‘situbacang’ : mempraktikkan gift economy

Di awal Tahun Pendidikan ke sebelas ini, melalui Taki-taki keluarga besar Semi Palar berkesempatan belajar dari Satish Kumar yang memaparkan tentang pentingnya kita memasuki babak baru (New Story) karena pola-pola kehidupan kita yang selama ini dijalankan – tanpa disadari – membawa begitu banyak keburukan bagi manusia dan peradabannya.

Di Semi Palar hal ini mulai digaungkan sebagai Kehidupan yang Berkesadaran. Babak baru perlu mulai kita tuliskan bersama agar tidak tinggal di ruang imajinasi tapi jadi kisah pengalaman perjalanan hidup kita yang nyata.

Di bawah ini filem pendek dari Charles Eisenstein – bertajuk Sacred Economics yang menyadarkan kita bahwa ada cara-cara lain kita bisa memenuhi kebutuhan kita tanpa harus selalu bersandar pada uang dan sistem ekonomi yang sekarang berjalan. Dalam prosesnya kalau hal ini kita lakukan, kita juga akan menyumbang sesuatu pada sustainability, pada keberlanjutan, karena sumber daya alam di planet bumi ini kita tahu sangat terbatas.



22 Maret lalu, kami, para kakak mencoba menerapkan apa yang disebut oleh Satish Kumar sebagai Gift Economy atau Sharing Economy.

Gagasan mengenai SiTuBaCang terinspirasi pertama kali melalui konsep Free Store – yang salah satunya didirikan di sebuah kota di India bernama Auroville. Klik tautan berikut ini untuk membaca lebih jauh tentang Free Store di Auroville .

Di bawah ini sebuah video pendek tentang Free Store sebagai bagian dari Transition Town’s Movement.





Di Semi Palar kegiatan serupa ini kita namakan SiTuBaCang (silih tuker barang rencang) – dan kegiatan yang pertama dikoordinasikan oleh kak Caroline.

20160317_164202.jpg

Kesepakatan SiTuBaCang sangat sederhana :

  • Barang-barang yang disumbangkan harus dilepaskan keterkaitan dari nilai / harganya.
  • Barang harus dalam kondisi baik, masih berfungsi – sehingga nilai kemanfaatannya bisa dinikmati orang lain.
  • Setiap barang yang disumbangkan akan ditukar sebuah koin (token). Token ini penanda bahwa pemegangnya berhak mengambil satu barang lain yang dibutuhkan di saat kegiatan berlangsung. Di kegiatan-kegiatan tertentu untuk membatasi jumlah barang kemungkinan jumlah barang yang disumbangkan akan dibatasi.
  • Koin boleh disimpan untuk kegiatan berikutnya, dan dapat disumbangkan kepada rekan lain yang membutuhkan.
img-20160316-wa0002.jpg

Token / Koin SiTuBaCang

Koin ini seperti yang dilihat di atas dinamai Kencring Penukeur Kaheman (koin penukar kesayangan) 🙂 Koin ini yang menjadi media penukar di antara para pelaku SiTuBaCang. (catatan: nama koin digagas oleh kak Nana)

Di kegiatan pertama SiTuBaCang, ternyata muncul keseruan tak terduga. Bagaimana kita belajar ‘melepas’ dari benda-benda yang selama ini mungkin jadi milik kesayangan kita – walaupun sudah tidak kita manfaatkan lagi. Betapa terasa bahwa kakak2 mempercayakan barang miliknya kepada pemiliknya yang baru. Luar biasa. 🙂 Ternyata ada hal lain yang muncul dan terasa, bagaimana konektivitas di antara pelakunya terjalin lebih dekat.

Akhirnya kegiatan ini segera diwacanakan untuk menjadi kegiatan bersama juga di Rumah Belajar Semi Palar – belajar untuk hidup berkesadaran, membangun koneksi, menghilangkan konsumtivisme, belajar melepas, menyayangi bumi dan orang-orang di sekitar kita… mendapatkan kegembiraan – sambil menghemat pula…
Nantikan yang berikutnya dan kami nantikan partisipasinya 🙂

Tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *