renungan masakan kentang…

 

Setiap hari Jum’at, di Semi Palar dikenal dua kegiatan Jumaatan. Yang satu adalah Sholat Jum’at yang jadi bagian dari ibadah rutin saudara-saudara kita umat Islam di manapun berada; yang kedua adalah koordinasi rutin mingguan kakak Smipa. Kami mengevaluasi perjalanan pembelajaran satu minggu ke belakang dan mempersiapkan rangkaian kegiatan di minggu berikutnya. Koordinasi mingguan ini kita sebut juga Jumaatan

20170915_142938

Jumaatan Smipa adalah forum koordinasi kakak lintas jenjang dari KB (Kelompok Bermain) hingga KPB (Kelompok Petualang Belajar). Moderator dan Notulis Jumaatan adalah dua orang kakak yang secara acak bergantian (juga lintas jenjang) – supaya kakak2 juga terus berlatih memimpin forum dan membuat catatan pertemuan. Jumaatan kemarin, tanggal 15 September forum dipimpin oleh kak Koben (kelompok pulau Batu Mandi) dan kak Maya (kelompok pulau Rote). Ruangan pertemuan juga salalu bergantian dari kelas ke kelas sebagai tuan rumah atau ke ruangan-ruangan lain- supaya semua kakak juga berkesempatan jadi tuan rumah dan kita semua bisa saling mengunjungi.

Seusai koordinasi – yang kebanyakan membahas persoalan teknis, kakak-kakak yang memimpin Jumaatan juga bertugas untuk membawakan Renungan Mingguan. Renungan ini pada dasarnya bebas. Bisa dibawakan spontan, berbagi cerita pengalaman, membacakan tulisan atau puisi atau membawakan kisah-kisah inspiratif dari sumber apapun. Hari ini kak Koben dan kak Maya mengajak kita semua menonton filem pendek di bawah ini.

 

Kalau boleh kami sarankan kalau mau menonton filem ini, klik ikon full screen di pojok kanan bawah, dan pasang earphone supaya bisa mendapatkan sensasinya secara penuh. 🙂

 

Tidak berhubungan langsung dengan pendidikan atau bagaimana jadi guru, filem ini menyajikan proses menyiapkan sebuah masakan.

Di sepanjang filem, fokus ditempatkan pada tahap-tahap bagaimana masakan sederhana Potato Dauphinoise itu disiapkan di sebuah lokasi di luar rumah, di antara pepohonan yang meranggas karena musim salju, di pinggir sebuah api unggun yang menyala. Kentang diiris, keju diparut, bawang putih dirajang, saus krim disiapkan, bumbu ditaburkan dan selapis demi selapis bahan-bahan tersebut ditempatkan di sebuah wadah, sampai akhirnya sang juru masak menempatkannya di atas api unggun, meletakkan penutupnya dan menutupinya dengan ranting – supaya panas api melingkupi seluruh wadah masakan tersebut.  Tidak ada penjelasan, tidak ada narasi apapun, yang ada hanya taburan berbagai suara bagaimana sang juru masak menyiapkan masakan tersebut…

20170915_144922

20170915_145209

Karena hanya ada untaian gambar dan suara, kakak2 hanya bisa terdiam dan sibuk dengan imajinasi masing-masing tentang betapa lezatnya masakan tersebut… 🙂

Kak Koben kemudian menutup dengan bagaimana suatu hal bisa menjadi sangat berbeda saat kita melakukannya dengan sepenuh hati. Masakan yang sama bisa jadi disajikan di sebuah restoran mahal, tapi saat juru masaknya memasak dengan serba terburu-buru dan sekedar menyiapkan pesanan demi pesanan, bisa jadi rasanya sangat berbeda dari apa yang dimasak secara sederhana di filem tersebut.

Di Jumaatan Smipa, setelah renungan, biasanya ditutup dengan sebentuk kegiatan menulis bebas (free writing). Moderator akan menentukan tema tulisannya, dan kita semua menuliskan di atas secarik kertas apa yang kita pikirkan, apa yang kita rasakan dari tema yang ditetapkan di hari itu. Kak Koben dan kak Maya mengajak kakak-kakak semua untuk menuliskan pengalaman kita (apapun bentuknya) saat mengerjakan hal tersebut dengan sepenuh hati dan saat kita tidak mengerjakannya dengan sepenuh hati… Hatur nuhun kak Koben dan kak Maya – yang memimpin Jumaatan minggu ini juga kakak-kakak lain yang dengan setia mengawal proses ini minggu demi minggu.

Sederhana prosesnya, tapi setiap minggu kami tutup melalui proses ini – melalui berbagai bentuk renungan atau refleksi juga baris-baris pemikiran maupun perasaan yang kami ekspresikan secara tertulis.

Sedikit berbagi cerita dari keseharian kakak-kakak Smipa yang mungkin jarang terlihat saat sekolah sudah sepi dari lalu-lalangnya anak-anak dan orangtua.
Semoga berkenan – dan salam pendidikan.

Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *