[Ibex] Eksplorasi Peta Jawa

Javadvipa, julukan lawas bagi pulau tempat tinggal kita saat ini. Pulau Perak dengan kekayaan alam dan budaya yang tak bisa ditemukan di tempat lain. Dalam kelompok-kelompok kecil melalukan riset dari berbagai sumber, mengumpulkan data-data tentang kenampakan alam, flora dan fauna khas, peninggalan bersejarah, dan tempat yang menarik bagi wisatawan. Ketiga … Baca lebih lanjut

catatan-catatan merefleksi Slametan TP12

  Seusai kegiatan Slametan TP12 : Cinta Bumiku Cinta Negeriku dengan segala dinamika dan prosesnya, kami menangkap ada beberapa catatan refleksi yang muncul. Berikut beberapa catatan refleksi dari rekan orangtua dan para kakak yang sempat menuliskannya dalam blog mereka. Sampai hari ini ada 8 blogpost yang merekam tentang ini. Menarik untuk … Baca lebih lanjut

Kata Siapa? [catatan paska selametan]

 

“Kemerdekaan adalah berhasil menemukan keberanian untuk mengikuti kata hati”

Tag-line ini merupakan hasil kesimpulan sementara dari proses diskusi yang saya lakukan bersama rekan-rekan saya di sebuah warung kopi (obrolan warung kopi biasanya lebih berkualitas, objektif, dan kritis, ketimbang forum diskusi kacangan di saluran televisi, haha…). Kesimpulan ini pun muncul dengan ketentuan; kata hati itu merupakan jalur komunikasi alami antara kita dengan Tuhan, sehingga kata hati tidak pernah salah (inipun lagi-lagi buah kesimpulan sementara dari diskusi di warung kopi yang dimaksud).

Jadi… Apakah kita sudah benar-benar merdeka?

*****

Tanggal 17 Agustus 2016 lalu, saya berkesempatan mengikuti acara yang diselenggarakan oleh Rumah Belajar Semi Palar. Acara Slametan Awal Tahun yang bertepatan dengan memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia. Sebuah acara yang diramu dan dilakukan oleh berbagai pihak praktisi pendidikan (anak, orangtua, dan sekolah), yang bertujuan untuk menghimpun doa di awal tahun ajaran serta untuk mensyukuri tonggak kemerdekaan bangsa – selain juga bertujuan untuk mempererat ikatan, komunikasi, koordinasi, kerjasama, antar ketiga praktisi pendidikan, dan meningkatkan rasa kebangsaan.

Susunan acara diisi dengan berbagai kegiatan permainan kelompok yang perlu dilakukan agar setiap kelompok memiliki bahan serta peralatan yang dibutuhkan untuk melakukan pengibaran bendera merah putih di penghujung acara.  Beberapa hal yang paling menarik perhatian saya adalah: 1) Pengibaran bendera dilakukan dengan cara yang tidak ortodoks, dan 2) Divisi kebersihan nyaris tidak bertugas sama sekali!

 

Pengibaran Bendera

Meski mayoritas peserta acara mengenakan sepatu, namun pakaian yang dikenakan memang tidak seragam; ada jeans, bahan katun, celana panjang, celana pendek, kaos, kemeja, jaket, dsb. Di samping itu, format upacara tidak mengikuti alur kegiatan upacara bendera pada umumnya. Yang paling menarik adalah pengibaran bendera diiringi dengan lagu Syukur, bukan dengan lagu Indonesia Raya (lagu Indonesia Raya tetap dinyanyikan bersama setelah bendera selesai dikibarkan).

Lah… Emang boleh?!

Untuk sebuah prosesi upacara pengibaran bendera resmi (instansi dan kenegaraan), memang ada sebuah protokoler baku yang harus dilakukan, dimana protokoler ini dilakukan (menurut saya) agar seluruh warga negara memiliki patokan yang umum dalam rangka menghormati simbol kenegaraan dan patokan penyelenggaraan kegiatan upacara pengibaran bendera.

Namun, esensinya adalah niat, itikad, dan keluaran sikap berkebangsaan yang dimunculkan melalui penyelenggaraan upacara pengibaran bendera. Ketika bendera dikibarkan dengan diiringi oleh lagu Indonesia Raya, pada umumnya rasa bangga, haru, serta jiwa patriotisme kita seketika itu juga ikut muncul dan membara. Bolehkah saya menitikberatkan perasaan syukur ketika pengibaran bendera dilakukan? Mensyukuri karunia Tuhan yang diberikan lewat perjuangan para pahlawan bangsa? Mensyukuri kondisi positif serta kemajuan yang telah dialami oleh bangsa Indonesia hingga saat ini? Kata hati saya berujar, “Jangan kau lupa mensyukuri hal-hal ini…”.

Kemerdekaan adalah berhasil menemukan keberanian untuk mengikuti kata hati; saya insan merdeka, saya akan ikuti kata hati saya…

 

Kondisi Kebersihan

Selain karena mayoritas peserta acara sudah memiliki kesadaran yang baik akan pentingnya menjaga kebersihan, pentingnya mereduksi sampah hingga ke titik mendekati nol, peserta acara juga sudah memiliki kebiasaan yang dibangun dalam keseharian tiap-tiap individunya. Kesadaran tanpa pembiasaan belum tentu berhasil…

Meski tukang sampah/petugas kebersihan sudah stand-by di lokasi acara, meski tidak ada plang pengingat “Buanglah sampah pada tempatnya!”, atau “Nyampah = benjol” misalnya, namun peserta acara tampak sudah sangat sungkan untuk menghasilkan sampah, terlebih lagi ketika acara ini memang diadakan di sebuah tempat terbuka yang relatif alami.

Peserta acara memang memiliki kebebasan untuk membuang sampah sembarangan, tapi mereka tidak memiliki kemerdekaan untuk membuang sampah sembarangan.

Kemerdekaan adalah berhasil menemukan keberanian untuk mengikuti kata hati; mereka insan merdeka, mereka akan mengikuti kata hati untuk tidak membuang sampah sembarangan…

Salah satu hal yang paling berkesan dari pengalaman ini adalah ketika saya benar-benar merasa gado-gado rujak gejrot; haru, syukur, miris, bangga, bercampur jadi satu ketika pengibaran bendera merah putih dilangsungkan. Satu dari sedikit pelaksanaan upacara pengibaran bendera yang saya lakukan dengan khidmat.

Haru? Jelas. Syukur, bangga? Pastinya iya. Tapi miris? Emang kenapa

Ketika bendera dikibarkan dengan lantunan lagu Syukur sebagai backsound-nya, tak terasa air mata saya menitik. Yang terlintas di benak saya adalah kesedihan saya, yang masih sering melihat berbagai kekonyolan dan absurditas yang dilakukan oleh segelintir warga negara, ketika berperilaku dan berinteraksi sehari-hari. Saya ketika itu juga berpikir, “Apa reaksi para pahlawan pejuang kemerdekaan jika saat ini beliau-beliau masih hidup kemudian melihat pengorbanan darah, materil, emosional, psikologis, serta nyawa mereka, seperti ‘disia-siakan’ oleh anak-cucu generasi penerus, yang seharusnya mengisi kemerdekaan dengan optimal?!”. Saya bayangkan mereka sedang menangis dan kecewa melihat arah bangsa Indonesia yang masih seperti ini…

Apakah kita sudah merdeka? Melakukan apapun peran kita dengan optimal, sepenuh hati, dan sesuai dengan arahan kata hati?

Kemerdekaan adalah berhasil menemukan keberanian untuk mengikuti kata hati. Namun sayangnya, kata hati kita semakin sayup, terimbas dan terdistorsi oleh suara ego dan bisikan hawa nafsu. Rajin-rajinlah berdialog dengan diri sendiri, kenali lagi kata hati kita, semoga kita tidak dibuat bingung, “Ini teh kata siapa?”, agar kita dapat menjadi insan yang betul-betul merdeka…

– EL –

Ken Arok di Pendopo Smipa

Siang tadi, terjadi hingar-bingar di Pendopo Smipa. Hadir sekelompok Aa dan Teteh yang berinteraksi, beradu peran di dalam setting artistik yang sederhana, ‘dikurung’ daun-daun jati yang diserak di atas lantai, dilatari batang2 bambu yang digantung sebagai latar. Berbagai permainan bunyi ditimpali celoteh saling merespon antar mereka yang beraksi di tengah pendopo. Hadir … Baca lebih lanjut

[SMA Smipa] catatan pertemuan sosialisasi awal

Kelompok Belajar [SMU] Semi Palar : sekolah tanpa sekat Pada hari Sabtu tanggal 1 November 2014, saya berkesempatan untuk belajar bersama perihal konsep pendidikan Semi Palar. Bertempat di pendopo Semi Palar yang teduh,  pada pukul 10:15 dimulailah sosialisasi dan diskusi konsep kelompok belajar Semi Palar yang bertujuan untuk memaparkan konsep … Baca lebih lanjut

[Marlin] Menelusuri Jejak Mataram

  Sekilas rekaman gambar petualangan kelompok Marlin, perjalanan perdana angkatan pertama kelas 8 Rumah Belajar Semi Palar. Dalam rangkaian proses pembelajaran holistik, sejak jenjang Kelompok Bermain, kepingan-kepingan pembelajaran holistik yang mereka kumpulkan seakan teruji di perjalanan besar ini. Sebuah perjalanan tidak seperti umumnya outing atau karya wisata, perjalanan ini adalah dirancang … Baca lebih lanjut

kunjungan tim ATPJ [anak bertanya pakar menjawab]

2 Mei 2014, bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional, Rumah Belajar Semi Palar memperoleh kehormatan dengan berkunjungnya tim pengelola ATPJ (anak bertanya pakar menjawab) – di bawah pimpinan Prof. Hendra Gunawan. Situs ATPJ sejak diresmikan bulan November tahun 2013 telah merespon ratusan pertanyaan anak-anak Indonesia mengenai berbagai hal. Tim ATPJ mengompilasi … Baca lebih lanjut

Bincang Sore Komunitas Pendidikan bersama Anies Baswedan

Rabu sore sebuah pesan pendek masuk ke HP saya dari mas Ipong yang intinya : mas Anies Baswedan sedang berkunjung ke Bandung untuk satu acara dan di sela-sela kesibukannya, beliau memiliki sepenggal waktu kosong di hari Jum’at untuk berjumpa dengan teman2 komunitas pendidikan di Bandung. Seketika kami berhadapan dengan sebuah … Baca lebih lanjut

[sarden-penyu] pameran akhir tema

   Di tema akhir tema pertama ini beberapa kelompok memunculkan gagasan dan berhasil menyiapkan diri untuk menyajikan sebentuk pameran / pertunjukkan sebagai penutup kegiatan tematik. Menyusul pameran Rumah Impian kelompok Nautilus, kelompok Sarden dan Penyu Belimbing, juga kelompok Orca menyiapkan pameran sederhana di mana teman-teman menceritakan kepada yang hadir apa-apa … Baca lebih lanjut

[lumba-lumba] panen padi

Dalam rangkaian kegiatan tema Irama Lumbung Damai yang menjadi tema pertama di Tahun Pendidikan 2013-2014 ini, kakak2 mengajak teman-teman kelompok Lumba-lumba bermain dan belajar melalui berbagai kegiatan. Berikut catatan harian kak Eet mengenai salah satu hari kegiatan teman-teman terkecil di Smipa ini… Mararangga…  20 September 13 – Hari ini Kakak mengenalkan … Baca lebih lanjut