belajar menghargai ‘yang kecil’

 

wpid-20151124_072310.jpg

 

Adakah yang bisa menebak, apa yang sedang terjadi?
Apakah yang sedang dilakukan teman kita ini?

|
|
|
|
|
silakan tebak dan kemudian scroll ke bawah untuk jawabannya…
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|

Peristiwa ini terjadi setelah Lingkar Doa Pagi yang biasa kita laksanakan di longpus (kolong perpus). Setelah saling menyampaikan selamat pagi, lingkaran membubarkan diri untuk mulai berkegiatan di kelompok masing-masing. Hampir semua dari kita berjalan di teras kelas menuju ke kelas masing-masing. Teman kita ini memilih untuk mnyeberangi lapangan rumput… Dan demikianlah caranya menyeberangi lapangan rumput – karena sudah disepakati bersama bahwa lapangan rumput di Smipa tidak boleh diinjak dengan menggunakan alas kaki Tapi ya teman kita ini punya cara unik untuk melakukannya.

Beginilah kita berhasil menjaga dan menyayangi lapangan rumput Semi Palar yang tidak terlalu luas. Seperti semacam harta berharga yang kita jaga bersama. Rumput yang biasa kita injak-injak kita tanpa banyak kita pikirkan, kita tempatkan sebagai sesuatu yang istimewa. Selain kesepakatan di atas, kita juga punya Hari Rumput yang secara berkala kita berlakukan – saat rumput2 di lapangan itu mulai layu dan mengering, dipandang perlu beristirahat dan menyegarkan dirinya kembali – sebelum kita kembali bermain bersama.

Tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *