Remote Sensing’ dan ‘Remote Sensing Technology’. Proses untuk menjawab pertanyaan ‘apa’ (mengapa) terhadap suatu kejadian di sekeliling kita, sehingga terbentuk individu manusia yang responsive terhadap lingkungannya nanti. Pada tahun 2005 masa awal penulis menjadi dosen di Chiba University mahasiswa pasca sarjana sekitar 10 orang, sekarang sudah hampir mendekati 80 orang pada setiap mata kuliah yang dibawakan oleh penulis, dimana isi kuliah ditekankan pada proses atau analisa suatu permasalahan, khususnya dibidang remote sensing atau penginderaan jarak jauh.

Pengetahuan mengenai proses dan analisa lebih memberikan manfaat bagi pengikut proses warah ajar dibanding hanya menyampaikan hasil-hasil akhir proses para pendahulu yang bisa dikata ilmu tersebut sudah basi, dan cenderung para pengikut warah ajar hanya menghafal saja. Pengetahuan mengenai analisa dapat memberikan kemampuan kepada anak kita sendiri dan anak didik kita untuk menganalisa setiap perubahaan di lingkungannya yang selalu berubah. Sedangkan rumus-rumus yang sudah kita dapatkan selama ini merupakan rumus mati dan basi bila hanya didapat dari menghafal. Proses menghafal sendiri merupakan proses menjadikan rumus-rumus pendahulu kita menjadi hal yang disucikan dan harga mati, seakan sulit untuk diotak-atik atau dimodifikasi kembali. Padahal rumus-rumus tersebut semua hanya merupakan pendekatan (estimation) oleh penggagasnya terhadap perubahaan fenomena alam di sekeliling kita, setidaknya fenomena-fenomena di bumi. Bila kita berbicara di lingkungan planet lain, kemungkinan besar rumus-rumus tersebut tidak akan berlaku kembali, dan bila kita suatu saat ditempatkan di planet baru tersebut kemungkinan besar mengalami banyak kerepotan. Beda bila kita telah mempunyai pengetahuan atau terbiasa dengan proses menganalisa sendiri.

Pada saat penulis mengikuti pendidikan Sekolah Dasar di SD Negeri Malangjiwan IV (Colomadu, Karanganyar, Jawa Tengah) pada tahun 1977 hingga 1983, waktu untuk belajar dan bermain sangat banyak, sehingga waktu untuk mempelajari buku-buku SD cukup banyak, sehingga hampir semua buku sudah ‘hafal’ sebelum waktu di ajarkan oleh para Guru. Sehingga setiap pelajaran Himpunan Pengetahuan Alam (HPA), Himpunan Pengetahuan Umum (HPU), Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), PMP, Agama dll hampir semua pertanyaan Ibu maupun Bapak Guru dapat dijawab, sehingga sering sekali penulis mengganti Bapak Guru (Pak Bino) untuk duduk di kursi Guru dan memberi pertanyaan ke teman-teman sendiri. Hanya semua ini penulis dapatkan dengan banyak menghafal dari buku-buku yang didapatkan saat itu. Demikian juga proses ini sampai SMP dan SMA, karena beban warah ajar semakin banyak dan tidak sempat menyisihkan waktu untuk menganalisa dan menelaah lebih dalam proses terciptanya ‘isi’ pelajaran-pelajaran yang didapat. Walau penulis selalu menduduki peringkat cukup baik dari SD hingga SMA, hanya penulis rasakan kurangnya pengetahuan dan kemampuan analisa setelah masuk perguruan tinggi.

Fenomena menarik yang selalu membuat geli penulis saat di Indonesia dulu dari SD hingga perguruan tinggi, sering penulis temukan teman-teman tiba-tiba menjadi seperti dukun yang membaca jampi-jampi atau mantera semua, karena komat-kamit bibirnya untuk menghafalkan soal-soal yang kemungkinan akan keluar di ulangan. Lebih parah lagi pada saat EBTANAS (sekarang UAN), banyak ditemukan pelajar yang mata merah dan komat-kamit bibirnya lagi, sungguh mengerikan melihat banyaknya dukun dadakan seperti ini. Dalam waktu satu minggu EBTANAS berapa juta dukun dadakan lahir ?

Anak-anak pada usia awal pengenalan sistem pendidikan merupakan waktu awal yang sangat penting sejak mereka dilahirkan di dunia ini, dimana mereka mulai sedikit demi sedikit mengenal lingkungannya. Saya percaya bentuk sistem pendidikan Indonesia saat ini merupakan hasil akumulasi dari kepanikan negara dalam menyediakan menu pendidikan dan merupakan hasil olahan orang-orang “pintar” yang main adopsi menu pendidikan tanpa mempertimbangkan cara pikir, budaya, hingga kebiasaan anak Indonesia. Internasionalisasi pendidikan dan World Class University lebih dikedepankan oleh banyak instansi pendidikan dengan tanda semakin maraknya iklan-iklan di jalan hingga media massa. Tanpa desain pendidikan yang jelas dan kecenderungan mengikuti sistem pendidikan asing akan membawa bangsa ini kehilangan jati diri dalam berbudaya, berbangsa dan bernegara di kurun waktu 50 hingga 100 tahun ke depan. Dunia akan melihat pada originalitas sistem pendidikan kita, bukan keberhasilan kita meniru sistem pendidikan negara lain. Terkadang kita salah kaprah dimana bangga dan merasa berhasil setelah studi banding kemudian mengadopsi banyak pemikiran orang atau instansi asing. Contoh kecil semakin maraknya organisasi-organisasi kursus belajar atau bimbingan belajar menunjukkan kelemahan sistem pendidikan suatu negara. Dengan demikian negara memberikan masalah (problem) pendidikan lewat sistem pendidikan terstrukturnya, dan organisasi bimbingan belajar menjadi problem solvernya. Sudah kenyataan dalam keseharian kita, dan penulis setiap berkunjung ke Indonesia untuk memberikan kuliah tamu diberbagai tempat menemukan semakin beragam bentuk bimbingan belajar, bahkan ada yang dari luar negeri yang diorganisasi dengan matang sebagai bisnis, walau di negara asalnya belum tentu baik dan berkembang, aneh di Indonesia malah menjadi besar. Hal ini lebih diperunyam dengan diajarkannya teknik-teknik jalan pintas untuk mendapatkan hasil akhir saja, sehingga banyak murid bangga kepada temannya bila bisa melakukan hal tersebut. Tetapi patut disayangkan karena mereka telah kehilangan waktu untuk mendapatkan pengetahuan dasar berupa proses dan analisa terhadap fenomena alam yang harus dipelajarinya dengan matang di usia balita dan remajanya.

Sampai saat ini penulis sering memberikan kuliah di Indonesia sebagai dosen tamu di beberapa Universitas di Indonesia, lembaga penelitian hingga militer. Masih sering ditemukan kemampuan analisa para mahasiswa yang tidak memadai sebagai mahasiswa, bahkan di bawah standard manusia remaja international. Padahal mereka sering disebut sebagai calon agen pembangunan dan pemimpin Indonesia. Bagaimana mereka dapat memimpin suatu organisasi hingga sebuah “paguyuban besar” negara Indonesia ? bila mereka tidak mempunyai kemampuan dasar-dasar analisa ? Gejala-gejala banyaknya permasalahan di negara ini yang tidak kian membaik, malah terlihat semakin pelik, tidak hanya semakin kompleknya masalah itu sendiri, tetapi sedikitnya agen-agen manusia yang dapat menyelesaikan masalah tersebut hingga sistem pembentuk agen-agen pembangunan itu sendiri.

Bekal pengetahuan SD hingga SMA cukup bahkan bisa dikata berlebihan untuk masuk ke perguruan tinggi di Jepang, hanya kurangnya kemampuan analisa ini berakibat cukup serius saat mengikuti mata kuliah sejak tingkat kedua dan berikutnya. Penulis cukup ketinggalan jauh dibanding para mahasiswa Jepang saat itu, sehingga harus menguras tenaga, waktu, dan pikiran untuk menformat ulang otak agar mengetahui tingkat telaah atau analisa terhadap fenomena-fenomena teknologi kuno, modern dan contemporer dapat terkuasai. Setiap hari waktu di bumi berputar 24 jam, dan penulis hanya menyediakan waktu 3-4 jam saja untuk tidur, walau dalam hati selalu ingin ambil waktu tidur yang disengaja tsb untuk kegiatan mempelajari fenomena alam yang telah dipikirkan oleh para peneliti pendahulu. Pada suatu kesempatan, penulis menyimpulkan bahwa teori-teori yang telah dikembangkan selama ini sudah cukup basi dan kita pasti mampu untuk menganalisa kembali fenomena alam, baik itu menggunakan analogi-analogi teori peneliti sebelumnya maupun teori-teori turunan sendiri. Penulis baru sadar dan mendapatkan kemampuan analisa setelah berumur sekitar 22 tahun, dan selalu berpikir kalau kita sudah mendapatkan di Indonesia pada saat umur 7-8 tahunan atau masa-masa masuk Sekolah Dasar, bangsa Indonesia tidak muskil untuk menempati urutan tinggi terhadap kontribusi ilmu pengetahuan dan teknologi dunia.

enguasaan teknologi dan ilmu pengetahuan tidak bisa dilihat dari hanya banyaknya pemegang medali emas di olimpiade-olimpiade ilmiah dunia. Lebih baik kita konsentrasikan pada bentuk pendidikan yang memperhatikan seluruh anak-anak di negeri ini, daripada memperhatikan beberapa orang yang terlihat menonjol saja. Pendidikan analisa bukanlah sebuah pendidikan yang mewah-mewah dan bertujuan untukk medali-medali di olimpiade, tetapi pendidikan yang membawa anak untuk menelaah lingkungannya dengan cara pikir khas mereka, sederhana dan simple tidak masalah, asal original dan bukan hasil contekan dari cara pikir orang atau individu lain.

Perihal cara penilaian atau kajian terhadap hasil dari suatu proses warah ajar atau pendidikan, penulis sendiri kurang setuju dengan sistem pendidikan yang mengejar peringkat yang cenderung diskriminasi terhadap kemampuan setiap warga. Demikian juga proses pendidikan tidak dapat ditentukan oleh sekali atau dua kali ujian akhir saja. Pada dasarnya manusia merupakan sebuah evolusi dari kondisi tidak tahu menjadi tahu, dari melihat suatu fenomena hingga memecahkan atau mengetahui proses terjadinya fenomena tersebut hingga akibatnya nanti. Penilaian terhadap anakpun pada dasarnya tidak bisa diilustrasikan dalam bentuk angka dari 1 hingga 10 atau 100. Kita harus dapat memperkenalkan fenomena-fenomena yang ada di bumi ini, agar mereka terbekali dengan pemikiran-pemikiran manusia menghadapi lingkungannya, sehingga mereka bisa menggunakan cara pikirnya sendiri yang unik dan original untuk menganalisa dan melihat fenomena dunia dengan kepala dan kemampuan yang unik dan original.

Pengembangan pendidikan dasar ke semestinya perlu dilakukan, dan dilakukan sesantai mungkin bagi pengikut proses warah ajar dan diajarkan hingga mengerti. Sehingga tidak ada istilah anak yang ketinggalan mata kuliah dll. Setiap anak mempunyai kemampuan sendiri-sendiri sesuai dengan lingkungan yang membentuknya, baik lingkungan maupun keluarga dan dirinya sendiri. Kita tidak ingin membentuk suatu generasi yang stress terhadap menu pendidikan yang dibutuhkan, tetapi kita inginkan suatu generasi yang mengerti dan responsive terhadap setiap permasalahan ke depan. Jangan sampai kita temukan seorang dewasa yang menjawab ketidakbisaan menghadapi suatu masalah karena tidak pernah diajarkan di sekolah. Sekolah atau instansi pendidikan bukan database untuk problem solver terhadap seluruh permasalahan ke depan, tetapi sekolah adalah tempat untuk melatih diri untuk menyelesaikan masalah dengan cara masing-masing individu. Jawaban akhir suatu masalah bukanlah hal penting, tetapi proses menuju jawaban tersebut adalah terpenting. Membiasakan kepada anak untuk menyelesaikan masalah cara sendiri bisa dilakukan dimana saja.

Poster hasil penelitian Mas Dhito saat kelas 6 SD tentang sejarah orang Jawa dan perubahan lingkungan hidupnya.

Poster hasil penelitian Mas Dhito saat kelas 6 SD tentang sejarah orang Jawa dan perubahan lingkungan hidupnya.Pernah saya sampaikan suatu persoalan kepada anak saya, bila kita ingin memindahkan gunung Tangkuban Perahu dan bebukitan di sekitarnya, yang kebetulan kelihatan dari rumah kami di Bandung, untuk menutup cekungan Bandung, kira-kira membutuhkan berapa truk dumper dalam waktu satu enam bulan dan jalur mana yang efisien, misalnya kita menggunakan alternative jalan yang sudah ada atau kita buatkan jalan baru khusus untuk proyek pemindahan ‘kapal Sangkuriang’ gunung ini ? Kami sadari jawaban terakhir yang akan disampaikan oleh anak saya tidak ada yang pasti, tetapi semua merupakan estimasi belaka. Bagi seorang dewasa mungkin ada yang langsung menjawab tidak mungkin memindahkan sebuah gunung besar tersebut, tetapi bagi seorang anak banyak kemungkinan dan jawabannya seperti aneh dan tidak masuk akal. Anak saya mulai bercerita kemungkinan tentang teknik-teknik yang bisa digunakan untuk proyek ini, pertama estimasi volume gunung dari citra satelit dan Digital Elevation Model (DEM) yang Foundation kami miliki, dengan menggunakan pendekatan sederhana sebuah kerucut raksasa. Dengan sedikit garuk-garuk kepala khasnya, anak saya kemudian menghitung volume sebuah kotak raksasa cekungan Bandung. Setelah mendapatkan volume keduanya baru dicoba menghitung estimasi volume setiap truk dumper yang didapat dari searching di Google. Membagi volume gunung dengan jumlah dumper truck dan waktu setengah tahun akan diperoleh estimasi jumlah dumper. Akhirnya anak saya senang sekali mendapatkan hasil hitungan dimana dia sendiri dapat memindahkan gunung Tangkuban Perahu untuk menutup seluruh cekungan Bandung. Walau hasilnya tidak masuk akal bila dihitung secara ekonomi, tapi anak saya sudah mempunyai pengalaman yang menakjubkan dari suatu hal yang sebelumnya dipikir tidak masuk akal, tetapi menjadi hal lumrah. Hampir setiap hari tema-tema kehidupan banyak diikuti dengan hal-hal tidak masuk akal, tetapi dengan pemikiran khas manusia, pasti dapat diselesaikan.

Poster hasil penelitian Mas Dhito (MD) saat kelas 5 SD tentang sejarah dan cara kerja kapal otok-otok Indonesia.Poster hasil penelitian Mas Dhito (MD) saat kelas 5 SD tentang sejarah dan cara kerja kapal otok-otok Indonesia.Suatu saat anak saya menyampaikan pertanyaan bagaimana cara kerja kapal otok-otok yang sering ditemukan di tempat-tempat wisata Indonesia. Ternyata setelah dia lakukan penelitian, ternyata di samping cara kerja kapal tersebut, kami temukan berbagai macam nama terhadap benda satu tersebut, yang meliputi wilayah Asia Timur, Asia Tenggara, Australia hingga India. Kamipun modifikasi dengan beberapa tambahan ‘mesin’ otok-otok di satu kapal, sehingga didapatkan kemampuan yang lebih besar lagi.

Cara pikir di atas yang selalu berkembang selalu mengiringi penemuan-penemuan di dalam keluarga kami, hingga saat ini kami mengembangkan beberapa jenis antenna original untuk mobile satellite communications bagi beberapa satelit masa depan Jepang. Demikian juga pesawat tanpa awak atau unmanned aerial vehicle (UAV) terbaru kami yang akan dipasangi radar pertama di dunia, hingga small satellite kami. Banyak ide yang kami temukan saat obrolan sebelum tidur bersama anak saya.

Hal di atas merupakan salah satu contoh perlunya menanamkan dan melatih pemikiran dasar seorang anak. Bila terus kita berikan hal-hal baru yang lebih menantang, penulis kira seorang anak akan senang untuk mengikuti, bahkan kita seorang dewasapun dapat menemukan referensi hidup darinya. Bagaimana diri kita melihat perkembangan anak-anak kita ? Mari kita berikan porsi semestinya kepada anak-anak kita, memperhatikan proses pendidikan lebih penting dibandingkan jumlah atau beban dari pendidikan itu sendiri. Bagaimana membuat pendidikan sebagai surga bagi anak-anak kita untuk dinikmati dan bukan menjadi momok atau hal yang menakutkan, menjemukan bahkan stress. Penulis tidak berharap untuk meniru bentuk pendidikan asing yang terbaik saat ini, seperti Belanda dengan pendidikan anak yang menggembirakan bagi anak Belanda, Finlandia dengan sistem pendidikan yang memperhatikan masing-masing person anak dll. Mari kita gali atau explore sistem pendidikan dengan gaya budaya dan kebiasaan lokal kita. Kita punya ratusan budaya asli yang pasti lebih ramah dengan gaya manusia Indonesia. Mari kita bersama-sama untuk melihat lebih banyak pada cara pikir lokal, niscaya suatu saat bangsa lain akan datang dan belajar dari anak dan cucu kita.

Chiba, 9 Mei 2010.

Josaphat ‘Josh’ Tetuko Sri Sumantyo

Hanya seorang ayah ‘papap’ dari anak yang selalu lucu dalam kesehariannya, dan berdomisili di komplek staff University of Tokyo, Japan.

Detail : http://www2.cr.chiba-u.jp/jmrsl/

 

Klik di sini untuk tautan ke [cryout-button-light url=”https://www.facebook.com/notes/josaphat-tetuko-sri-sumantyo/sekelumit-pengalaman-pentingnya-pendidikan-dasar-dalam-keluarga-dan-negara/119869151376003″]sumber tulisan[/cryout-button-light]

Tagged , , . Bookmark the permalink.

One Response to [artikel] Sekelumit Pengalaman : Pentingnya Pendidikan Dasar dalam Keluarga dan Negara | prof. Josaphat Tetuko Sri-Sumantyo

  1. Jasa Pengetikan says:

    Ayo kita gali atau explore sistem pendidikan dengan gaya budaya dan kebiasaan lokal kita

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *