Learning by Doing: Memperbesar Peluang Kemanfaatan Belajar

 

“Pendidikan bukanlah sebuah persiapan untuk kehidupan; pendidikan adalah kehidupan itu sendiri”. Kutipan dari John Dewey ini begitu menarik perhatian kita, di antaranya mungkin karena di balik kata-kata tersebut tersirat kritik yang cukup mengena bagi dunia pendidikan (formal), yaitu bahwa selama ini dunia pendidikan kita telah sekian jauh berjarak dengan realitas. Seperti yang secara umum sudah diketahui, pendidikan di Indonesia seakan tersimplifikasi menjadi kegiatan transfer pengetahuan dan pewarisan budaya yang bersifat abstrak tanpa makna. Apa yang menyebabkan hal itu terjadi?, lalu bagaimana sebaiknya kita menyikapinya? Inilah yang harus kita diskusikan bersama.

Landasan Filosofis

Kita bisa memulainya dari landasan filosofis pendidikan. Setidaknya ada empat landasan utama yang membentuk corak orientasi penyelenggaraan pendidikan, yakni: esensialisme (penguasaan disiplin ilmu), perenialisme (pewarisan budaya), pragmatisme (kemanfaatan), dan rekonstruksi sosial (pengubah keadaan). Masing-masing landasan tersebut memberikan penekanan pendidikan ke dalam aspek yang berbeda-beda, namun di Indonesia keempat landasan tersebut terhimpun ke dalam landasan filosofis Pancasila yang eklektis.

Kemudian dalam perkembangannya, poin-poin eklektis Pancasila ini – seperti juga dalam landasan politik &ekonomi- belum bisa tereksplorasi secara menyeluruh dan berimbang. Sekian lama landasan esensialis yang mengutamakan kepada penguasaan dispilin ilmu secara terpisah-pisah dan landasan perenialis yang mengutamakan pewarisan /reproduksi budaya masyarakat yang statis, telah mendominasi corak dunia pendidikan kita. Namun, keadaan ini berubah seiring dengan semakin masifnya arus pembaharuan ide pendidikan kontemporer. Tren perkembangan psikologi kognitif: pendekatan konstruktivistik, pembelajaran kontekstual, dan sebagainya telah merubah warna orientasi dunia pendidikan dari yang sebelumnya menekankan kepada penguasaan materi menuju penguasaan kompetensi. Dari teacher oriented dan subject oriented menuju student oriented. Dari esensialis-perenialis menuju landasan pragmatisme yang mengutamakan kemanfaatan belajar dan – lebih jauh- landasan rekonstruksi sosial yang mengutamakan perubahan sosial/ reproduksi budaya masyarakat yang dinamis. Saat ini, pergantian dan pembaharuan kurikulum pendidikan di Indonesia berjalan dalam konteks perkembangan tersebut.

Tataran Praktik

Kemudian saya jadi teringat sebuah cerita dari Eddie Vedder, vokalis band Pearl Jam, yang di tahun 1994 ia pernah bercerita kepada media L.A. Times bahwa: “Mungkin aku tidak seperti orang kebanyakan karena aku harus bekerja dan aku harus menjelaskan kepada guru mengapa aku sulituntuk terjaga. Aku sering tertidur saat ia mengajariku tentang realitas di ruang kelasnya. Aku berkata, ‘Kau ingin melihat realitas ku? Kemudian aku membuka tas tempat di mana kalian biasa menyimpan pensil. Di situlah aku menyimpan lembar tagihan-tagihan, listrik, biaya sewa… Itulah realitas ku”.

Pernyataan Eddie Vedder ini menggelitik dunia pendidikan Amerika yang dikenal sangat pragmatis sejak sekitar satu abad sebelumnya John Dewey mempopulerkan pendidikan progresif yang menekankan segi praktis dan kemanfaatan dalam belajar. Berangkat dari hal ini, menurut saya sampai titik tertentu perkembangan pragmatisme sendiri belum ditempatkan dalam konteks yang menyeluruh.

Adalah perkembangan dalam psikologi kognitif di era kontemporer yang –menurut saya- bisa memperkaya perkembangan pragmatisme Dewey. Walaupun berangkat dari akar yang berbeda, kajian psikologi kognitif yang menekankan pengetahuan sebagai entitas yang dibentuk (bukan ditransmisikan), dan kajian pragmatisme yang menekankan pada aktivitas belajar siswa melalui Learning by Doing, jika digabungkan akan menjadi satu olahan kolaboratif yang saling melengkapi. Hal yang luar biasa berharga untuk memperkaya referensi guru.

Learning by Doing dan Konstruktivisme

Dewey meneruskan tradisi pendidikan progresif yang berpandangan bahwa pendidikan bertujuan untuk memaksimalkan seluruh potensi yang dimiliki siswa, dan untuk mencapai itu guru harus berperan sebagai fasilitator yang bisa mendesain pembelajaran yang otentik (berpraktik dalam realita). Dalam kerangka ini, kegiatan belajar harus benar-benar berpusat kepada siswa dengan gaya belajar dengan melakukan (Learning by Doing). Dengan Learning by Doing, siswa diajak untuk belajar makna kehidupan dengan melakukan pengalaman langsung mengenai apa yang sedang mereka pelajari dalam kehidupan nyata. Pengalaman langsung ini diharapkan akan memberikan umpan balik yang segera untuk merangkai pemahaman belajar melalui trial and error menuju proses pemaknaan.

Persis seperti apa yang diungkapkan oleh Confucius puluhan abad yang lalu, yang berkata: “Aku mendengar, maka aku tahu. Aku melihat, maka aku ingat. Aku melakukan, maka aku mengerti.” Sedangkan kajian psikologi kognitif -yang sejalan dengan aliran pos-struktur- semakin menegaskan jika pengetahuan bukanlah sebuah entitas yang bisa dipisahkan untuk ditransfer ke dalam diri setiap siswa. Pengetahuan adalah proses bentukan (konstruksi) makna yang dibangun oleh siswa sendiri sebagai hasil resepsinya terhadap informasi. Lebih jauh skema ini terjelaskan dalam konsep asosiasi dan asimiliasi, bahwa pengetahuan akan bermakna bagi siswa apabila dihadapkan secara kontekstual (nyata).

Jika ditelusuri lebih jauh, benang merah dari dua dimensi perhatian kita ini adalah bentuk “Pembelajaran Aktif” yang berpusat pada siswa. Siswa belajar melalui aktifitas Learning by Doing, seperti bereksplorasi untuk inquiry atau pemecahan masalah, berdiskusi, mengerjakan proyek,berkarya, dan sebagainya untuk bisa mengkonstruksi pengetahuannya sendiri.

Ketika sebuah pengetahuan berhasil dipahami dan dimaknai oleh siswa, pengetahuan tersebut sewaktu-waktu dapat digunakan dalam berbagai situasi sehari-hari mereka. Dengan begitu peluang kemanfaatan belajar menjadi semakin besar. Karena output belajar bukan hanya penguasaan materi hafalan, tetapi juga sebuah keterampilan tertentu yang bisa dipraktikkan.

Kerangka Holistik sebagai Solusi

Kemudian, alangkah lebih bijak jika kita mampu berhati-hati. Karena umumnya, alih-alih mengekplorasi landasan pragmatisme, kita kemudian jadi menghilangkan sama sekali unsur esensialis-perenialis, sehingga pendidikan hanya diarahkan pada penguasaan keterampilan praktis untuk terserap lapangan pekerjaan. Persis seperti landasan awal dibentuknya pendidikan formal di jaman kolonial, di mana sekolah hanya didirikan untuk menghasilkan orang-orang terampil demi mengisi kekosongan tenaga pemerintahan. Oleh karena itu, landasan pragmatisme harus tetap dilihat sebagai satu unsur dalam rangkaian unsur-unsur pendidikan lain yang saling mengkayakan. Di samping itu, tujuan awal untuk memaksimalkan seluruh potensi yang dimiliki siswa juga hendaknya tidak terfokus pada dimensi kognisi dan psikomotor saja, unsur yang lain seperti nurani, afeksi, dan sentuhan kreativitas yang khas juga harus bisa dikembangkan secara optimal.

Akhirnya, jika pendidikan yang kaya dan menyeluruh ini dapat terlaksana dengan baik. Bukan tidak mungkin pendidikan tidak lagi dipandang sebagai persiapan untuk hidup, karena pendidikan adalah sebuah proses tentang kehidupan itu sendiri.

Tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *