[artikel] Jangan Kerdilkan Anak | Dr. Ratna Megawangi

oleh Dr. Ratna Megawangi

Jakarta, Kompas

Nilai pelajaran di sekolah, menurut Dr Ratna Megawangi (46), bukan segala-galanya dalam perkembangan anak. Potensi intelektual hanya berperan 20 persen dalam perkembangan manusia, kata ahli perkembangan anak dan keluarga itu.

Potensi lain yang sama pentingnya adalah potensi fisik, emosi, potensi kreatif, potensi sosial, dan spiritual. Kecerdasan pun memiliki delapan aspek, bukan satu aspek saja, dan tiap aspeksama pentingnya, katanya.

Pendidik yang memimpin yayasan pendidikan berbasis karakter, Indonesia Heritage Foundation, itu menegaskan, pelajaran yang penuh beban akan membunuh insting belajar anak, membuat mereka tak punya kegembiraan dalam belajar (joyful learning), dan merampas hak anak untuk bermain serta bereksplorasi.

Kurikulum yang terlalu berat hanya dapat diikuti 15 persen siswa terpandai, ujarnya. Dia juga menengarai, banyak materi pelajaran yang tak banyak gunanya. Seperti anak disuruh menghafal nama-nama menteri. Apa perlunya? Apalagi kalau menterinya sering ganti-ganti, sambung Ratna. Banyak guru tidak mendorong anak menjadi paham pada apa yang dipelajari, tetapi menghafal.

Itu sebabnya, semua anak tahu kejujuran adalah hal utama, tetapi tetap menyontek aga r mendapat nilai bagus. Banyak anak tahu bagaimana menjaga lingkungan, tetapi membiarkan sampah berserakan dan menyumbat saluran air.

Keadaan seperti itu terbawa dalam tindakan hingga anak menjadi manusia dewasa. Ini menurut Ratna menjadi sumber kegagalan sebagai bangsa.

Nilai sekolah, menurut Ratna, tidak boleh mengerdilkan anak. Nilai buruk bukan berarti anak bodoh. Di sekolah kami anak tidak mendapat nilai sampai kelas IV SD supaya anak tak terpenjara dalam orientasi nilai-nilai pelajaran di sekolah, Ratna menjelaskan.

 

Karakter

Penentu keberhasilan, kata Ratna, bukan nilai-nilai pelajaran di sekolah, bukan aspek kognitif, tetapi karakter. Ia menyebut sembilan pilar karakter yang pent ing dikembangkan dalam diri anak supaya tumbuh menjadi manusia yang baik. Di antaranya kejujuran, kepedulian, kerja sama, kreatif, kerja keras, percaya diri, rendah hati, hormat, toleransi, cinta damai, mencintai Sang Pencipta dan seluruh semesta ciptaan-Nya.

Sayangnya, banyak orangtua dan guru justru menghambat perkembangan karakter anak. Penghargaan berdasarkan ranking, persaingan tak sehat, team work rendah, orientasi nilai dan tingkah laku yang snob, tidak mendukung pembentukan karakter anak, tutur Ratna.

Ada pula guru dan orangtua yang mengukur kemampuan anak dari kemampuannya sendiri. Kalau anak tidak mengerti akan dibentak, gitu aja kok enggak ngerti. Bila anak nilainya jelek diancam tak naik kelas. Sikap ini membuat anak takut jujur dan takut salah. Ini sangat menghambat pembentukan karakter anak, kata Ratna dengan tegas.

Beban di sekolah saat ini membuat seakan-akan yang terpenting adalah pendidikan sampai universitas lalu menjadi pegawai. Ratna meyakini semua pekerjaan yang menyumbangkan kebaikan bagi kemanusiaan adalah baik dan layak dilakukan dengan cinta dan rasa bangga.

Luka yang menetap dalam batin anak yang dimaki, dihardik, dan dicemooh orang yang lebih tua sulit disembuhkan. Sekalipun yang melakukannya sudah minta maaf dan mungkin saja si anak mengatakan sudah memaafkan. Ibarat memasukkan kembali susu yang sudah dibuang dan bercampur tanah ke dalam gelas. Kata-kata yang menimbulkan luka tak bisa ditarik lagi.

Hanya cinta dan kasih sayang yang menjadi cahaya bagi perkembangan anak, ujar Ratna.(MH)

Tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *