[artikel] Membangun Generasi Bangsa yang Cerdas dan Berkarakter

 

oleh Franz Magnis-Suseno SJ

16908537_411878632492610_9088057692034957312_n

Makalah SEMINAR NASIONAL
PERAYAAN YUBILEUM 175 SUSTER-SUSTER CAROLUS BORROMAEUS
DAN 60 TAHUN YAYASAN TARAKANITA
JAKARTA, 22 PEBRUARI 2011

 

Indonesia sekarang terancam

“Membangun kembali karakter bangsa Indonesia”: judul ini provokatif. Apa karakter bangsa Indonesia memang perlu dibangun kembali? Apa bangsa Indonesia sudah tidak berkarakter?

Benar juga: Bangsa Indonesia belum seluruhnya kehilangan karakternya. Karakter sebagai bangsa yang terdiri atas manusia-manusia yang adab, sopan, toleran, sosial, bersemangat kebersamaan, bhinneka tunggal ika, yang bangga bahwa dia Indonesia, jadi nasionalis, yang bersedia berkurban bagi bangsanya, yang berkemanusiaan yang luhur.

Tetapi Indonesia ini sekarang terancam. Semakin banyak orang yang membawa diri tak beradab, sombong, tidak toleran, penuh kebencian, langsung bereaksi dengan melakukan kekerasan, eksklusif, loyo nasionalismenya. Bahkan ada kesan bahwa kita mau diambil alih oleh orang­-orang picik, sombong, keras, fanatik, yang tidak bisa membedakan antara kebaikan dan kejaha­tan.

 

Tiga Tantangan

Persisnya ada tiga tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia sekarang: Budaya konsumisme hedonis, keambrukan solidaritas bangsa serta intoleransi dan radikalisme agama.

  • Budaya konsumisme hedonis

Secara sederhana: yang dimaksud di sini adalah kecenderungan kelas menengah atas di kota-kota besar, khususnya di Jakarta, untuk memakai kekayaan yang mulai mereka cicipi untuk larut dalam kecemerlangan mall-mall. The golden crowd. Tergantung kemampuan finansialnya, mereka itu kita lihat di mall-mall, berbelanja. Khususnya konsumisme: Konsumisme adalah napsu untuk membeli demi membeli. Bukan kebutuhan nyata yang menjadi sebab saya membeli sesuatu di mall, melainkan karena saya suka beli-beli. Shopping sebagai bentuk rekreasi. Yang kelihatan asyik, yang trendy, yang in, yang lebih baru, itulah yang mau dibeli. Dunia iklan sebagian besar memainkan napsu itu. Bukan bahwa orang memerlukan sesuatu, atau memang meminati sesuatu biar agak luks itulah masalah konsumisme, melainkan bahwa dia beli untuk beli.

Orang yang larut dalam konsumisme kehilangan jati diri. Ia menilai diri, harganya sendiri, dari kesesuaiannya dengan image-image orang-orang happy, rich, relaxed yang kita lihat di iklan-iklan. Mereka menjadi ketagihan life style yang mahal-mahal, ke disko atau tempat makan yang mahal, perjalanan yang mahal. Tak ada batasnya. Spending habits mereka semakin di luar segala proporsi.

Konsumisme itu mengeringkan kepedulian sosial, perhatian pada bangsa, apa pun yang me­lampaui dirinya sendiri. Tak ada akhir di lereng miring itu. Orang-orang itu tidak lagi peduli dengan politik – selama ekonomi maju. Konsumisme ini ancaman bagi seluruh masyarakat. Orang kecil pun terpesona, ingin masuk ke kalangan mereka. Kerja keras bertanggungjawab tidak lagi menarik. Mereka mencari jalan pintas, entah lewat kejahatan terorganisasi, misalnya narkoba, entah lewat koneksi dan korupsi, entah lewat dukun atau main judi. Tak dapat diragukan, konsumisme merupakan bahaya besar bagi substansi etis dan sosial masyarakat kita.

  • Ketidakpedulian sosial

Tantangan paling besar bagi masa depan bangsa adalah kenyataan bahwa sekitar 140 juta saudara dan saudari kita miskin atau “hampir miskin”. 66 tahun kemerdekaan lebih dari setengah warga bangsa masih tetap tidak sejahtera. Masih kita ingat tiga tahun lalu ribuan orang di Pasuruan rebutan zakat 30.000 Rupiah masing-masing dan ada yang jalan berkilometer jauhnya untuk menerimanya. Keterinjakan beberapa puluh dari mereka, sebuah kecelakaan tragis, seakan-akan menjadi simbol betapa sebagian bangsa masih terancam oleh kemiskinan.

Nah, siapa yang sudah terlibat dalam budaya konsumisme tadi menjadi tidak peka dan tidak peduli dengan situasi itu. Perjuangan demi keadilan sosial – begitu penting bagi para founding fathers Indonesia – tidak lagi menggerakkan hati mereka. Amat berbahaya bagi masa depan bangsa kalau generasi muda kelas menengah ke atas tidak mempunyai kepedulian sosial

Hal mana tentu didukung oleh contoh buruk yang diberikan oleh kelas politik kita yang hanya tahu “business as usual” dan tanpa malu hanya memikirkan bagaimana bisa mencuri sebagian makin besar dari hasil kerja dan kekayaan bangsa.

 

  • Intoleransi dan kepicikan

Lawannya hedonisme nir-cita-cita, nir-idealisme, nir-kepedulian sosial adalah kepicikan dan fanatisme yang berdasarkan keagamaan yang salah dimengerti. D. I. k. intoleransi semakin meluas. Intoleransi sendiri merupakan sikap picik dan tertutup yang merusak jiwa orangnya sendiri. Tidak perlu mencari jauh-jauh. Kepicikan bisa bersifat antar kampung dan antar desa, antar suku dan etnik, antar umat beragama. Lihat saja segala perkelahian. Lihat saja konflik-­konflik serius yang dalam 12 tahun terakhir kita alami di beberapa daerah antar suku maupun antar umat beragama. Yang khususnya mengkhawatirkan adalah kepicikan religius. Kecurigaan antar masyarakat yang berbeda agama semakin bertambah. Menyamai saudara sebangsa beragama lain pada hari perayaan agamanya diharamkan. Intoleransi terhadap minoritas-­minoritas, serta kebrutalan bernapaskan agama terhadap apa yang dijuluki “ajaran sesat” bertam­bah terus.

 

Karakter yang kuat

Kalau kita mau mengubah arah bangsa, dari bangsa yang akan hancur ke bangsa yang mulia dan percaya diri maka, di satu pihak, pendidikan harus diarahkan pada pembentukan karakter peserta didik, dan di lain pihak kita bersama-sama harus kembali ke wawasan bangsa Indonesia, wawa­san Pancasila.

Dalam hal karakter, sifat kepribadian seseorang, kita membedakan kekuatannya dan orientasinya. Orientasi diperoleh karakter dari niiai-nilai lingkungannya. Nilai-nilai yang dibatinkan itulah mengarahkan karakter dalam tekadnya untuk membawa diri dengan cara yang bener. Sedangkan kekuatan karakter adalah kuat-lemahnya tekad individu itu.

Bahwa orang punya karakter yang kuat adalah sama dengan mengatakan bahwa orang itu punya karakter. Yang dimaksud adalah bahwa orang itu mempunyai keyakinan dan sikap dan ia bertindak menurut keyakinan dan sikapnya itu. Keyakinan itu termasuk suatu kejujuran dasar, suatu kesetiaan terhadap dirinya sendiri, suatu perasaan spontan bahwa ia mempunyai harga diri dan bahwa harga diri itu turun apabila ia menjual diri. Orang yang punya karakter tahu apa itu tanggungjawab dan bersedia mempertanggungjawabkan perbuatannya. la bukan orang benar yang selalu mengikuti arah angin. la bisa saja fleksibel, bisa tawar menawar, ia juga mau belajar dan berkembang dalam pandangannya. Tetapi ia tidak menjual diri. la tidak dapat dibeli. Orang berkarakter akan menyesuaikan diri, tetapi ada batasnya. la dapat mengatakan tidak. la dapat mengambil sikap sendiri, berbeda dari lingkungannya, berbeda dari teman-temannya, berbeda dari keluarganya. la bertindak menurut apa yang dinilainya tepat, dan penilaian-penilaiannya be­rakar dalam keyakinan-keyakinan mendasar.

Nah, kalau si pendidik hanya mau membuat anak didik menjadi manutan, di mana nilai-nilai paling penting adalah membawa diri baik-baik, tepa-selira, bertenggang rasa, tidak membantah, jangan sok, sepi-ing-panwih: bagaimana karakter anak itu dapat berkembang? la dipuji justru ka­lau tidak menunjukkan karakter. Feodalisme para pendidik itu tidak memungkinkan karakter anak-anak didik berkembang semestinya.

Kalau yang kita harapkan adalah karakter, anak itu harus diberi semangat dan didukung agar ia menjadi pemberani, berani mengambil berani mengusulkan alternatif, berani menge­mukakan pendapat yang berbeda. la harus diajak untuk berpikir sendiri, berpikir secara kritis, un­tuk sendiri mencoba menilai apa yang wajar dalam suatu situasi konflik, ia harus dipuji kalau ia mempertahankan sikapnya secara argumentatif. la harus didorong supaya seperlunya melawan. Dan, tentu, ia juga harus didorong untuk mau terbuka, mau belajar, untuk tidak takut belajar yang baru, untuk tidak puas dengan cakrawala yang picik.

 

Karakter yang baik

Yang penting bukan hanya karakter yang kuat, melainkan .juga karakter yang benar, positif, dan bukan sempit-negatif. Kualitas atau warna karakter ditentukan oleh nilai-nilai dan keyakinan-­keyakinan yang merupakan komitmennya. Nilai-nilai itu diperoleh anak dari kebudayaan. Maka nilai-nilai dan komitmen-komitmen yang diyakini dalam suatu kebudayaan akan sangat menentukan warna dan keterarahan karakter orang-orang yang menjadi rakyatnya.

Nilai-nilai apa yang kita harapkan menjadi unsur dalam karakter anak-anak bangsa? Tentu nilai-nilai yang akan membuat mereka lebih kuat untuk mempertahankan karakter luhur – akhlak mulia – terhadap segala tarikan dan godaan yang tidak dapat dihindari. Kejujuran, kesediaan, bahkan kebutuhan, untuk bertanggungjawab, keberanian, termasuk keberanian mempertahankan keyakinan dan sikap moral juga kalau teman-teman atau massa cenderung lain, jadi keberanian untuk secara pribadi menentukan apa yang mau dipertahankan dan dilakukan. Di sini termasuk tekad untuk tidak menyakiti makhluk lain kecuali betul-betul perlu dan untuk tidak menghina orang lain. Tekad untuk menghormati orang lain dan membiarkan dia menjadi diri sendiri tanpa kita mau memaksa dia untuk menjadi sama dengan kita. Kejujuran yang mampu melihat kalau kita sendiri yang bersalah. Keberanian untuk bertindak menurut apa yang diyakini, bersamaan dengan keterbukaan yang mau dimintai pertanggungjawaban dan mau berubah kalau memang harusnya demikian. Fairness dalam arti bahwa apa yang kita tuntut bagi kita sendiri, kita berikan juga kepada yang lain. Keadilan dalam arti: kita sadar secara mendalam bahwa memperlakukan orang lain secara tidak adil dalam kondisi apapun tidak benar.

 

Pancasila

Nilai-nilai yang mesti menjadi orientasi pemuda dan pemudi Indonesia sudah termuat dalam Pancasila: Religiositas terbuka, kemanusiaan, komitmen kepada bangsa, melawan feodalisme, dan solidaritas dengan mereka yang menderita dan dalam bahaya tersingkir dan tertindas. Dalam kaitan ini dua catatan: Pertama, kelihatan bahwa sikap kunci termuat dalam sila kedua Pancasila. Kemanusiaan yang adil dan beradab. Empat sila lain kalau dilaksanakan secara tidak manusiawi, tidak adil dan tidak beradab menjadi cacat dan sumber kejahatan. Tetapi bersikap manusiawi, adil dan beradab dalam kondisi apa pun tidak bisa tidak merupakan tanda karakter yang luhur! Jadi nilai-nilai perlu yang dibatinkan mesti mulai dengan kemanusiaan yang adil dan beradab!

Catatan kedua. Betul, membentuk manusia yang beriman dan bertakwa sudah wajib bagi bangsa yang menempatkan Ketuhanan sebagai sila pertama prinsip-prinsip dasarnya. Tetapi kita jangan lupa: Beriman dan bertakwa hanyalah memiliki nilai positif apabila ditunjang oleh karakter yang cirinya adalah komitmen pada nilai-nilai kemanusiaan. Beriman dan bertakwa baru menjadi kalau orang, itu beradab, sadar bahvva ia tidak boleh menyakiti dan menghina orang lain, apabila ia fair, apabila ia tahu diri, apabila ia berbelaskasihan, apabila ia bertekad untuk tidak merugikan, apalagi membunuh orang yang tidak bersalah, apabila ia sudah memiliki hormat terhadap keutuhan orang., lain. Dan sebaliknya, beriman dan bertakwa yang tidak berdasarkan kernanusiaan yang adil dan beradab niscaya menjadi sempit, fanatik, arogan, munafik dan akhirnya meniadakan dirinya sendiri. Dalam bahasa politik dan hukum: Seseorang beriman dan bertakwa dalam arti yang benar apabila ia mernbatinkan sikap-sikap yang terungkap dalam hak-hak asasi manusia.

Jadi sila sentral Pancasila adalah kemanusiaan yang adil dan beradab. Sila itu yang periu mendarah-daging, yang akan menjadi tameng terhadap godaan eksklusivisme, napsu bertindak kasar, jahat dan tak berbelaskasih. Sila inilah yang membuat kita peka terhadap orang lain, terha­dap hak-haknya, hasrat-hasratnya, keutuhannya, rasa harga dirinya. Kemanusiaan juga merupa­kan dasar di atasnya sikap sila ketiga, kebangsaan, dapat dibangun. Orang yang menghayati sila kedua, tahu bahwa ia tidak hanya hidup bagi dirinya sendiri, maka ia akan mencintai bangsanya dan bersedia berkurban baginya.

Pluralisme secara khusus berkaitan dengan sila ke-4, kerakyatan: Pluralisme menyadari bah­wa bangsa Indonesia majemuk dan karena itu tidak dapat diperintah menurut keyakinan salah sa­tu bagian bangsa, dan tidak secara feodal dari atas, melainkan semua harus diikutsertakan dan diperhatikan. Dan pluralisme berkaitan dengan sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa karena sila itulah yang mengajar kita bahwa keyakinan-keyakinan religius setiap orang, bukan hanya keyakinan-keyakinan kelompok saya, yang harus dihormati.

Kepekaan terhadap perasaan orang lain menjunjung tinggi baik Ketuhanan Yang Maha Esa, maupun rasa wajib untuk mengusahakan keadilan sosial bagi semua.

 

Lebih kongkret

Mari kita terapkan pertimbangan-pertimbangan mendasar pada pendidikan kongkret. Kalau kita mengharapkan anak-anak kita berkarakter, maka kita harus membongkar sikap-sikap yang akan menggerogoti karakter positif. Sikap-sikap seperti tidak bisa disiplin, tak peduli aturan/hukum, sikap tak mau berpikir panjang. mencari asal gampang. suka mistik-mistikan (termasuk main ju­di), berkeagamaan picik, bengis, fanatik.

Pribadi-pribadi yang kita harapkan adalah pribadi yang integer, sosial dan kompeten. Untuk menjadi manusia integer, sosial dan kompeten seseorang harus memiliki empat keutamaan atau sikap fundamental:

  • Kejujuran: sikap yang tidak mau berbohong dan tidak mau menipu, yaitu sikap orang yang berani menunjukkan siapa dia, serta mengatakan apa yang dimaksudnya. Kejujuran adalah keterikatan hati pada kebenaran.
  • Rasa keadilan: Suatu perasaan spontan. berakar dalam hati nurani bahwa saya akan memper­lakukan siapa pun secara adil, bahwa saya tidak akan bertindak dengan tidak adil, disertai ra­sa marah dan tidak-terima spontan terhadap segala ketidakadilan dalam iingkungannya.
  • Rasa tanggungjawab: bertanggungjawab atas akibat sikap dan kelakuan sendiri terhadap orang lain, sikap yang selalu mau menghasilkan sesuatu yang bermutu, serta kesediaan mem­pertanggungjawabkan apa yang dilakukan.
  • Keberanian, yaitu keberanian untuk memperjuangkan apa yang diyakini.

Atas dasar empat keutamaan itu sekian sikap orang yang berkarakter dapat dikembangkan: Sikap dinamis, daripada reaktif, aktif daripada pasif-menunggu, kreatif daripada manutan, pro­duktif daripada konsumptif, berani daripada berhati-hati saja, terbuka daripada curiga/tertutup, rasional (mampu bertindak berdasarkan nalar, bukan berdasarkan prasangka atau emosi) dan kri­tis (terdorong untuk mempertanyakan klaim-klaim kewenangan berbagai pihak).

Perhatian khusus harus diberikan pada kematangan emosional: kemampuan untuk me­nangani frustrasi, untuk_menangani konflik secara wajar, kepekaan sosial dan empati, kemam­puan untuk membawa diri dengan relax dalam lingkungan yang plural.

Pendidikan macam apa?

Pendidikan macam apa yang bisa merangsang nilai-nilai dan sikap-sikap itu pada anak-anak? Ja­waban tentu harus diberikan oleh para pedagog dan psikolog: Yang jelas, model pendidikan yang sekarang masih banyak dipakai, model “mengisi botol”, tidak memadai sama sekali. Siswa harus dirangsang untuk selalu ingin tahu, suka menyelidiki, dirangsang perkembangan fantasinya. Ia harus dibantu supaya percaya diri dan berani mengambil, serta memperlihatkan, dan tetap pada, sikapnya. Kalau yang mau dirangsang adalah rasa tanggungjawab, model menghukum kalau sis­wa tidak sesuai harapan guru, tidak memadai. Dalam pendidikan exposure terhadap pengalaman yang relevan bagi perkembangan kemampuan komunikatif, bagi penghayatan nilai, bagi kepe­kaan sosial harus diberikan. Baik juga apabila murid sekolah menengah menjadi tertarik pada po­litik, misalnya dalam rangka aktualisasi Pancasila. Namun tetap berlaku: Contoh guru sebagai panutan dalam semua hal ini merupakan unsur kunci.


sumber foto : tirto.id dan @sabdaperubahan
Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *