Festival Budaya di Smipa: Kolaborasi Kebhinekaan dalam Satu Hajatan

Bagian 1: Sumbangan tulisan salah satu orangtua Kelp. Binturong (terima kasih ya Bu…)

Hari ini, 17 Februari 2017, perhelatan istimewa diadakan di Smipa. Dengan mengusung tema “Mengarungi Samudera Nusantara”, diadakan Festival Budaya oleh Kakak-Kakak (sebutan bagi Guru) dan teman-teman (sebutan untuk anak-anak) dari Kelp. Quagga (SD-1) dan Kelp. Binturong (SD-2), serta Jelajah Nusantari persembahan dari Klab Tari Smipa.

Sejak pagi cuaca yang begitu cerah mengantarkan keceriaan pada keluarga besar Smipa yang telah mempersiapkan hari penting ini sejak beberapa minggu sebelumnya. Bertepatan dengan tanggal 17, di hari ini juga diadakan upacara bendera khas Smipa yang rutin diselenggarakan bulanan. Karena itu, teman-teman dari semua jenjang (kecuali KB) dan para Kakak hari ini mengenakan pakaian berciri Nusantara. Orang tua Prajurit Quagga dan Laskar Binturong yang hadir juga memakai pakaian Nusantara untuk melengkapi suasana kebhinnekaan.

Usai upacara, Festival Budaya dibuka dengan penampilan teman-teman Quagga membawakan Tari Dingding Badingding yang berasal dari Sumatra Barat. Setelah itu, dilanjutkan dengan penampilan Tari Saman dari Aceh oleh teman-teman Binturong. Kak Ome, meski dia bukan berasal dari Aceh, menunjukkan kebolehannya mengiringi tarian dengan cengkok Melayu yang khas. Kedua tarian ini menyajikan harmoni rasa dan gerak yang menyatu dengan alunan musik, sehingga menampilkan keindahan yang memukau dalam balutan kesederhanaannya. Selanjutnya, teman-teman Quagga dan Binturong dalam kelompok-kelompok kecil mempersembahkan rangkaian lagu dari berbagai daerah, seperti misalnya Sajojo, Ampar-ampar Pisang, Cik Cik Periook, Anak Kambing Saya, Angin Mamiri, dll.

Seperti festival pada umumnya, perayaan hari ini juga dilengkapi sajian kuliner tradisional yang disiapkan oleh para orangtua. Ternyata cukup banyak jenis penganan daerah tersaji dalam Festival Budaya kali ini, antara lain: pempek (Palembang), es pisang ijo (Makasar), kue bagia (NTT), pisang kipas (Kalimantan), kue ape (Betawi), dan minuman jamu-jamuan (Jawa). Anak-anak pun mendapat kesempatan mencicipi kuliner Nusantara setelah tampil menari dan menyanyi.

Usai berkuliner, Festival Budaya kemudian dilanjutkan dengan tampilan Jelajah Nusantari. Penampilan ini melibatkan peran Bude Ratna dan Kak Ayu sebagai pelatih, Kakak-Kakak Smipa, anak-anak, dan juga orang tua yang tergabung dalam Klab Tari. Tarian pertama persembahan kelas orang tua yaitu Tari Puspanjali dari Bali, disusul dengan Tari Betawi, dan Tari Landek Biring dari Batak. Kemudian, kelas Kakak menampilkan Tari Caping, diikuti dua penampilan dari kelas anak yaitu Tari Mbok Jamu dari Jawa dan Tari Neng Senengan dari Madura. Penampilan Klab Tari ini ditutup dengan Tari Ibu Pertiwi yang mengangkat situasi kegelisahan Tanah Air akibat berbagai peristiwa yang terjadi belakangan ini, namun akhirnya masalah-masalah tersebut dapat diselesaikan dengan baik dan harmonis. Tari Ibu Pertiwi ini merupakan kolaborasi dari orang tua, Kakak, dan anak-anak yang diiringi pembacaan puisi oleh Lian (KPB). Festival akhirnya ditutup dengan lagu Indonesia Pusaka yang dinyanyikan bersama oleh seluruh komunitas Smipa yang hadir.

Festival pada hari yang indah ini telah berakhir, namun meninggalkan rasa dan kenangan yang melekat kuat. Kerjasama, kepercayaan, dan ketekunan yang dianyam selama berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan, telah membuahkan jalinan ikatan persatuan dalam keanekaragaman yang manis dan kokoh.

Cerita di balik layar 🙂

Di balik penampilan kelas tari orangtua dan Kakak, tercatat usaha dan persiapan yang luar biasa. Latihan untuk penampilan hari ini sudah dimulai sejak Oktober 2016, dengan beberapa perombakan karena adanya perubahan personil. Untuk kostum pentas, ibu-ibu juga sibuk mendatangi tempat penyewaan beberapa hari sebelumnya, memilih-milih kostum, dan mengepas. Kehebohan mereka bahkan terlihat jauh melebihi kehebohan persiapan penampilan dari kelas anak. Satu hari sebelum Hari-H, gladi resik juga digelar khusus untuk kelas dewasa demi suksesnya penampilan.

Percakapan di grup WhatsApp “Klab Tari Jingkrak”(nama untuk grup klab tari Orangtua dan Kakak) beberapa hari menjelang hari-H, dinamikanya juga mengundang banyak senyum. Tentang persiapan bulu mata ‘badai’ dan lipstik ‘cetar’, serta siapa yang dapat membantu memasangnya. Awalnya saya bingung dengan istilah ‘badai’ dan ‘cetar’. Ternyata setelah saya telaah, yang dimaksud adalah: bulu mata palsu super panjang yang dipasang dengan lem yang kuat sehingga badai pun tak kan sanggup merobohkannya, dan lipstik merah terang yang warnanya cetar membahana. 🙂

Belum lagi kehebohan urusan pinjam-meminjam korset dan stagen di antara Bude Ratna, para ibu, dan Kakak. Bahkan, salah seorang Kakak yang di keseharian biasanya terkesan tampil cuek jauh dari berdandan, juga turut sibuk mencari pinjaman catok rambut demi tampilan yang prima saat menari. Memang luar biasa! 🙂

 

Bagian 2: Catatan  proses Kak Lyn (SPP-Ortu)

Suasana Smipa di hari ini tampak ramai dan bergairah. Orangtua Kelp. Quagga dan Kelp. Binturong (SD 1-2) hampir semua datang; beberapa tampak mengajak serta keluarga dekat. Mereka mengenakan pakaian berciri Nusantara dan saling menyapa dengan gembira. Beberapa membawa makanan khas daerahnya untuk dinikmati bersama di jeda sesi pertunjukan.

Anak-anak dan Klab Tari tampil bergantian secara luar biasa. Aura bersungguh-sungguh sekaligus natural dan gembira sangat kuat terasa. Penonton begitu antusias merespon tampilan, memberikan apresiasi serta mengungkap kagum dan terhibur lewat banyak ekspresi spontan: gelak tawa, teriakan dan suitan-suitan penyemangat, juga tepukan tangan membahana. Beberapa orangtua terlihat menyeka mata diam-diam, terharu dan bangga menyaksikan anaknya di depan bisa tampil sebaik itu, penuh percaya diri sekaligus happy. Jauh lebih baik dari ekspektasi mereka di awal; sungguh membahagiakan!

Suasana seru dan akrab merebak manis di sepanjang hari kegiatan. Tengah hari saatnya beranjak pulang, senyum menghiasi wajah-wajah puas dan senang; berjalan bersisian saling bertukar cuplikan cerita lucu, seru, haru dan indah yang tadi disaksikan. Kami dari sisi sekolah tak kurang bahagia.

Dari kesemua proses hari ini, sasaran kegiatan mengenalkan budaya Nusantara dan menjalin kedekatan keluarga besar Smipa tampaknya telah kita bersama capai dengan gemilang. Kegiatan Festival Budaya kali ini berjalan sangat baik di banyak sisinya terutama dalam konteks kolaborasi energi dan kehadiran komponen anak, orangtua, dan Kakak guru. Spirit Rumah Belajar Smipa terasa hadir dan berkembang hidup.

Terimakasih super spesial untuk semua pihak yang sudah berpartisipasi:

  • para Kakak dan khususnya tim Kakak SD 1-2 (kak Novi, Kak Rani, Kak Tema dan Kak Ome) yang sudah begitu canggih mempersiapkan dan mengelola program sangat keren ini. Melihat hasilnya pastinya proses persiapannya digarap dengan sangat serius
  • anak-anak yang dengan penuh semangat menampilkan yang terbaik dengan tetap natural bersikap laku kanak-kanak khas gaya dan ruang mereka. Hal ini membuat rangkaian pertunjukan sangat orisinil, terasa nikmat-hangat, dan sangat menghibur.
  • anak-anak, orangtua dan Kakak yang tergabung di Klab Tari, dan khususnya Bude Ratna dan Kak Ayu (guru tari), juga Bu Anne dan Bu Nophie (PJ Klab).
  • dan tentu saja terima kasih juga kepada seluruh orangtua yang sudah mengkhususkan datang untuk menonton

Sampai jumpa di kegiatan-kegiatan selanjutnya. Semoga ke depan kita bisa punya banyak kegiatan serupa yang kental berciri kesederhanaan namun seru dan begitu mengisi… 🙂

     Foto-foto: Rainor (terima kasih ya Pak) dan Lyn

 

 

Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *