Education is not preparation for life…

wpid-img_8497837514960.jpeg

Petikan di atas ini tentu tidak asing bagi kita, terutama bagi yang berkecimpung di dunia pendidikan. Nama dari Eyang Dewey ini cukup sering lalu lalang di banyak artikel dan buku-buku pendidikan. Beliau bukan hanya dikenal sebagai tokoh pendidikan dan psikolog saja, namun juga diakui sebagai seorang filsuf, jurnalis, politikus juga.

Beberapa waktu lalu, saya dan sahabat sekaligus teman berbagi saya di dunia pendidikan, Puti, membicarakan tentang petikan (quote) pendidikan, termasuk petikan pembuka tulisan ini. Saya selalu suka dengan petikan-petikan. Kalimat yang pendek, ringkas, namun memiliki pesan yang sangat kuat. Dari satu kalimat, kita dapat menyelami sebuah lautan makna yang begitu luas. Dari satu kalimat, kita bisa bermain-main dengan berbagai kacamata, untuk melihat berbagai sudut pandang pemikiran.

Banyak sekali pertanyaan yang muncul saat membaca petikan di atas. Terutama mencoba untuk menginterpretasi makna yang ingin disampaikan Eyang Dewey. Waktu membahas tentang petikan-petikan dalam pendidikan (atau mungkin semua petikan, ya), Puti mengingatkan saya untuk melihat konteks bagaimana petikan itu bisa muncul dalam menginterpretasi sebuah petikan :

Siapa yang menuliskannya? Bagaimana latar belakangnya? Tujuannya apa? Apa makna pendidikan untuk beliau? Persiapan macam apa yang dimaksud di situ?

Ah, sudahlah. Kalau kita coba dalami satu persatu, bisa-bisa jadi satu jurnal atau laporan tebal. Jadi, kali ini saya hanya mencoba untuk mengambil makna di “kulit”-nya saja dahulu. Ketika kita terus belajar dan membiasakan untuk mengambil makna dalam setiap kejadian dalam hidup kita, ya betul, education is life itself. Sebuah pendidikan yang “tidak disengaja”. Kita menjalani apa yang menjadi ketetapan Tuhan. Melalui berbagai kesempatan, ujian, cobaan, Tuhan “mendidik” kita menjadi manusia yang lebih baik dan lebih baik lagi. Naik kelas dengan ujian yang lebih berat. Tinggal bagaimana kita menjadikan diri kita sebagai murid kehidupan. Bagaimana kita menjalani kehidupan adalah sebuah proses belajar.

Tapi, mengapa saat itu beliau berpikir bahwa sebagian orang menanggap pendidikan itu sebuah persiapan untuk hidup? Apa mungkin pendidikan yang dimaksud itu adalah sekolah? Saya jadi buka-buka kamus untuk mencari arti kata pendidikan, sekolah, mendidik, mengajar, belajar, dll. Kalau diikuti terus, bisa-bisa saya ngga nulis-nulis. Kebanyakan nanya, sudah dapat lalu dipikir, lalu ditanya lagi, dipikir lagi, lalu bingung sendiri, hehe. Jadi sudah dulu sampai sini ya, otak.

Kembali ke obrolan saya dengan Puti, sekolah itu hanya salah satu bentuk pendidikan yang “disengaja”. Dengan bersekolah, ada beberapa proses yang menjadi sistematis dan terstruktur dengan metoda-metoda yang terencana sehingga kita bisa mempelajari beberapa hal tertentu lebih “cepat” dibandingkan jika kita tidak bersekolah. Tapi jelas, sekolah tidak bisa menggantikan pembelajaran semua hal, terutama keterampilan yang tentunya membutuhkan jam terbang tinggi.

Saya memberi catatan di sini, yang saya maksud dengan bersekolah adalah belajar dengan metoda yang membuat siswa aktif mencari dan menggali, tidak hanya sekadar “disuapi”. Syukur-syukur kalau memang begitu, sekolah berarti sebuah tempat penempaan di mana muridnya akan lebih “cepat” menjadi “manusia”. Sayangnya di sini sekolah sering kali bukannya menjadikan muridnya “manusia”, malah menjadi robot pengisi ujian.

Belajar yang “disengaja” ini juga bisa saja tidak melalui sekolah, misalnya saat kita meniatkan diri untuk merekayasa sebuah proses belajar. Ya, kenapa harus tergantung sekolah kalau “hanya” mau belajar? Sebuah pendidikan, terlepas dari pendidikan formal maupun non-formal, juga tidak dapat dilepaskan dari budaya karena bisa jadi bentuk pendidikan yang ada merupakan cara suatu masyarakat mentransfer nilai-nilai yang berlaku. Dikaitkan dengan petikannya di atas, bisa saja sang “murid” dinilai akan memiliki bekal untuk menjalani hidup (yang diharapkan) dalam tatanan masyarakat tertentu. Ya, kadangkala terjadi juga pro dan kontra apakah nilai-nilai tersebut perlu ditransfer atau tidak.

Banyak kacamata yang bisa kita pakai untuk mengambil makna dan becermin dari petikan Dewey, termasuk ketika kita menganggap bahwa sebuah persiapan kehidupan itu adalah bagian dari hidup itu sendiri, “The preparation for life is life itself.” Tapi saya ambil ini sebagai catatan diri : sejauh mana kita mendidik diri sebagai pembelajar seumur
hidup. Berusaha lebih baik di setiap waktunya, mengembangkan kemampuan dalam memanfaatkan akal dan hati kita untuk menjadi “manusia”, terlepas dari pendidikan macam apa yang dilewati. Sengaja ataupun tidak disengaja.

Ya, sebagai murid kehidupan perjalanan saya masih panjang. PR saya masih banyak. Sekarang bagaimana saya menjalaninya dengan “penuh”. Be a mindfull lifelong learner, and support each other :)

p.s. : spesial untuk Puti yang selalu setia menjadi teman belajar dan diskusi, terutama dalam menyelami lautan pendidikan.

Tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *