Jangan Ambil Imajinasiku

 

Imajinasi merupakan kata yang sudah begitu familiar buat Wien terutama saat Wien masih kuliah, berhubung Wien menyukai sastra dan seringkali sastra dan karya sastra dikaitkan dengan ruang imajinasi atau katakanlah seni, itu pun lekat dengan ruang imajinasi. Namun yang ingin Wien ceritakan ini adalah kekaguman Wien atas ruang imajinasi yang lain, ruang imajinasi yang telah terampas dari diri Wien sejak dulu. Imajinasi anak-anak. Imajinasi yang rasanya tidak pernah Wien miliki atau mungkin Wien lupa Wien pernah memilikinya karena sudah sejak anak-anak imajinasi yang Wien miliki itu diambil dan bodohnya Wien baru menyadari bahwa imajinasi anak-anak Wien itu diambil, dicuri, dirampas atau apapun namanya, setelah Wien bertemu anak-anak di SMIPA (aduh lama banget sadarnya :p). Sedih, sakit rasanya karena Wien kesulitan untuk mengambilnya kembali, sulit mengingat imajinasi apa yang pernah Wien miliki L.

 

Hari ini Wien baru saja menghabiskan sebuah buku yang berjudul Dunia Adin, buku yang ditulis seorang perempuan ‘dewasa’, kenapa wien bilang dewasa karena dia sudah lulus kuliah hehehe… emang nyambung ya dewasa ma lulus kuliah? Gpp lah yang pasti nama perempuan itu Sundea, itu yang ditulis dibukunya tapi Wien memanggilnya Dea aja. Perempuan yang sangat unik, sangat apa ya? Buat Wien WAH deh soalnya bingung membahasakannya harus gimana. Buku Dunia Adin itu buku Dea yang kedua yang Wien baca, buku pertama yang ditulis Dea yang Wien baca judulnya Salam Matahari dan tanggapan Wien tetap sama tentang tulisan-tulisannya Dea. Mengagumkan, indah, asyik, seru, lucu, imajinatif pokoknya ga tau deh, tuh kan ga bisa ngomongin lagi apa yang Wien rasain tapi kalau Dea yang ngomong pasti Dea tau akan membahasakan rasa Wien ini hehehehe….

 

Lalu apa hubungannya bukunya Dea sama imajinasi yang Wien bicarakan tadi? Mau tau kan? Bukunya Dea itu penuh imajinasi, imajinasi yang ga pernah Wien miliki, imajinasi anak-anak. Bahasa Dea adalah bahasa anak-anak, imajinasi Dea adalah imajinasi anak-anak, sudut pandang Dea adalah sudut pandang anak-anak dan Wien salut, Wien ngiri karena Dea masih memiliki itu, imajinasi Dea ga pernah diambil, imajinasi Dea ga pernah dirampas, imajinasi anak-anak dalam diri Dea ga pernah dibunuh oleh Dea sendiri maupun oranglain ataupun institusi apapun.

 

Saat membaca Dunia Adin, Wien menemukan bahwa inilah anak-anak. Mereka tuh ga akan pernah kesepian loh karena mereka ditemani imajinasi mereka. Adin dalam buku itu jadi gambaran nyata seorang anak yang memiliki imajinasi yang dahsyat buat Wien. Dialog-dialog Adin dengan semua hal yang ditemuinya baik itu benda hidup maupun benda mati semuanya begitu indah, begitu ga terkatakan (kehilangan kata lagi neh :p). Adin yang menemukan anak balon oranye yang nyebrang jalan sendirian, Adin yang kenalan sama Pak Angin dan Angin kecil, Adin yang akhirnya bisa bobo setelah ketemu Dombiru, Adin yang sedih karena kehilangan Maub-Maub, Adin yang takut kena penyakit `Batuk Selamanya (BS)’. Ga kebayangkan tuh buku cerita apa? Pastinya. Hehehe… Tapi Wien yakin banget kalau anak-anak dijaga ruang imajinasinya akan banyak Adin-Adin lain yang akan bercerita banyak hal, yang akan menghidupkan semua hal yang ada sekitarnya. Adin-Adin yang akan menghargai kehidupan ini.

 

Buku Dunia Adin juga buat Wien akan menjadi gambaran bagus buat orangtua bagaimana caranya membangun dan menjaga imajinasi anak. Sikap mamim dan papipnya Adin betul-betul sosok orangtua yang begitu paham bagaimana menangapi anak-anak. Kemarin Wien baru saja bicara tentang imajinasi ini sama Bu Lyn dan Kak Nia. Kita berbicara bahwa menjaga ruang imajinasi anak-anak bukan membohongi anak-anak, karena pada saatnya nanti anak-anak akan tetap menemukan sendiri yang mana ruang imajinasi dan mana realita yang begitu lekat dengan logika. Dalam sudut pandang Wien malah imajinasi ini akan membangun anak-anak lebih dalam, menyeimbangkan dua sisi otak mereka. Dan layaklah bagi orang tua untuk tetap membangun, menjaga ruang imajinasi dalam diri anak-anak.

 

Bila kita bicara tentang Dea, sang penulis Dunia Adin, apakah dia terjebak dengan imajinasi anak-anaknya? Buat Wien tidak sama sekali, malah itu sebuah keistimewaan yang dimiliki Dea dalam memandang sesuatu. Kita yang begitu lekat dengan orang yang berlogika dan memandang sesuatu dengan sebuah realitas dari sebuah hidup malah seringkali tumpul dalam merasa. Saat ruang imajinasi itu masih tersisa akan ada sisi rasa yang terasah. Ada satu hal yang menarik yang Wien temui saat Wien ketemu Dea. Satu hari Wien bareng di acara diskusi ma Dea, pada saat itu Dea bicara tentang perjalanannya ke Museum Nasional dan ketemu dengan patung setengah dada yang kepala botak. Kalau kita yang ketemu-dalam sudut pandang orang dewasa, kita hanya akan menikmatinya sebagai karya seni, melihatnya bahwa itu bagus, buruk, dsb tapi Dea berkenalan dengan patung tersebut, Dea berdialog dengan patung itu dan bilang patung itu suka waktu Dea panggil si Botak. Lalu pertemuan Wien kemudian saat Wien mampir ke Tobucil dan Dea sedang menulis Blognya,Wien tanya dia sedang menulis apa? Ini lagi ngobrol sama kardus-kardus yang lagi tersenyum. Oh God itu kekuatan imajinasi. Dea hanya melihat kardus-kardus yang bertumpuksebagai tempat penyimpanan buku yang kebetulan ada talinya dan kalau dilihat memang seperti ada 2 mata dan 1 mulut, tapi apakah seorang Wien akan memperhatikan hal yang rasanya sepele itu kalau tidak ada Dea?

 

Saat kita mampu menjaga ruang imajinasi dalam diri kita, buat Wien akan membantu kita membangun rasa peduli, empati, simpati, dll karena semua hal yang ada disekitar kita merupakan ruang tempat kita berdialog. Namun yang pasti buku Dea dan Dea sendiri memotivasi Wien untuk lebih kenal dekat dengan apa yang ada di sekitar kita dan membuka ruang dialog Wien dengan mereka. Jadi jangan lagi ambil imajinasiku!!!

 

[kak wienny | 2008]

Tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.