merefleksi 7 jalan revolusi mental bidang pendidikan dari mas menteri

 

wpid-img_38471850095163.jpeg

 

Sejak kepemimpinan presiden kita Jokowi dan terbentuknya kabinet baru, ada kegairahan tersendiri bagi kami para praktisi pendidikan. Terlepas dari segala dinamika politiknya, pemimpin2 kita yang baru ini membawa harapan besar akan perubahan di segala aspek penyelenggaraan negara ini. Salah satunya di dunia pendidikan. Anies Baswedan, yang sebelum beliau mengajukan diri menjadi calon presiden dan kemudian menjadi bagian dari tim sukses Jokowi, akhirnya terpilih memimpin Kementrian Kebudayaan, Pendidikan Dasar dan Menengah.

Sebelumnya, jujur tidak pernah ada minat untuk menuliskan hal-hal yang terkait secara langsung dengan kebijakan2 pemerintah yang dimunculkan lewat Kemdiknas – setidaknya di situs web ini, karena memang visi dan cara pandang yang berbeda bahkan kadang bertentangan dengan visi pendidikan yang kita pahami setidaknya di komunitas ini. Salah satu contoh terbesarnya adalah persoalan Ujian Nasional. Entah apa yang membuat sekian banyak menteri dan pejabat kita begitu buta dan bersikeras bahwa Ujian Nasional harus dilakukan seperti bagaimana mereka memaksa semua sekolah melakukannya selama ini. Segala kebijakan yang diambil ‘di atas sana’ tidak pernah dilakukan dengan melihat langsung bagaimana para guru menerapkan kebijakannya di lapangan dan bagaimana dampaknya bagi jutaan murid di seluruh Indonesia.

Saat ini suasana menjadi berbeda. Ada kegairahan baru. Apalagi saat saat ini, dunia pendidikan di Indonesia dipimpin oleh seseorang yang cukup paham sampai kerenikan olahan pendidikan di bangsa yang luar biasa besar ini. Anies Baswedan saat beberapa tahun yang lalu menggagas Gerakan Indonesia Mengajar, adalah seorang yang visioner, yang mampu menelaah situasi pendidikan Indonesia dan banyak permasalahannya, dan menciptakan solusi nyata untuk membuat perubahan.

Terkait gerakan Revolusi Mental yang dibawa oleh presiden kita Jokowi, ada 7 poin Revolusi Mental  di bidang pendidikan yang diterjemahkan oleh mas menteri, mas Anies Baswedan. Kesamaan visi antara apa yang telah kami upayakan selama ini di Rumah Belajar Semi Palar, terasa betul saat menyisir butir demi butir 7 Jalan Revolusi Mental di atas.

Mulai dari poin pertama, mandiri dan berkepribadian adalah sesuatu yang di Semi Palar sering kita sebut sebagai keunikan. Kompetisi yang selama ini digadang-gadang oleh banyak pihak di dalam sistem pendidikan kita, bukan sesuatu yang kita yakini di Semi Palar, karena keunikan individu, beragamnya kepribadian kita sebagai anugerah yang kuasa adalah sesuatu yang perlu dimaknai secara berbeda bahwa kita satu sama lain ditakdirkan untuk saling melengkapi – bukan untuk saling mengungguli satu sama lain.

Poin kedua, kami terjemahkan sebagai kontekstualitas – sesuatu yang juga sangat kami yakini. Bahwa pada hakikatnya, segala upaya pendidikan harus diselenggarakan dalam pijakan kesadaran konteks tempat, secara dekat dengan situasi sosial budaya manusia2 yang terlibat di dalamnya (guru, murid, keluarga). Karenanya ada hal prinsip yang sangat tidak kami sepakati dalam rancangan Kurikulum 2013, di mana kementrian menghilangkan prinsip KTSP dan mencanangkan kurikulum tunggal yang harus dilaksanakan seragam (agar mudah) di semua sekolah dari Sabang sampai Merauke.

Poin ketiga adalah  juga penting, hasrat belajar adalah sangat mendasar. Semangat belajar harus ditumbuhkan, agar tumbuh manusia-manusi pembelajar di seantero wilayah Indonesia. Karenanya perlu pendekatan-pendekatan yang berbeda dari sistem pendidikan yang selama ini dijalankan. Revolusi Mental harus diwujudkan di para penyelenggara kegiatan pendidikan di berbagai level penyelenggara di Indonesia – mulai dari kementerian hingga ke tingkat guru dan orangtua siswa.

Memberi kepercayaan penuh kepada guru juga membutuhkan perubahan signifikan dalam paradigma penentu kebijakan pendidikan. Terkait poin ke empat di atas, kementrian sebelumnya tampak mengambil jalan pintas untuk mensimplifikasi penerapan kurikulum di Indonesia. Tidak ada pemahaman bahwa tidak pernah ada jalan pintas untuk mencapai keberhasilan sebuah sistem pendidikan selain melalui proses panjang dan konsisten. Finlandia membutuhkan waktu 25 tahun untuk mencapai keberhasilan pendidikannya seperti sekarang ini. Keberhasilan Finlandia baru dicapai setelah menjalani proses 15-20 tahun mendidik guru-gurunya. Dan sekarang ini, kepercayaan (terhadap para guru) adalah kata kunci keberhasilan sistem pendidikan di Finlandia [lihat juga tautan ini : Menelaah Finlandia Mengelola Pendidikannya]. Hal ini sangat berbeda dengan apa yang terjadi di Indonesia.

Poin lima adalah mengenai keterlibatan orangtua. Kami bersepakat penuh karena kita bicara pendidikan, bukan sekadar pengajaran atau transfer ilmu. Transfer ilmu seperti yang berlangsung selama ini bisa dilakukan tanpa keterlibatan orangtua. Tapi saat kita bicara tentang pendidikan karakter atau membangun nilai, keterlibatan orangtua menjadi poin mutlak; dalam pendidikan mutlak dibutuhkan kerja sama dan keselarasan visi antara guru dan orangtua, antara rumah dan sekolah. Di Semi Palar hal ini terus kami coba bangun, dari tahun ke tahun kami belajar dan menambahkan berbagai komponen agar hal di atas dapat tercapai. Berbagai bentuk kegiatan yang melibatkan orangtua bahkan sebelum orangtua mendaftarkan putra-putrinya ke Semi Palar digulirkan untuk membangun kesadaran bersama ini. Karenanya secara tegas kami ungkapkan, Semi Palar TIDAK menjual Jasa Pendidikan, kami membuka Ruang Kerja Sama Pendidikan. Begitu orangtua memandang bahwa menyekolahkan anak adalah sebuah transaksi komersial / jual beli, hilanglah hakikat mendasar upaya pendidikan yang seharusnya diwujudkan secara bersama oleh guru dan orangtua.

Mengenai poin ke enam, hal ini menjadi bahan refleksi mendalam bagi saya pribadi yang kebetulan memegang amanah sebagai kepala sekolah. Bagaimana menjadi seseorang pemimpin yang melayani adalah tantangan besar dan berat bagi saya sepanjang perjalanan Semi Palar sampai hari ini. Saat menamai sekolah ini sebagai Rumah Belajar di lebih dari sepuluh tahun yang lalu, sepertinya sudah muncul sebentuk kesadaran bahwa proses belajar adalah sesuatu yang diamini akan berjalan terus dan tak pernah berhenti. Selebihnya, saya hanya bisa berharap bahwa dengan segala kekurangan yang ada, proses belajar di Rumah Belajar milik kita bersama ini adalah memang proses yang menjadi milik kita bersama.

Poin ke tujuh. Secara internal, banyak hal yang terus diupayakan agar penyelenggaraan pendidikan di Semi Palar lebih berpijak pada pendampingan kita kepada teman-teman guru yang menjadi ujung tombak penerapan konsep pendidikan. Sejak beberapa tahun yang lalu, struktur organisasi dan sistem manajemen di Semi Palar kita ubah dari pendekatan hirarkis ke organisasi holistik. [lihat juga tautan ini : Manajemen Bawang Merah dan Buah Jeruk]. Level manajerial (yang di dunia manajemen dipahami sebagai posisi mengatur) di Semi Palar kita sebut dengan LingKung (Lingkar Pendukung). Struktur ini secara harfiah menekankan bukan pada posisi atau jabatan tapi pada peran. Peran tim LingKung – seperti namanya – adalah berfungsi sebagai pendukung para guru untuk menjalankan peran pendidikannya di garis depan arena pembelajaran saat hari ke hari mendampingi para siswa. Sekali lagi, Revolusi Mental dibutuhkan di sini, karena hal ini adalah bukan paradigma yang biasa kita pahami / pelajari selama ini.

Merefleksi tujuh poin Revolusi Mental yang digariskan pak Menteri terhadap apa yang selama ini kami jalankan di Semi Palar sekali lagi memang membangkitkan gairah. Membakar keyakinan bahwa apa yang selama ini kita imajinasikan, kemudian kita upayakan untuk diwujudkan secara nyata adalah sesuatu yang baik. Yang kali ini juga dijabarkan secara gamblang sebagai visi pembangunan pendidikan bangsa ini. Harapannya, yang saat ini jadi visi, mudah-mudahan dapat direalisasikan di negara Indonesia ini… Sebagai jawaban kita semua mengisi janji kemerdekaan kita, mencerdaskan kehidupan bangsa… Semoga.

Tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.