Segala sesuatu di alam semesta ini berjalan sebagai sebuah siklus, sebuah perjalanan yang seakan berulang, tapi tidak pernah sama. Bumi mengitari matahari, musim berganti, siang dan malam… Bayi yang dilahirkan, tumbuh dewasa, menjadi orang tua yang kembali melahirkan kembali anak-anaknya ke muka bumi ini. Pohon yang tumbuh dari benih, jatuh ke tanah menjadi tunas, menjadi besar berbunga dan berbuah… bijinya kembali jatuh ke tanah dan sebuah siklus dimulai kembali.
Hampir lewat empat minggu, tepatnya di tanggal 16 Juni 2012, siklus yang baru dimulai di Semi Palar, saat anak-anak hadir menghidupi ruang kosong Rumah Belajar Semi Palar dengan canda tawa dan langkah kaki berlarian ke sana ke sini, di ruang kelas, di pendopo, di selasar, di kolong perpus.
Tahun ini kelompok-kelompok belajar di Semi Palar menggunakan nama pohon-pohon pelindung khas Indonesia sebagai identitas kelompoknya. Sejak masuk di hari pertama, kakak-kakak mengajak mereka untuk mencari tahu pohon-pohon pelindung apa saja yang bisa mereka pinjam namanya untuk menjadi jati diri kelompok mereka selama setahun ke depan. Di beberapa kelompok anak-anak bahkan berhasil mengidentifikasi karakterk kelompok mereka terhadap jenis pohon yang mereka pilih. Hal yang sederhana ini – menentukan identitas kelompok – ternyata sudah menjadi proses yang luar biasa mereka.
Kenapa para kakak memilih nama pohon sebagai identitas kelompok di Rumah Belajar Semi Palar, pemikirannya adalah supaya anak-anak memahami juga bahwa pohon juga mahluk hidup – yang juga punya keunikan dan karakter masing-masing. Seperti bagaimana anak-anak kelompok Bengkirai menggambarkan pohon dan menuliskan huruf-huruf identitas kelompok di ruang kelas mereka. Perlahan-lahan hal ini kita harapkan membangun kesadaran bahwa tidak ada satupun ciptaan Tuhan yang tidak ada gunanya di alam semesta ini. Bahkan sampai mahluk terkecil sekalipun. Semoga anak-anak kita bisa sedikit-sedikit memahami hal ini.
Semoga tahun ini berjalan membawakan proses pembelajaran yang luar biasa bagi semua anak-anak di Semi Palar – dengan dampingan kita tentunya, guru dan orang tua.

