catatan pak Iwan – perjalanan pengalaman literasi

 

Pengantar:
Di awal TP 11 ini, kami di Semi Palar mulai membedah kembali perihal Literasi secara mendalam. Pembekalan pertama bagi kakak-kakak Smipa di hari Rabu lalu diisi dengan mencoba memahami kembali hakikat literasi. Memahami bagaimana semestinya seorang manusia belajar berbahasa dengan sebaik-baiknya. Seusai pembekalan teringat sesosok istimewa yang ada di Semi Palar, pak Iwan. Pak Iwan (Iwan Ernawan Prawiro) bukan fasilitator kelas, beliau pengurus kebun di Semi Palar. Tapi pengalaman literasinya – pergumulannya dengan dunia perbukuan – melampaui banyak dari kita (para kakak dan mungkin juga orangtua). Sosoknya sederhana, tapi kunyahan literasinya luar biasa. Mari kita belajar dari pak Iwan.

 

wpid-2015-09-29-20.46.32.jpg.jpg

tulisan asli pak Iwan dari narasi yang kami ketik ulang di posting ini.

 

Malam ini, September tahun 2015.
Saya akan mencoba mengingat kembali masa kecil saya, atau mundur 40 tahun ke belakang. Mungkin kurang atawa lebih ketika itu saya kelas 3 Sekolah Dasar. Sepulang sekolah saya sudah terbiasa mampir dulu ke Taman Bacaan. Taman Bacaan Ananda namanya. Tujuan saya hanya satu, mudah-mudahan di sana ada teman-teman yang sedang membaca komik. Dan saya bisa gabung numpang baca buku komik itu. Soalnya waktu itu sewa buku komik mahal, sekitar Rp. 1o perak – satu bukunya, sementara uang jajan saya juga Rp. 10 perak – itupun tidak tiap hari dikasihnya.

Saya hoby pisan membaca apalagi komik fantasi, seperti Superman, Godam, Gundala, Kapten America dan banyak tokoh-tokoh lain yang saya anggap jagoan yang selalu menjadi pahlawan. Kalau selalu nebeng baca lama-lama saya jadi malu. Akhirnya saya mulai menabung untuk sewa buku. Dan pada akhirnya setiap minggu saya bisa datang ke taman bacaan itu. Uang yang saya kumpulkan satu minggu dapat buat sewa buku 3 jilid.

Ketika saya mulai bosan dengan bacaan fantasi, kemudian saya mulai membaca buku komik silat, ternyata buku silat lebih mengasyikkan. Itu terus berlanjut sampai saya kelas 6 Sekolah Dasar. Saya mulai senang sama pengarangnya Djair, Ganes TH. Soalnya ceritra silatnya terselip ceritra sejarah. Ketika saya masuk SMP saya beralih membaca buku silatnya Asamaraman Kho Ping Ho – yang bukunya sudah bukan komik lagi, ukurannya lebih kecil. Berpuluh-puluh buku bahkan ratusan mungkin saya baca karya Kho Ping Ho selama kurang lebih 3 sampai 4 tahun.

Ketika saya duduk di bangku SMA, saya mulai berpikir atawa punya cita-cita membuka Taman Bacaan. Soalnya buku koleksi saya sudah lumayan banyak. Kadang teman-teman suka minjam buku dari saya. Dan waktu itu kedua orangtua saya tahu bahwa hoby saya baca buku. Sama, merekapun kutu buku.

Masa remaja, saya mulai membaca novel. Novel yang banyak dibaca pada waktu itu adalah karyanya Edy D. Iskandar (novel cengeng katanya). Kemudian saya mulai suka baca buku ibu saya seperti bukunya Mira W, Remy Silado, Motinggo Busye dan yang lain-lainnya. Tapi tetap saya lebih tertarik novel silat. Dan waktu itu Bastian Tito, yang ceritranya sangat mengasyikkan. Terbit 1 bulan sekali. Saya mulai membacanya dari seri pertama – sampai seri ke 97 atau lebih, pengarangnya keburu wafat.

Buku koleksi Bapak saya juga ada, dan waktu itu bapak saya memberi satu buku kepada saya, “Nih, buku bagus! Baca teliti dan resapi maknanya.” Sebuah buku roman yang belum pernah dibaca oleh anak2 SMA waktu itu : Bumi Manusia (karya Pramoedya Ananta Toer, Red) Setelah membaca buku itu, saya semakin lupa waktu – terus baca buku.

Masa-masa SMA, saya menjadi kutu buku, saya mulai bikin-bikin ceritra pendek atau ceritra mini. Terlintas pikiran saya menjadi pengarang atau jadi ilustrator. Sampai-sampai saya dijuluki teman-teman: Pengarang Cengeng. Waktu terus berjalan, setelah lulus SMA, koleksi buku saya sudah banyak. 1.000 buku mungkin lebih. Saya berniat mewujudkan cita-cita saya membuka Taman Bacaan.

Namun ketika itu saya diajak kakak pergi ke Medan untuk bekerja menjadi Surveyor. Dan sayapun pergi ke Sumatera, kerja di hutan dan pulau terpencil membuat saya berhenti dulu membaca buku. Paling saya baca buku tentang Geodesi, sambil belajar untuk menjadi Surveyor. 6 tahun saya jadi Surveyor.

Desember 1989, usia saya 27 tahun, saya menikah dengan gadis Palembang. Sesudah saya menikah saya keluar jadi surveyor dan cita-cita saya terlaksana membuka Taman Bacaan. Saya membuat Taman Bacaan di depan rumah, “Taman Bacaan Daun Hejo“. Wah keren pikir saya waktu itu. Ternyata minat baca penduduk sangat bagus. Banyak yang pinjam buku ke Taman Bacaan saya, jadi penghasilan yang lumayan. Ternyata istri saya juga mempunyai hoby yang sama – jadi klop. Sambil menunggu yang nyewa buku, istri, ibu dan kakak saya jadi ikut membaca buku bareng-bareng. Dan hoby sayapun terus berlanjut.

Waktu itu tahun 1994, saya diminta untuk mengukur tambak udang di Semarang oleh kakak saya. Jadi surveyor lagi, dan tahun itulah saya kehilangan koleksi buku saya yang saya kumpulkan bertahun-tahun. Ketika saya pulang dari semarang, buku saya telah dilelang oleh saudara saya (almarhum). Saya menyesal sekali, saya coba membelinya lagi namun yang membeli semua buku saya tidak mau dibeli lagi. Mulai saat itu saya berhenti membaca buku.

Saya mulai membaca buku lagi, ketika saya kenal dengan seorang kakak di Rumah Belajar Semi Palar: Taufanny Nugraha. Dia memberi saya buku roman karya Pramudya Ananta Toer. Semangat baca saya timbul lagi, padahal buku koleksi anak saya juga sudah lumayan banyak. Ada beberapa kakak Smipa memberi pinjaman buku kepada saya. Namun sekarang kalau ada buku baru jadi berebut bacanya. Anak saya dua-duanya hoby baca soalnya. Ya.. buru-buruan deh membacanya.

  • Sebetulnya dengan membaca kita jadi tahu kapan terjadinya Perang Diponegoro
  • Kita jadi tahu kenapa orang-orang PKI dihukum tanpa diadili
  • Kita jadi tahu kenapa Dayang Sumbi tidak mau diperistri oleh Sangkuriang.
  • Dan kita jadi tahu dan bisa berceritra kepada teman-teman yang belum pernah membaca buku.

Dan sekarangpun saya sedang membaca : Manuskrip PKI… Asyieek…

 

DSCF6133

pak Iwan saat jadi pengulas buku Menelusuri Jejak Mataram di Roemah Seni Sarasvati karya Kelompok Marlin – Juni 2014

 

Tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

One Response to catatan pak Iwan – perjalanan pengalaman literasi

  1. braja santika says:

    Salut untuk Pak Iwan! Pengalaman serta semangatnya membaca buku sungguh menginspirasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *