[ibex] Perjalanan Kecil: Kampung Sekepicung

Tanggal 27 Oktober 2016

Kelompok Pyrenean Ibex melakukan perjalanan kecil ke Kampung Sekepicung. Kami akan melihat langsung kelompok masyarakat yang mendukung gerakan pembangunan berkelanjutan. Kami bertemu di Terminal Dago dan berinteraksi dengan para pedagang di pasar yang beroperasi di pagi hari. Kami menanyakan berbagai hal yang berkaitan dengan pengolahan sampah dan limbah di sana. Setelah melakukan wawancara, kami berjalan kaki ke Kampung Sekepicung yang jaraknya sekitar 2 km dari terminal. Di perjalanan kami memperhatikan penggunaan lahan di kanan kiri jalan raya dan volume kendaraan yang lewat. Keduanya akan mempunyai dampak terhadap lingkungan. Tahu kan kamu dampak apa saja yang mungkin terjadi…

Setibanya di tepi Kampung Sekepicung kami disambut oleh Kelompok Okapi (KPB-SMA Smipa) yang akan menyertai kami dalam perjalanan penjelajahan kampung. Ada juga Kak Angga yang banyak bercerita tentang daerah resapan di Bandung yang makin berkurang. Setelah itu kami menapaki jalur terjal dan licin menuju kebun permakultur milik warga Kampung Sekepicung. Kami lalu dibagi jadi dua kelompok. Satu kelompok membuat kompos dan menanam di kebun, kelompok lain berangkat melihat mata air (katanya kalau cuci muka dan minum di sana bisa awet muda). Wah, seru, pengalaman menggunakan cangkul dan arit, mencium bau kompos yang siap digunakan, menyeberangi jembatan bambu, membasuh wajah dan minum di mata air, terpeleset di tanjakan berlumpur, dan melompati parit-parit. Kami beristirahat di sebuah saung dan mendengarkan cerita Kak Angga tentang masyarakat dan lingkungan di Kampung Sekepicung.

Siangnya kami berangkat ke Rumah Belajar Mentari, sebuah komunitas belajar yang dirintis oleh dua orang warga Kampung Sekepicung yang hebat. Hujan lebat mengguyur kami semua. Untunglah sudah memakai jas hujan dan sedia payung sejak berangkat tadi. Sambil makan siang, kami menyimak cerita-cerita Pak Lala dan Ibu Dewi. Banyak sekali hal baru yang kami ketahui sekarang, antara lain alih fungsi lahan dan penyebabnya, pernikahan dini di masyarakat karena himpitan masalah keuangan, pencemaran sungai, dan gaya hidup masyarakat yang mulai berubah.

Kunjungan singkat kami ditutup dengan belajar pencak silat bersama di pelataran masjid bersama dua orang jawara Kampung Sekepicung. Ah, ternyata sulit-sulit gampang mengikuti gerakan-gerakan dasar silat. Gerimis yang turun tak kami rasakan karena kegembiraan kebersamaan.

Selamat tinggal Kampung Sekepicung, sampai jumpa!

sekepicung_kolase_original
Catatan proses: Kak Caroline

Tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *