ruang diri, ruang mimpi

 


wpid-wp-1411614932810

Di tahun 1998 aku mulai menjejaki dunia yang sangat kental berkaitan dengan isu pendidikan. Melanjutkan sekolah yang konon katanya akan mencetak calon-calon pengajar yang pada akhirnya membaktikan dirinya sebagai pengajar di negeri ini. Namun apa nyana, di lembaga pendidikan itulah aku harus memapar diriku atas bobroknya dunia pendidikan di negeriku tercinta.

Keterlibatanku di pers mahasiswa yang banyak mengusung isu pendidikan dalam berita-beritanya membuat aku berkubang dengan borok sistem pendidikan di Indonesia. Belum lagi tamparan buat diriku yang harus berhadapan dengan materi-materi yang berkaitan dengan proses penyiapan calon pengajar yang diberikan oleh sosok-sosok yang terkadang membuat aku bertanya-tanya, apakah sosok seperti inikah yang harus aku tiru sebagai pengajar sesungguhnya?

Mulailah aku mempertanyakan niat awalku memasuki lembaga pendidikan tersebut. Tepatkah cita-citaku untuk menjadi pengajar jika konsep pengajar yang ditanamkan dalam diriku tidak sejalan dengan bayanganku selama ini. Aku pun mulai bebenah, mengkritisi konsep dan sistem pendidikan lewat media, mempertanyakan setiap materi yang aku terima di ruang kuliah meski terkadang harus saling hantam dengan sosok dosen yang jauh dari sosok menginspirasi sebagai pengajar. Hingga aku bertekad untuk TIDAK MENJADI GURU pada akhir masa pendidikanku.

Aku pada akhirnya memilih bergelut pada dunia yang jauh dari dunia pendidikan. Media, isu-isu kesetaraan gender lebih banyak aku geluti di fase awal lepas dari dunia sekolah. Aku menempa diriku untuk mewujudkan cita-citaku yang baru dan mengubur keinginanku untuk menjadi pengajar karena enggan berhadapan dengan sistem pendidikan yang bobrok tak terkira. Hingga akhirnya aku bertemu Semi Palar.

Berawal dari ‘kebetulan’ yang aku yakini bahwa itu bukan kebetulan karena Semesta punya rencana buatku, aku akhirnya kembali menggali cita-cita lamaku. Aku memilih hal tersebut karena aku meyakini bahwa konsep yang dipaparkan padaku saat mengenal Semi Palar adalah konsep yang aku rindukan dihadirkan dalam dunia pendidikan kita. Apakah ada keraguan muncul saat aku bergabung? Oooh… tentu saja, terutama untukku yang menyadari kerusakan sistem pendidikan kita telah mengakar. Aku sempat ragu, apakah mampu Semi Palar mengayuh perahu yang berjalan melawan arus? Namun, hal ini juga yang pada akhirnya mendorongku melibatkan diri. Menaruh diri dan hatiku di sebuah sekolah kecil-pada masa itu dan menyiapkan dayung yang ku buat sendiri untuk sama-sama melawan arus sistem pendidikan kita.

Pergulatanku dengan Semi Palar bukan perkara mudah. Di mulai dengan mengunyah konsep holistik yang diusung, lalu hasil kunyahan yang luruh pada tubuh harus aku hadirkan dalam keseharianku menemani anak-anak. Ada saat-saat di mana rasa kunyahanku berbeda dengan tim yang lainnya, berkeras kepala dengan hasil kunyahanku atau mempertanyakan hasil kunyahan teman-teman dalam timku. Namun, proses itu jualah yang mematangkanku untuk mengunyah konsep holistik yang hingga saat ini pun masih aku kunyah perlahan. Mengolah, mengunyah konsep holistik bukan seperti memakan makanan instan yang bisa segera di masak lalu kita nikmati dalam sekejap. Mengunyah konsep holistik seperti layaknya membuka lahan tandus-teringat kisah Bumi Langit-yang harus kita olah perlahan dengan tubuh, hati dan jiwa yang dihadirkan Semesta untuk kita.

Holistik adalah hidup itu sendiri. Holistik adalah jiwa hakiki di mana Tuhan menitip nalar dan rasa untuk mencermati sekitar kita secara utuh. Jadi layak kiranya bila hingga detik ini proses kunyahanku belum juga usai. Proses yang aku lakukan hanya terus melengkapi dan mengolah diri serta terus memupuk kesadaran untuk terus membuka hati dan pikiranku.

Dari ruang kelas, dari mata anak-anak aku mencerna holistik dalam diri diriku. Sebuah pilihan besar buatku. Sebuah dunia yang tak pernah aku kira akan merasuk dalam tubuh dan jiwaku. Aku hanya bercita-cita menjadi guru yang bukan guru kebanyakan tapi yang aku lakukan adalah aku menjadi murid dari guru yang benar-benar guru. Guru yang mengolah bahan ajar dari ‘langit’. Di sinilah aku di tahun kesembilan belajar mengolah diriku. Di sebuah rumah yang membantuku bertumbuh menjadi diriku saat ini.

Sebuah pertanyaan besar menjadi temanku bergerak dan bertumbuh di Semi Palar. Sebuah pertanyaan mengenai ‘tepatkah pilihanku saat ini?” Pertanyaan ini hadir membuat aku masuk dalam sebuah kesadaran untuk membangun diriku selama di Semi Palar. Aku tahu bahwa Semi Palar punya mimpi besar, namun bentukanku yang merupakan produk masa silam yang selalu harus jelas bentuk tanpa memaknai proses seringkali menjadi penghambat untuk melihat dan mengolah proses yang aku jalani. Aku meminta wujud nyata dari mimpi yang sebetulnya sedang terus dibentuk. Cara pikir yang tidak pas ini membawaku pada keresahan dan merasa gamang dengan pilihanku, namun hal ini juga yang membawaku pada sebuah kesadaran untuk mengolah diriku dan keluar dari kungkungan bentukan masa silam.

Aku mulai menaruh diriku dalam ruang olahan sesungguhnya. Aku bukan mempertanyakan mimpi yang diinginkan Semi Palar. Aku memutuskan untuk ikut serta secara utuh hati dan diri dalam mewujudkan mimpi Semi Palar. Jujur… ini pun bukan dalam waktu yang cepat. Pergulatan diri, pemaknaan atas langkah serta olahan pikir jadi penentu bagaimana hati ini akhirnya ditaruh utuh. Namun, setelah langkah ini diambil, saat hati mulai ditaruh dan jiwa ditempatkan secara utuh, Semesta yang bekerja dengan caranya. Semuanya terbuka, semuanya terpapar pada mata, pada rasa, pada jiwa. Mimpi itu dihadirkan untukku. Belum dalam wujud utuh karena memang tak akan pernah aku nikmati utuh, namun percikannya saja bisa membuatku terhenyak dan mengucap syukur bahwa aku memilih sesuatu yang memang diterima hati dan jiwaku.

Satu dasawarsa Semi Palar… perjalanan yang tidak sebentar dalam hitungan angka, namun masih belum apa-apa saat aku berkaca mengenai upaya yang aku hadirkan. Tahun ini adalah tahun refleksi buatku. Mengolah langkah dan memacu hati dan jiwa karena aku telah mematri diri. Terus mengasah rasa dan membuka ruang belajar agar peran yang aku berikan semakin utuh… semakin utuh dalam jangkauanku. Utuhnya aku. Terima kasih, Semesta atas jernih mata, jernih hati yang terus Kau ajarkan untukku. Kini yakin di mana hatiku di taruh.

sebuah refleksi diri atas kehadiranku  tahun ke-9 | wienny siska
sumber : [hari jingga]

Tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *