[kakapo] Nyaba Lembur ke Desa Mekar Sari, Gambung

28 Februari  – 02 Maret 2017 Nyaba Lembur menjadi kegiatan yang dialami setiap anak kelas 7 di Rumah Belajar Semi Palar. Melalui kegiatan ini, kami ingin mengajak anak untuk melatih kemampuan berinteraksi, beradaptasi, dan bersosialisasi di tengah lingkungan masyarakat desa, dengan mengasah kepekaan/daya tangkap, empati, dan daya olah terhadap lingkungan baru … Baca lebih lanjut

[kakapo] Babaran Kecap Basa Sunda

21 September 2016 Sebagai warga Kota Bandung, yang merupakan salah satu kota penting di tatar Sunda, tidak pelak seluruh warga Kota Bandung selayaknya dapat menggunakan bahasa Sunda dalam kesehariannya. Selain untuk melestarikan Basa Sunda, menggunakan bahasa Sunda dalam interaksi sehari-hari juga dapat mengasah kepekaan berbahasa, menajamkan tangkapan lingkungan sekitar (yang … Baca lebih lanjut

[kakapo] Sesi Bermain ala SMP Smipa

Sebagai bentuk apresiasi dari kakak, karena teman-teman Kelompok Kakapo sudah berusaha optimal dalam membantu Kakak dan pihak sekolah ketika mempersiapkan dan menghadapi proses akreditasi SMP, pada hari Jum’at tanggal 06 September 2016, Kakak menggulirkan satu sesi bermain untuk teman-teman Kakapo, tentu saja sesi bermain ala jenjang SMP Smipa… Sesi bermain … Baca lebih lanjut

[kakapo] Nyaba Lingkung

SUBTEMA: SEL Pada hari Selasa, 23 Agustus 2016, teman-teman Kelompok Kakapo melaksanakan kegiatan belajar luar ruangan yang merupakan salah satu rangkaian kegiatan belajar guna melengkapi sasaran belajar di subtema pertama Sel di kelas 7. Kegiatan ini kami beri nama “Nyaba Lingkung”, dengan dasar pertimbangan kata “Nyaba” merupakan bagian dari program … Baca lebih lanjut

[kakapo] Bujur Sangkar Ajaib

SUBTEMA: SEL Alkisah suatu hari, di era dinasti kerajaan Cina, sebuah banjir tahunan selalu menerjang sebuah kota. Untuk mengatasi hal ini, dibuatlah konsep bujur sangkar ajaib (lo-shu) dimana sebuah penampang berupa bujur sangkar (kota tersebut) memiliki saluran pengairan yang seimbang sehingga dapat mencegah terjadinya banjir. Kak Braja – selaku kakak … Baca lebih lanjut

Kata Siapa? [catatan paska selametan]

 

“Kemerdekaan adalah berhasil menemukan keberanian untuk mengikuti kata hati”

Tag-line ini merupakan hasil kesimpulan sementara dari proses diskusi yang saya lakukan bersama rekan-rekan saya di sebuah warung kopi (obrolan warung kopi biasanya lebih berkualitas, objektif, dan kritis, ketimbang forum diskusi kacangan di saluran televisi, haha…). Kesimpulan ini pun muncul dengan ketentuan; kata hati itu merupakan jalur komunikasi alami antara kita dengan Tuhan, sehingga kata hati tidak pernah salah (inipun lagi-lagi buah kesimpulan sementara dari diskusi di warung kopi yang dimaksud).

Jadi… Apakah kita sudah benar-benar merdeka?

*****

Tanggal 17 Agustus 2016 lalu, saya berkesempatan mengikuti acara yang diselenggarakan oleh Rumah Belajar Semi Palar. Acara Slametan Awal Tahun yang bertepatan dengan memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia. Sebuah acara yang diramu dan dilakukan oleh berbagai pihak praktisi pendidikan (anak, orangtua, dan sekolah), yang bertujuan untuk menghimpun doa di awal tahun ajaran serta untuk mensyukuri tonggak kemerdekaan bangsa – selain juga bertujuan untuk mempererat ikatan, komunikasi, koordinasi, kerjasama, antar ketiga praktisi pendidikan, dan meningkatkan rasa kebangsaan.

Susunan acara diisi dengan berbagai kegiatan permainan kelompok yang perlu dilakukan agar setiap kelompok memiliki bahan serta peralatan yang dibutuhkan untuk melakukan pengibaran bendera merah putih di penghujung acara.  Beberapa hal yang paling menarik perhatian saya adalah: 1) Pengibaran bendera dilakukan dengan cara yang tidak ortodoks, dan 2) Divisi kebersihan nyaris tidak bertugas sama sekali!

 

Pengibaran Bendera

Meski mayoritas peserta acara mengenakan sepatu, namun pakaian yang dikenakan memang tidak seragam; ada jeans, bahan katun, celana panjang, celana pendek, kaos, kemeja, jaket, dsb. Di samping itu, format upacara tidak mengikuti alur kegiatan upacara bendera pada umumnya. Yang paling menarik adalah pengibaran bendera diiringi dengan lagu Syukur, bukan dengan lagu Indonesia Raya (lagu Indonesia Raya tetap dinyanyikan bersama setelah bendera selesai dikibarkan).

Lah… Emang boleh?!

Untuk sebuah prosesi upacara pengibaran bendera resmi (instansi dan kenegaraan), memang ada sebuah protokoler baku yang harus dilakukan, dimana protokoler ini dilakukan (menurut saya) agar seluruh warga negara memiliki patokan yang umum dalam rangka menghormati simbol kenegaraan dan patokan penyelenggaraan kegiatan upacara pengibaran bendera.

Namun, esensinya adalah niat, itikad, dan keluaran sikap berkebangsaan yang dimunculkan melalui penyelenggaraan upacara pengibaran bendera. Ketika bendera dikibarkan dengan diiringi oleh lagu Indonesia Raya, pada umumnya rasa bangga, haru, serta jiwa patriotisme kita seketika itu juga ikut muncul dan membara. Bolehkah saya menitikberatkan perasaan syukur ketika pengibaran bendera dilakukan? Mensyukuri karunia Tuhan yang diberikan lewat perjuangan para pahlawan bangsa? Mensyukuri kondisi positif serta kemajuan yang telah dialami oleh bangsa Indonesia hingga saat ini? Kata hati saya berujar, “Jangan kau lupa mensyukuri hal-hal ini…”.

Kemerdekaan adalah berhasil menemukan keberanian untuk mengikuti kata hati; saya insan merdeka, saya akan ikuti kata hati saya…

 

Kondisi Kebersihan

Selain karena mayoritas peserta acara sudah memiliki kesadaran yang baik akan pentingnya menjaga kebersihan, pentingnya mereduksi sampah hingga ke titik mendekati nol, peserta acara juga sudah memiliki kebiasaan yang dibangun dalam keseharian tiap-tiap individunya. Kesadaran tanpa pembiasaan belum tentu berhasil…

Meski tukang sampah/petugas kebersihan sudah stand-by di lokasi acara, meski tidak ada plang pengingat “Buanglah sampah pada tempatnya!”, atau “Nyampah = benjol” misalnya, namun peserta acara tampak sudah sangat sungkan untuk menghasilkan sampah, terlebih lagi ketika acara ini memang diadakan di sebuah tempat terbuka yang relatif alami.

Peserta acara memang memiliki kebebasan untuk membuang sampah sembarangan, tapi mereka tidak memiliki kemerdekaan untuk membuang sampah sembarangan.

Kemerdekaan adalah berhasil menemukan keberanian untuk mengikuti kata hati; mereka insan merdeka, mereka akan mengikuti kata hati untuk tidak membuang sampah sembarangan…

Salah satu hal yang paling berkesan dari pengalaman ini adalah ketika saya benar-benar merasa gado-gado rujak gejrot; haru, syukur, miris, bangga, bercampur jadi satu ketika pengibaran bendera merah putih dilangsungkan. Satu dari sedikit pelaksanaan upacara pengibaran bendera yang saya lakukan dengan khidmat.

Haru? Jelas. Syukur, bangga? Pastinya iya. Tapi miris? Emang kenapa

Ketika bendera dikibarkan dengan lantunan lagu Syukur sebagai backsound-nya, tak terasa air mata saya menitik. Yang terlintas di benak saya adalah kesedihan saya, yang masih sering melihat berbagai kekonyolan dan absurditas yang dilakukan oleh segelintir warga negara, ketika berperilaku dan berinteraksi sehari-hari. Saya ketika itu juga berpikir, “Apa reaksi para pahlawan pejuang kemerdekaan jika saat ini beliau-beliau masih hidup kemudian melihat pengorbanan darah, materil, emosional, psikologis, serta nyawa mereka, seperti ‘disia-siakan’ oleh anak-cucu generasi penerus, yang seharusnya mengisi kemerdekaan dengan optimal?!”. Saya bayangkan mereka sedang menangis dan kecewa melihat arah bangsa Indonesia yang masih seperti ini…

Apakah kita sudah merdeka? Melakukan apapun peran kita dengan optimal, sepenuh hati, dan sesuai dengan arahan kata hati?

Kemerdekaan adalah berhasil menemukan keberanian untuk mengikuti kata hati. Namun sayangnya, kata hati kita semakin sayup, terimbas dan terdistorsi oleh suara ego dan bisikan hawa nafsu. Rajin-rajinlah berdialog dengan diri sendiri, kenali lagi kata hati kita, semoga kita tidak dibuat bingung, “Ini teh kata siapa?”, agar kita dapat menjadi insan yang betul-betul merdeka…

– EL –