belajar (tentang) hidup

 

Snap 2014-10-02 at 12.22.52

Masih ingat rasanya menjelang hari pertama kali masuk sekolah taman kanak-kanak? Telapak kaki melangkah riang, sesekali melompati genangan bekas hujan tadi malam. Tubuh bersih dan harum semerbak, akibat sabun mandi beraroma buah segar. Tawa yang terdengar bebas ketika percik air mengenai ujung sepatu. Mulut tak henti bersenandung lagu-lagu ceria. Kepala dan tangan pun seakan tak mau kalah bergoyang mengikuti irama. Mata bersinar cemerlang menyusuri setiap pojok dunia. Teman baru, kelas baru, guru baru, juga tas, sepatu, dan alat tulis baru. ‘Kebaruan’ yang semerta-merta menggembirakan. Menyanyi, menari, bertepuk tangan di kelas sepanjang hari. Pulang berjalan kaki ditemani gerimis hujan dengan segudang cerita untuk ibunda. Lalu, sebenarnya apa yang membuat perasaan senang membuncah di awal, kemudian meredup secara perlahan?

Sekolah, seakan menjadi pembuka babak baru kehidupan seorang anak. Bertambahnya kegiatan dan rutinitas, kegiatan bermain pun lambat laun tergantikan. Bangun pagi sebelum matahari terbit, mengarungi jalanan dihiasi kemacetan sebelum akhirnya sampai di sekolah. Lalu belajar, belajar, belajar. Kegiatan belajar mengalami penyempitan makna dan konteks. Belajar di rumah pun diasosiasikan dengan mengerjakan tugas atau pekerjaan rumah. Belum lagi berbagai macam kursus atau les tambahan untuk mengejar nilai berupa angka. Sekolah bagus diasosiasikan dengan kurikulum yang padat dengan tingkat kesulitan yang cukup tinggi untuk dikuasai oleh anak. Tas anak-anak sekolah di kota besar makin lama makin penuh dengan buku teks tebal yang direvisi hampir setiap tahun. Seleksi masuk siswa pun diperketat, konon para orangtua harus mendaftar jauh-jauh hari, bahkan setahun sebelum tahun ajaran baru dimulai.

Sementara itu, di atas salah satu gedung terbengkalai Pasar Ciroyom, seorang anak jalanan bertanya kepada saya, “Bikinin soal tambah-tambahan, Kak.” Ia menyodorkan sebuah buku tulis dan pensil yang sudah kumal dengan polosnya. Ia dan teman-temannya rutin belajar dibantu oleh kakak-kakak relawan. Semangatnya luar biasa, walaupun duduk beralaskan dus bekas dan beratapkan langit. Mereka, menapak jejak di tengah rimba kota, bertahan hidup menjadi kebutuhan utama. Membaca, menulis, dan berhitung seadanya. Asal tidak ditipu, kata mereka.

Pendidikan ala sekolah konvensional: berat, namun superfisial. Mengambang, tak menapak. Anak dituntut untuk ‘tahu’ atau ‘hafal’, tapi kurang diarahkan untuk ‘mampu melakukan’. Ilmu yang diajarkan di sekolah seakan terlepas dari fenomena kehidupan sehari-hari. Belajar tujuannya untuk memperoleh nilai tinggi dan ranking di kelas, bukan untuk menguasai materi secara mendalam. Demi kebanggaan orangtua, perlahan kegiatan belajar pun menjadi beban bagi anak, tak lagi menyenangkan. Masa kanak-kanak tak lagi identik dengan kebebasan untuk bermain. Orangtua seringkali menyalahartikan kegiatan bermain sebagai kegiatan yang tidak produktif secara akademis. Benarkah?

Pendidikan saat ini lebih menekankan hanya pada stimulasi berupa visual dan auditori, yaitu materi berupa teks baik dalam buku maupun dengan bantuan papan tulis, dan penjelasan dari guru. Muatan materi yang banyak dipadatkan dalam waktu yang singkat. Hanya sempat dibaca, tak sempat dibayangkan, apalagi dialami. Analoginya seperti memberikan manual cara menaiki sepeda. Guru hanya memberitahu untuk dapat menaiki sepeda dengan baik, anak harus bisa menjaga keseimbangan, duduk dan mengayuh, dll. Berhenti sampai di situ, anak tidak sempat mencoba dan mengalami. Proses ini yang menggiring kecenderungan murid untuk menghafal, bukan menghayati. Pada akhirnya, kelulusan pun ditentukan dari nilai ujian akhir yang berada di atas standar minimal. Pendidikan yang ditujukan pada suatu penyeragaman kompetensi, tanpa menghiraukan potensi dan perbedaan karakteristik diri.

Anak pada dasarnya memiliki rasa ingin tahu yang sangat besar. Albert Einstein pernah berkata, “Play is the highest form of research”. Di balik kesenangan yang meliputi pelakunya, manfaat bermain tak sesederhana tampilannya. Melalui bermain, anak bisa memuaskan rasa keingintahuannya tentang banyak hal tanpa disadari dan tanpa ada ketakutan untuk berbuat salah. Semakin beragam jenis permainan yang dilakukan, semakin banyak pengetahuan baru yang diperoleh. Karena sifat bermain yang spontan, anak dapat dengan bebas mengembangkan kreativitas dan imajinasi, serta kemampuannya di berbagai aspek selain kognisi, seperti emosi, motivasi, moral, dan sosial.

Kita ambil contoh kecil: main sepakbola. Permainan ini dilakukan secara berkelompok. Dalam permainan ini, anak berlatih ketahanan fisik dan kemampuan koordinasi gerak (motorik), menganalisis dan mengatur strategi (kognisi), mengendalikan emosi ketika bermain (emosi), jujur ketika melakukan kesalahan (moral), berinteraksi dengan teman dan bekerjasama dalam tim (sosial), untuk mencapai kemenangan (motivasi). Cara belajar yang menyenangkan bukan?

Otak manusia diciptakan dan dirancang sedemikan rupa untuk memroses kejadian-kejadian dalam hidup. Pikiran dan perasaan terhubung dengan sempurna. Sensasi objek diterima indera, dialami, dipersepsi, diiinterpretasi, lalu masuk ke dalam pusat memori. Berdasarkan hasil penelitian kejadian atau objek yang menyenangkan akan meningkatkan hormon dopamin. Hormon ini berperan kuat dalam tumbuhnya minat dalam proses belajar. Rasa senang menyebabkan suatu kejadian atau objek akan lebih lama diingat dan mudah di-recall jika disertai dengan muatan emosi positif yang kuat. Selain rasa senang, semakin banyak indera yang distimulasi, semakin banyak pula informasi yang diterima dan diproses.

Pendidikan dan proses belajar, sebenarnya tak hanya terjadi di antara dinding dan atap ruangan kelas semata, tak hanya terjadi di antara bunyi bel sekolah masuk dan pulang. Dunia adalah sekolah kita, seumur hidup adalah waktu belajarnya. Pendidikan hadir sebagai bekal hidup dan kehidupan itu sendiri, demi menjadi individu yang lebih baik di bumi. Ia yang mendasari pemikiran, sebagai reaksi terhadap rangsangan apapun yang muncul dari lingkungan, dan pembentukan sikap, sebagai aksinya. Ia yang membentuk manusia dengan segala keunikan yang tiada duanya.

Untuk mewujudkan pendidikan yang berguna, proses belajar dapat dibuat menyenangkan tanpa mengesampingkan tujuan utamanya. Baik dari sisi pendidik, maupun anak didik. Setiap anak dianugerahi potensi diri yang unik. Seperti kata Socrates, “Education is the kindling of a flame, not the filling of a vessel”. Mengobarkan, bukan semata-semata mengisi. Orangtua sebagai pendidik pertama anak, diharapkan mampu memenuhi kebutuhan dasar anaknya dan menciptakan lingkungan yang sehat agar anak dapat terus menumbuhkan rasa ingin tahunya. Sekolah, sebagai institusi formal, memiliki peran untuk dapat mengembalikan fungsi hakiki pendidikan, yaitu sebagai tempat untuk belajar tentang kehidupan.

narasi dan ilustrasi : Ratri Kendra (kak Wiwit)
Tagged , , , . Bookmark the permalink.

One Response to belajar (tentang) hidup

  1. Robertus Saliman says:

    Tulisan yang menggugah dan mengingatkan kita kembali akan hakekat dari pendidikan. Banyak orang sangat sadar akan makna pendidikan ketika ia sedang berada di luar dunia pendidikan itu sendiri. Tetapi ketika ia berada di dalamnya, maka ia “terjebak” dalam kebuntuan bagaimana harus mengaplikasikannya agar hakekat tadi terwujud. Mirip seperti dalam sebuah pertandingan sepakbola. Komentator akan terlihat sangat menguasai permainan sepakbola dibandingkan dengan para pemain yang sedang beraksi di lapangan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *