[kakapo] Nyaba Lembur ke Desa Mekar Sari, Gambung

28 Februari  – 02 Maret 2017

Nyaba Lembur menjadi kegiatan yang dialami setiap anak kelas 7 di Rumah Belajar Semi Palar. Melalui kegiatan ini, kami ingin mengajak anak untuk melatih kemampuan berinteraksi, beradaptasi, dan bersosialisasi di tengah lingkungan masyarakat desa, dengan mengasah kepekaan/daya tangkap, empati, dan daya olah terhadap lingkungan baru

Sejak pertama kali disampaikan, teman-teman Kakapo memang sudah merasa antusias dan tidak sabar ingin segera melakukan kegiatan Nyaba Lembur di kelas 7. Berbagai rangkaian kegiatan Persiapan Nyaba Lembur juga telah dilakukan untuk menyiapkan anak dalam melakukan proses adaptasi mereka di lokasi. Kegiatan persiapan tersebut termasuk Pendalaman dan Pemaknaan Konsep Nyaba Lembur, Pendokumentasian Pengalaman dan Pengamatan, Simulasi Interaksi, Simulasi Berkemas, selain juga berbagai persiapan yang dilakukan di rumah lewat Bingo Kemandirian, serta beberapa kesepakatan yang diaturkan bersama dengan anak, orangtua, dan kakak. Teman-teman Kakapo memang awalnya tampak canggung dan sungkan, namun secara umum mereka sudah mulai dapat beradaptasi dengan lingkungan barunya.

Di hari ke-2 baru mereka mulai cukup lincah menyesuaikan diri dengan berbagai situasi yang tidak selalu sesuai dengan Simulasi Interaksi yang telah dilakukan di kelas. Mereka juga sudah mulai menjalin pertemanan dengan anak-anak sekitar dan mulai melebur dengan baik dalam berbagai aktivitas keseharian warga.

Dalam satu hari, teman-teman Kakapo mendapatkan taklimat pendetailan serta arahan kegiatan tertentu dari kakak sebanyak 2 kali; taklimat siang (pukul 13.00 – 14.00 WIB) dan taklimat malam (pukul 18.30 – 19.30 WIB), agar proses adaptasi serta pembelajaran mereka berjalan optimal. Di akhir hari, mereka harus menuliskan hasil refleksi diri dari pengalaman mereka selama satu hari penuh tersebut. Beberapa pemaknaan penting yang mereka dapatkan dari pengalaman mengikuti kegiatan Nyaba Lembur kali ini adalah (mengutip beberapa tulisan hasil refleksi anak); “Bahagia itu sederhana”, “Silaturahim (networking) itu salah satu kunci kesuksesan”, “Aku kangen dan sayang banget sama keluarga aku di Bandung”. Kakak-kakak juga mengingatkan agar berbagai pemaknaan positif yang mereka dapatkan di Gambung tidak serta merta saharitaeun, hanya sekejap ketika mereka berada di sana, tapi juga harus dapat mereka bawa dan terapkan di rumah, di Bandung, dimanapun, sesuai dengan konteks dan situasinya.

Selain dapat melebur dengan keluarga angkat masing-masing, teman-teman Kakapo juga dapat melebur bersama teman-teman Gambung sepantaran mereka di sana dengan baik. Beberapa anak memiliki jadwal main bersama setiap harinya dengan teman-teman barunya (main bola; eksplorasi kebun teh, sungai, desa; ulin japati; latihan tari; dsb.). Salah satu anak dari Gambung bahkan menangis ketika tahu bahwa teman-teman Kakapo harus pulang ke Bandung. Ada dua anak bahkan *keukeuh* ingin pulang hari Sabtu karena mereka berencana untuk menonton pertandingan Persib Bandung bersama di rumah teman baru mereka. Seluruh teman baru di Gambung – tanpa diminta – ikut mengantar kegiatan hiking sambil berkegiatan bersama sebelum berpisah sementara. Sebagian teman lainnya berkesempatan berfoto bersama sebelum teman-teman Kakapo pulang.

Teman-teman Kakapo sudah dapat melakukan proses adaptasi, mengasah kepekaan, melatih kemandirian, dengan cukup baik. Mudah-mudahan teman-teman Kakapo bisa mempertahankan hal-hal yang baik yang berkembang selama persiapan hingga Nyaba Lembur ini.

TITASIK (program simulasi studi kasus 23 Maret 2017)

Penunjuk waktu menampilkan detik hitungan mundur selama 1 jam, yang ditampilkan melalui layar laptop. Suara latar berupa suara badai yang terjadi di tengah lautan, diperdengarkan melalui pengeras suara di dalam kelas…
Teman-teman Kakapo kali ini dibagi ke dalam 3 kelompok (masing-masing 4 orang anggota kelompok), mereka berperan sebagai perwira kapal yang harus berdiskusi dan mencari solusi terbaik dari sebuah peristiwa genting, dalam waktu 1 jam.

Menyadur dan memodifikasi peristiwa tenggelamnya kapal Titanic, masing-masing kelompok harus dapat mencari, merangkum, dan mengolah informasi-informasi yang dibutuhkan untuk dapat mencapai tujuan utama dari simulasi ini yaitu menyelamatkan sebanyak mungkin penumpang kapal Titasik yang menabrak karang di daerah Laut Jawa, menuju ke kota besar terdekat.

Informasi awal yang diberikan oleh kakak hanya informasi seputar waktu terjadinya tabrakan (02:20 WIB), waktu yang dimiliki sebelum kapal tenggelam total (1 jam), jarak ke kota besar terdekat (Jakarta; 77,4 km), dan radius alat komunikasi yang masih berfungsi (transmiter radio; radius 7 km). Berbekal informasi yang sedikit tersebut, setiap kelompok diberi kesempatan untuk mengajukan pertanyaan tertulis (setiap 10 menit sekali) tentang apapun yang mereka pikir dapat menjadi informasi penting untuk mereka olah guna mencapai tujuan utama simulasi ini.

Menarik! Dengan pengaturan suasana yang mencekam, dan diburu oleh waktu, teman-teman Kakapo teramati cukup merasa panik namun masih dapat berupaya berpikir jernih dan kritis. Hal ini terkonfirmasi lewat pertanyaan-pertanyaan tertulis yang mereka ajukan; sistematis dan dengan pertimbangan yang luas. Kakak menemukan – contohnya – pertanyaan; “Kalo 1 knot itu berapa km/jam?”; “Koordinat tabrakannya di mana?”; “Arus ombak dan arah anginnya kemana? Berapa kuat?”; “Daftar abjad kode Morse gimana?”, dll. Teman-teman Kakapo dapat menelisik dan mengelaborasi berbagai informasi untuk mereka olah menjadi alternatif solusi. Hal ini memang tujuan utama dari kakak dalam merancang dan menggulirkan program Titasik ini.

Di akhir kegiatan – meski belum ada kelompok yang dapat memberikan rumusan alternatif solusi yang tepat – teman-teman Kakapo diminta untuk menuliskan refleksi mengenai hal-hal dan nilai-nilai apa yang mereka dapatkan dari guliran program ini. Salah satu anak menulis “Harus bertanya tepat sasaran jika tidak bisa membingungkan yang menjawab dan itu bukan salah mereka. Harus tenang dalam segala situasi, tapi bukan santai. Bekerja sama dengan baik antar teman. Jangan mengambil keputusan terlalu cepat. Jangan terdistraksi oleh hal kecil. Prioritaskan hal yang penting. Tidak cukup kita belajar satu bidang saja untuk dapat menyelesaikan permasalahan hidup”. Semoga nilai positif yang teman-teman Kakapo dapatkan dari simulasi ini dapat mereka terapkan dalam kehidupan keseharian mereka.

Catatan proses: Kak Koben

Tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *