Penerapan Model Experiential Learning ditinjau dari Gaya Belajar Peserta Didik Pada Mata Pelajaran Geografi

(Studi Kasus di Kelompok Petualang Belajar Semi Palar Bandung)

 Oleh : *Dwi Widya M.

 

Pendidikan harus menumbuhkan berbagai kompetensi peserta didik, seperti pic1keterampilan intelektual, sosial dan personal dibangun tidak hanya dengan landasan rasio dan logika saja, tetapi juga inspirasi, kreativitas, moral, intuisi (emosi) dan spiritual. Sekolah adalah institusi pendidikan dan miniatur masyarakat yang perlu mengembangkan pembelajaran sesuai tuntutan kebutuhan era global. Tujuan dari belajar bukan hanya pada penguasaan materi dengan menghafal fakta-fakta yang tersaji dalam bentuk informasi atau materi pelajaran saja. Tetapi orientasi sesungguhnya dari proses belajar adalah memberikan pengalaman untuk jangka panjang. Model experiential learning merupakan pendekatan yang menekankan pada peran siswa untuk menyusun sendiri pengetahuannya melalui pembelajaran yang dilakukan, dalam hal ini guru bertugas lebih banyak menjadi fasilisator. Pembelajaran ini mendorong peserta didik untuk bisa mengeksplorasi wawasan pengetahuan dan dapat mengembangkan makna, sehingga akan memberikan kesan yang mendalam terhadap apa yang telah dipelajarinya.

Dalam teorinya, Kolb dalam Baharudin dan Wahyuni (2012:165) mendefinisikan belajar sebagai proses dimana pengetahuan diciptakan melalui transformasi pengalaman (experience). Belajar dalam experiential learning merupakan suatu proses bagaimana pengetahuan diciptakan melalui perubahan bentuk pengalaman yang diakibatkan oleh kombinasi antara memahami dan mentransformasi pengalaman. Betapa tingginya nilai suatu pengalaman seseorang yang dapat memberikan sumbangsih bagi perkembangan jiwa peserta didik selama mengikuti pembelajaran di kelas sehingga pengalaman itu dapat dijadikan sebagai model pembelajaran. Kualitas belajar experiential learning mencakup: keterlibatan peserta didik secara personal, berinisiatif, evaluasi oleh peserta didik sendiri dan adanya efek yang membekas pada peserta didik. Experiential learning merupakan pendekatan dari pengalaman konkrit yang dapat dilakukan dengan cara, bermain, bermain peran, simulasi, diskusi kelompok yang diharapkan agar terjadi suatu kombinasi antara mendengar, melihat dan mengalami.

pic2Selain model pembelajaran, faktor penting yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran adalah kondisi pembelajaran. Salah satu kondisi pembelajaran diantaranya adalah gaya belajar. Gaya belajar berkaitan dengan cara individu dalam memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang memberi sumbangan besar di dalam pencapaian prestasi akademik.

Pembelajaran yang dilaksanakan saat ini masih banyak yang belum memperhatikan gaya belajar peserta didik. Peserta didik dalam suatu kelas dianggap sama dalam memahami materi pembelajaran. Sehingga tidak jarang ditemukan peserta didik yang kurang antusias dalam mengikuti pembelajaran. Kunci menuju sukses pembelajaran adalah menemukan keunikan gaya belajar peserta didik. Dengan memahami gaya belajar peserta didik maka guru atau pengajar dapat memilih dan merancang model pembelajaran yang sesuai. Sebelum mengetahui gaya belajar orang lain, yang terbaik adalah kita harus mengenali gaya belajar kita sendiri. Dengan kata lain, kita harus merasakan pengalaman mendapatkan gaya belajar yang sesuai untuk diri kita sendiri. Apapun gaya yang akan kita pilih dan ikuti, hal terpenting adalah lakukan apa yang memang akan bermanfaat bagi kita.

Pembelajaran geografi dapat mengembangkan kemampuan intelektual tiap orang atau secara khusus anak didik yang mempelajarinya. Dengan demikian, pengajaran geografi mempunyai kemampuan melatih anak didik mencapai kedewasaan mental dalam berpikir, merasakan, dan mengembangkan keterampilannya. Konsep belajar masa kini adalah bagaimana cara peserta didik membangun pengalaman baru berdasarkan pengalaman awal. Prinsip ini mengarahkan kita bahwa sumber belajar yang paling otentik adalah pengalaman. Adapun hubungannya dengan pembelajaran Geografi, bahwa model pembelajaran ini berpotensi dapat mengembangkan hasil belajar peserta didik.

pic3
Hal ini dikarenakan adanya kesamaan antara karakteristik model pembelajaran experiential learning dengan tujuan pembelajaran Geografi yaitu peserta didik mampu mengenal konsep-konsep yang berkaitan erat dengan kehidupan masyarakat dan lingkungannya dan dapat dicapai melalui pembelajaran holistik dan adanya interaksi antar peserta didik dengan lingkungannya.

Salah satu sekolah yang sudah menggunakan experiential learning sebagai suatu pilihan pendekatan dalam pembelajaran adalah Rumah Belajar Semi Palar Bandung. Di Semi Palar, keutuhan ruang lingkup pembelajaran seorang manusia diterjemahkan dalam pemilahan lima aspek ini merupakan kesatuan yang tidak terpisah satu sama lain, mempunyai keterkaitan yang sangat kuat dan saling mempengaruhi. Pendidikan Holistik yang dijalankan di Semi Palar bukan bertujuan untuk menjadikan “anak super” atau “anak istimewa”, melainkan mendampingi anak-anak agar melalui tahap tumbuh kembang yang selumrahnya, sehingga kelak menjadi manusia yang seutuhnya. Dalam kelompok petualang belajar (KPB) proses belajar melalui kolaborasi dengan komunitas, akademisi, praktisi, dan rumah belajar yang mana mereka berpetualang dengan mengkorelasikan pengalaman aktual dengan bidang keilmuan yang relevan, mengeksplorasi kajian keilmuan, membangun budaya berpikir kritis, logis, dan ilmiah. Penerapan pendekatan ini menjadi suatu hal yang menarik bagi peneliti untuk melakukan penelitian tentang penerapan model pembelajaran experiential learning dalam pembelajaran di sekolah tersebut.

Cara belajar KPB Semi Palar salah satunya adalah berbasis proyek. Proyek yang dilakukan sangat beragam dan berbeda-beda, tergantung pada tujuan proyek dan rekan komunitas yang membantu mewujudkan proyek tersebut. KPB berkembang dan belajar secara internal tim juga secara eksternal yaitu bersama komunitas dan masyarakat. Cara belajar KPB adalah dengan langsung melakukan, mempraktekkan, mengumpulkan pengalaman yang nantinya dapat menambah pengetahuan. Jadi secara tidak langsung pada tahap perencanaan pembelajaran, antara kakak fasilitator dengan peserta didik akan melakukan diskusi yang terbuka dan mendata (list) tema dan gambaran umum untuk pembelajaran di satu semester kedepan.

pic4.jpg

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan oleh peneliti, perencanaan dalam penerapan model experiential learning ditinjau dari gaya belajar peserta didik pada pembelajaran geografi secara tidak langsung sudah dilakukan dengan baik pada tahapan ini. Karena kegiatan perencanaan merupakan sesuatu yang harus dipersiapkan dengan sebaik-baiknya maka tahapan ini sangat berperan bagi keberhasilan sebuah kegiatan. Perencanaan pembelajaran merupakan gambaran proses kegiatan yang akan dilakukan. Guru atau kakak fasilitator di KPB Semi Palar melakukan perencanaan pembelajaran dengan membuat dan menyusun meta plan dengan menggunakan kertas bekas yang sisi belakangnya masih dapat digunakan dan menuliskan beberapa poin pembelajaran yang akan dilakukan, lalu di temple pada sisi tembok bagian kelas yang sudah dipasangkan dengan perekat lalu di susun dengan rapih dan ditata sesuai dengan tema pembelajaran. Metode ini menurut peneliti sangat efektif dan efisien untuk mengingat dan sebagai acuan untuk mencapai target pembelajaran.

pic5.jpgPenggunaan mindmap ini sangat bermanfaat dalam menentukan poin-poin pembelajaran di KPB. Anak-anak menjadi lebih mudah dalam memahami dalam penerapan di ketika belajar di lapangan. Dari pengamatan yang dilakukan anak-anak KPB sangat mendetail memberikan ide dan gagasan dalam melihat potensi apa yang bisa ditemukan dalam petualangan di kareumbi. Antara lain ada banyak potensi pembelajaran geografi yang secara tersirat mereka lakukan, seperti mengenal wilayah Taman Buru Gunung Masigit Kareumbi (TBMK) ternyata berada di 3 wilayah administratif yang berbeda. Selain itu juga mereka mengenal lebih lanjut tentang keanekaragaman jenis tumbuhan yang ada di kawasan konservasi tersebut dan juga mereka belajar tentang potensi sumber daya alam yang terdapat di kawasan TBMK.

Konteks dalam proses belajar adalah peserta didik dapat bertumbuh dengan masyarakat dan secara pribadi dapat menerapkan nilai-nilai holistik yang menguat pada dirinya itu salah satu tujuan yang filosofis. Partisipasi aktif peserta didik di KPB melihat pergerakan titik masing-masing anak. Ada anak yang kurang aktif, tetapi dia akan berusaha untuk aktif juga setlah ada pendampingan dari kakak fasilitator ataupun adanya dorongan dari peserta didik yang lainnya juga. Salah satu hasil evaluasi setiap harinya di KPB ada kebermaknaan belajar yang disebut “oh..ternyata” dimana kegiatan tersebut diharapkan dapat menambah wawasan peserta didik dan juga menguatkan pengalaman belajar mereka di setiap petualangannya.

Snap 2018-04-17 at 12.31.27

Berdasarkan tabel 4.1 dan gambar 4.7 di atas, diketahui bahwa terdapat tiga macam gaya belajar pada peserta didik KPB Semi Palar, meliputi gaya belajar visual, auditori, dan kinestetik, dan jumlah terbanyak adalah peserta didik yang bergaya belajar visual. Hal ini dapat dilihat dari jumlah peserta didik secara berturut-turut yang bergaya belajar auditori sebanyak 1 peserta didik, sedangkan visual berjumlah 4, dan kinestetik ada 2 peserta didik.

*Dwi Widya M Mahasiswa Paska Sarjana Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Geografi. Lulus tahun 2017. Salah satu sahabat belajar teman-teman KPB Semi Palar.
Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.