[POt Smipa] Merayakan Keragaman

Sabtu 25 Maret 2017

Di Sabtu pagi yang cerah di Bale Handap Selasar Soenaryo, para orangtua mulai berdatangan disambut pilihan minuman hangat dan sajian kue balok 5 rasa juga tahu isi yang menggoda selera. Hari ini semua datang dengan mengenakan atribut berciri keragaman Nusantara; ada yang berbatik, songket, beskap, ikat atau udeng, dll. Suasana akrab pun langsung terbangun dan terjalin. Pertemuan Orang tua (POt) Smipa dibuka tepat waktu dengan ajakan waktu hening oleh Kak Agni dilanjut doa dibawakan Bu Nanan.

Kak MJ menyampaikan latar belakang pemilihan topik Keberagaman. Bahwa ini sejatinya ada dan akan terus ada, dan hal yang (bisa) berubah adalah sudut pandang dan cara kita menyikapinya. Paparan hasil angket dari 110 responden (65% dari total jumlah ortu Smipa) membagikan sisi cerita keluarga Smipa yang terbaca genap di kedua sisi indah dan buruknya pengalaman yang telah dilalui. Terasa masgul saat mengetahui ternyata cukup banyak cerita/pengalaman buruk bahkan traumatik di masa lalu yang orangtua ceritakan secara terbuka terkait isu keberagaman. Sisi pemahaman/pengalaman anak seputar keberagaman dalam keseharian mereka yang disampiakan terbaca lebih menyajikan sisi keindahan yang menyejukkan hati, meski semakin lanjut jenjang pada anak juga mulai tertangkap semburat perubahan pandangan dan prinsip.

Kedua narasumber piawai menyampaikan sudut pandang masing-masing yang saling mengisi dan melengkapi. Pak Ahmad Yunus (orangtua, penulis, pegiat Doctorshare) mengajak yang hadir masuk ke perenungan kembali konsep sebangsa setanah air: Apakah kenyataan yang ada benar-benar mencerminkan frasa “Sabang Merauke” sebagai refleksi bahwa kita merupakan bagian dari satu Indonesia yang utuh. Dibagikan banyak cerita catatan ekspedisi penjelajahan 80 pulau selama setahun: menyentuh dan merasakan langsung indahnya suasana keberagaman di masyarakat, namun juga menyaksikan banyak konflik terjadi di masyarakat yang terpantik faktor perbedaan agama dan etnis kelompok mayoritas dan minoritas.

Ibu Henny Supolo (pendiri Yayasan Cahaya Guru) berbagi cerita kebaikan dengan konsep merayakan perbedaan/keragaman. Disampaikan bahwa orangtua perlu sejak dini dan secara menerus mengenalkan dan melibatkan anak pada pengalaman hidup dan menghidupi keberagaman, dan seberapa jauh kebaikan dapat ditularkan ke dalam lingkungan dengan berpegang pada the golden rule  “Lakukan apa yang kamu ingin orang lain lakukan padamu”. Ulasan menarik dan sangat penting di bagian bagaimana orangtua dapat membantu anak menumbuhkan “Kompetensi abad 21” yang jika dipahami secara tepat tidak juga perlu menempatkan orangtua dan anak pada fungsi fasilitasi yang tajam dan melulu kompetetif sifatnya.

Seting interaktif lalu dibangun lewat sesi diskusi kelompok per 10 orangtua mengulas salah satu dari pertanyaan: Bagaimana kita menempatkan diri di tengah masyarakat yang beragam? Bagaimana membangun nilai-nilai empati dan kemanusiaan sebagai landasan hidup dalam keberagaman? Bagaimana kita menjadi orangtua (juga pendidik) memberikan pendampingan yang tepat untuk anak-anak kita siap hidup dalam keberagaman?

Di kesempatan tanya jawab orangtua menyampaikan pertanyaan seputar keseharian mendidik anak, seperti bagaimana cara menunjukkan keberanian tanpa mengandung unsur kekerasan dan menunjukkan sikap tegas saat menghadapi situasi, juga pertanyaan tentang perbedaan antara warga di pedalaman dan kota dalam menerima perbedaan. Di bagian akhir, orangtua diajak menuliskan hal penting dan komitmen kecil namun penting yang akan diupayakan di rumah sebagai hasil petikan pemahaman POt hari itu. Kita pun lalu menutup pertemuan di siang itu dengan menyanyikan lagu Indonesia Pusaka penuh khidmat dan syukur. Aneka kudapan tradisional yang serba nikmat lanjut menemani kita beramah-tamah.

Didapat kesimpulan dari pertemuan ini:

  1. Keberagaman ada di rumah kita sendiri, yang perlu kita lakukan adalah menyapa, menghampiri, mengalami kembali keberagaman itu. Belajar merajut keberagaman dimulai dari menerima diri sendiri, menyadari keunikan diri dan perbedaan, berdamai dengan luka-luka diri. Banyak teknik dapat diupayakan untuk belajar keberagaman di tingkat keluarga.
  2. Menghayati dan merefleksikan keberagaman membuat kita mampu tumbuh positif dalam keberagaman, mampu merajut keberagaman. Sebagai orangtua, kita perlu berupaya untuk konsisten membangun ruang perjumpaan keberagaman dan mendampingi anak untuk mampu bersikap.
  3. Kearifan lokal memberi modal untuk menghargai keberagaman; faktor eksternal dari politik dan ekonomilah yang membuat keberagaman terluka. Maka pemahaman bagaimana menyikapi perbedaan di luar diri akan menempatkan situasi keberagaman menjadi baik.
  4. Keberagaman terluka, maka sangat perlu diseimbangkan dengan banyak kabar baik yang hadir dalam keseharian kita. Kita bisa saling menguatkan dengan cara ini; saling bergandengan tangan dan ajak lingkungan untuk menyebarkan kedamaian. Syiarkan, kabarkan berita dan cerita baik itu sekecil apapun!

Nah ini dia cerapan suasana sepanjang petemuan dalam gambar:




 

Penutup:

  • Terima kasih dan apresiasi untuk Ibu Henny dan Pak Yunus yang sudah bersedia berbagi dengan kami semua. Bu Henny ini datang dari Ibukota khusus untuk acara ini dengan membawa spirit berbagi nan tulus… Semoga apa yang sudah dibagikan lanjut mewujud menjadi langkah-langkah kebaikan dalam keluarga dan khususnya untuk anak-anak kita.
  • Terima kasih untuk semua orangtua yang telah mengupayakan hadir. Ke depan harapannya tentu tingkat kehadiran bisa lebih baik lagi ya, mengingat lewat pertemuan-petemuan seperti ini lah kita – sekolah dan orangtua, bisa saling mendekatkan diri dan saling menyelaraskan sudut pandang sehingga kita bisa menjadi tim pendidik yang padu dan sejalan; dan tentunya itu yang terbaik untuk anak kita…

Salam Smipa, Salam persatuan dalam keberagaman 🙂

Catatan proses: Lyn (SPP -Relasi Ortu), April 2017

Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *