rubuhnya sang peneduh

 

Membuka kisah perjalanan TP13 ini, baru lepas seminggu dari dimulainya kegiatan pembelajaran di TP13, hari ini Selasa 25 Juli 2017, lagi – salah satu pohon peneduh area parkir Semi Palar rubuh. Cuaca cerah, angin bertiup sedikit keras, tanpa tanda-tanda apapun pohon kersen di dekat pintu samping kantin Smipa berderak dan rubuh menimpa salah satu kendaraan yang parkir tepat di sebelahnya. Rubuhnya pohon kersen ini saya jadikan tulisan pendahulu dari rangkaian peristiwa yang mudah2an jadi kisah2 yang akan dicatatkan di sini. Kenapa? Mudah-mudahan kita bisa belajar sesuatu dari apa yang biasanya segera kita catatkan sebagai sebuah musibah.

Suara keras saat pohon ini rubuh mengundang semua yang mendengarnya bergegas bangkit dan melihat apa yang terjadi. Pohon kersen besar yang menaungi dekat pintu masuk ke dapur tanpa tanda apapun mendadak doyong dan roboh. Akar pohon ternyata ternyata tak tumbuh cukup kuat untuk menahan tegaknya pohon tersebut dan beban dahan dan dedaunan di atasnya.

20170725_112411

Dengan segala hormat dan rasa prihatin untuk keluarga yang menderita kerugian material, mudah2an peristiwa ini bisa kita jadikan catatan awal untuk proses belajar kita semua di Semi Palar terutama di TP13 ini. Berpijak dari keyakinan bahwa ‘tidak ada peristiwa kebetulan; semua peristiwa terjadi untuk sebuah alasan’.

Pada saat yang sama, kami para kakak di Smipa sedang mempersiapkan rangkaian pertemuan Taki-taki dan Selametan TP13. Apa yang perlu kita jadikan pemahaman dan visi bersama untuk melangkah dalam proses pembelajaran kita di TP13 ini. 

Terkait peristiwa tadi, mungkin pertama-tama kita bisa mencatat bahwa :

manusia dan alam pada hakikatnya tak terpisahkan.

Tempat parkir di sebelah pohon yang rubuh tadi – banyak orangtua yang menyebutnya sebagai tempat parkir favorit. Sejak pagi hingga siang hari tempat tersebut memang teduh di bawah naungan pohon tadi. Disadari atau tidak kehadiran pohon tersebut memberikan kenyamanan buat entah berapa banyak kendaraan dan pengemudi yang selama ini memilih parkir di tempat tersebut. Pohon kersen tadi menjadi daya tarik tersendiri buat kita semua yang sering memanfaatkan area parkir Smipa.

Dalam suatu forum, almarhum prof. Otto Soemarwoto (salah satu pakar lingkungan hidup Indonesia) bilang,”Banyak orang tidak bisa menjelaskan kenapa manusia suka berada di sekitar pohon. Teduh, sejuk katanya. Kenapa? Tidak banyak yang tahu”. Pak Otto bilang, “Pohon itu kan pabrik penghasil oksigen. Dalam prosesnya pohon itu bernafas, karena dia bernafas, pohon itu kan menghasilkan aliran udara sepertinya manusia menghirup dan menghembuskan nafas melalui hidung. Aliran udara itu yang membuat udara terasa lebih sejuk di dekat pohon – dan aliran udara tersebut semakin terasa saat pohon tersebut semakin besar.”

Manusia modern memang semakin terputus koneksinya dengan alam, karena sekarang manusia sudah mampu membuat perangkat penyejuk udara (AC). Perlahan-lahan, manusia merasa tidak lagi membutuhkan pohon. Mereka jadi tidak segan menebang pohon. Mereka tidak lagi melihat pohon sebagai penghasil oksigen atau sesuatu yang menyejukkan udara. Karenanya jutaan hektar hutan di atas muka bumi ini rusak karena hutan adalah kayu, kayu adalah uang… Itu yang dilihat manusia. Kalau punya uang saya bisa beli AC, dan dengan AC saya bisa mendapatkan udara yang sejuk… Dengan demikianlah koneksi manusia (modern) dengan alam semakin lama semakin tipis. Lucunya di banyak bangunan2 di kota besar untuk membuat bangunan terasa asri, dipasanglah tanaman2 dari plastik. Supaya indah, asri dan tidak repot merawatnya.

Sekarang ini saat duduk di posnya pak Muhlis, pohon tersebut kerap jadi perbincangan. Kami memang kehilangan dan sedang berusaha menemukan apa yang akan ditanam untuk menggantikannya. Manusia memang tidak bisa dilepaskan dari alam. Manusia bagian dari alam dan membutuhkan segala sesuatu yang ada di alam semesta ini…

 

gotong royong

Kembali ke pohon rubuh tadi, tidak lama setelahnya, tim Mujaer segera bergerak, mengambil gergaji, kapak, tangga, tali… Batang2 bambu dan balok2 kayu untuk menahan pohon yang rebah di atas mobil tadi. Dahan2 segera dipotong untuk mengurangi beban pohon tersebut. Dahan yang sudah terpotong segera ditarik dipindahkan ke halaman depan.

Di tengah2 kesibukan tadi, sambil bantu-bantu saya mengamati orang-orang yang turun tangan membantu membersihkan pohon tadi. Selain tim Mujaer (mas Woto, Oji, pa Iwan pa Muhlis dan teman2 pekerja bangunan (kang Yudhi dkk), rekan-rekan pengemudi kendaraan yang sedang menunggu anak2 pulang juga ikut membantu. Ada juga teman2 warga sekitar (Igun dkk) yang sering kumpul di Semi Palar. Tidak hanya itu saya melihat pak Basuki (kakeknya) Sena ikut membantu juga. Gail (papanya Libby) juga membantu memindahkan mobil tersebut ke tempat yang aman segera setelah batang pohon bisa ditahan sebelum akhirnya direbahkan ke area parkir.

This slideshow requires JavaScript.

Semua turun tangan untuk  membantu – bahkan orang-orang yang tidak punya kepentingan langsung dengan hal ini. Teman-teman ini bisa saja acuh atau tinggal menonton, tapi tidak, mereka turun tangan dan membantu.

Ada sebentuk koneksi sosial yang mendorong hal ini terjadi. Di masyarakat tradisi hal-hal semacam ini adalah sebuah keniscayaan. Gotong Royong. Masyarakat mengambil peran dalam hal-hal yang terjadi di lingkup sosial yang lebih kecil, di lingkup keluarga ataupun bahkan lingkup pribadi. Sedikit banyak hal ini yang masih bisa disaksikan dengan rubuhnya sang peneduh ini…

Tidak lama kemudian, pohon tersebut bisa diamankan dan area parkir bisa kembali dipergunakan. Yang tersisa, suasana di sekitar tempat tersebut jadi panas dan menyilaukan. Ya, kita kehilangan satu pohon yang sudah selama ini menaungi dan memasok kita semua warga Semi Palar dan sekitarnya dengan oksigen secara cuma-cuma…

 

apa yang ditanam, itulah yang dituai

Hari-hari berikutnya banyak diisi obrolan tentang pohon apa yang akan ditanam di tempat pohon kersen tadi tumbuh – setelah sisa akarnya bisa dibersihkan. Pada akhirnya memang disadari bahwa alasan memilih jenis pohon kersen pada awalnya adalah karena pohon kersen adalah pohon yang cepat pertumbuhannya. Supaya cepat bisa menaungi area parkir, supaya segera nyaman. Tanaman-tanaman yang tumbuh cepat memang batang dan akarnya cenderung lebih rapuh. Berbeda dengan tanaman keras yang perlu waktu lama untuk tumbuh, tapi batang dan akarnya kuat.

Kesimpulannya, rubuhnya pohon itu ya karena konsekuensi pilihan kita juga pada awalnya. Ingin yang cepat, ingin yang segera, ingin yang instan, ya kita perlu juga siap dengan konsekuensinya. Memang betul apa yang dibilang kata-kata bijak, apa yang ditanam adalah apa yang dituai

Kali ini kita lebih berhati-hati untuk memilih tanaman yang tepat untuk menggantikan sang peneduh yang sudah rubuh. Kali ini kita akan berusaha lebih bijak, mudah2an kita akan segera menemukan penggantinya dan menanam penggantinya di sana – dan bersabar menunggunya tumbuh kuat sampai kembali bisa menaungi tempat tersebut…


Tambahan catatan di pertengahan September 2017.

Mudah2an kita bisa belajar dari peristiwa kehilangan pohon kersen tadi. Apalagi Bandung semakin panas… planet bumi memang semakin panas. Amerika dilanda angin topan dan banjir. Bencana alam2 di mana2 semakin ekstrim.

Pohon pengganti yang akan di tanam sedang dicari. Kami sedang mencari bibit pohon Kelengkeng untuk ditanam di tempat pohon kersen kita itu tumbang. Mudah2an bisa segera ditemukan dan ditanam di tempatnya. Ada orangtua yang sudah menyumbang bibit pohon keras ke Semi Palar, sebuah pohon langka, pohon Burahol (pohon Kepel). Tapi sepertinya jenis pohon tersebut kurang tepat ditanam di sudut parkir di dekat pintu kantin. Terima kasih pak Angga untuk perhatian dan kontribusinya.

Semoga catatan ini jadi bahan belajar buat kita semua.

 

Bookmark the permalink.

2 Responses to rubuhnya sang peneduh

  1. Astarina says:

    Kita memang tak bisa lepas dari alam…tapi kita suka semena-mena sama alam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *