E Q U I L I B R I U M

Equilibrium (ee-kwi-lib-ri-um) n. a state of balance

Ekuilibrium adalah sesuatu yang alami.  Waktu nebula-nebula berputar memadat, ekuilibrium baru tercapai dan terbentuklah Bimasakti.  Sejak saat itu, semua mahluk di bumi berada dalam ekuilibrium.  Suatu bentuk keseimbangan yang bisa sewaktu-waktu terganggu oleh datangnya perubahan.  Muncullah kekacauan yang kemudian akan membentuk keseimbangan baru, ekuilibrium baru.  Hal ini bisa dilihat di semua sudut di bumi, karena semua unsur bumi (yang hidup maupun yang mati) saling berpengaruh dan saling berkaitan.  Kita kenal dong dengan jaring-jaring kehidupan yang diajarkan waktu ilmu hayat atau kerennya biologi dulu di sekolah.

Contoh, yang paling sering dipakai adalah gerombolan singa dan gerombolan zebra di savana Afrika.  Ketiganya saling menyeimbangkan (tiga doong…singa, zebra dan rumput).  Datang perubahan waktu pemburu menembaki singa, ekuilibrium terganggu, populasi zebra tidak ada yang mengontrol, rumput makanannya akan kurang.  Apa yang terjadi ? Kekacauan…banyak zebra kelaparan.  Ekuilibrium baru akan tercapai bila jumlah zebra, singa dan rumput berubah dari yang semula.

Dalam kehidupan manusia, ekuilibrium itu adalah sesuatu yang tidak terpisahkan. Inget lambang Yin Yang ? Itu juga lambang ekuilibrium dari dua sifat yang berbeda, Yin lambang perempuan, introvert, dingin dan Yang lambang lelaki, ekstrovert dan panas.  Semua yang berlawanan akan saling menyeimbangkan.  Baik dan buruk, kekurangan dan kelebihan, kesedihan dan kegembiraan, cewe dan cowo…dll…dst.

Contoh aku cerewet, pacarku pendengar yang baik…ekuilibrium.

Apakah ekuilibrium di dalam kehidupan sehari-hari kita juga mengalami hal yang sama ? OO…YA tentu saja.  Mungkin kita tidak memperhatikan ekuilibrium yang berubah pada saat-saat tertentu dalam hidup kita karena prosesnya tidak selalu ekstrim.  Banyak hal kecil yang mengubah ekuilibrium dalam kehidupan kita.  Apakah hal ini buruk ?      Tidak !!!  Karena mungkin saja keseimbangan baru menjadikan kita manusia-manusia yang lebih baik.

Banyak kejadian yang mengubah ekuilibrium kehidupan kita orang dewasa seperti pekerjaan baru, pindah tugas ke daerah baru, pindah rumah, menikah, kelahiran anak pertama, anak kedua, dst, meninggalnya sanak keluarga, putus cinta, jatuh cinta, anggota keluarga baru (mertua, adik ipar, dll), rekan kerja baru, teman baru, naik jabatan, dan banyak lagi yang tidak kita sadari.

Sebenarnya perubahan-perubahan yang jauh di luar diri kita juga sangat mempengaruhi kita, karena kita adalah mata rantai dalam masyarakat, misalnya pergantian pemerintahan, kebijakan-kebijakan pemerintah, bencana alam dan sebagainya.

Perubahan-perubahan yang sangat kecilpun dapat mengganggu ekuilibrium, misalnya mati lampu…pasti kacau sesaat sebelum menemukan lilin atau senter, atau mobil mogok..heboh sebentar sebelum akhirnya naik angkot.  Polanya sama ekuilibrium A – perubahan – chaos – ekuilibrium B

 

Perubahan-perubahan yang mengakibatkan ekuilibrium yang baru selalu membuka mata kita untuk melihat hal-hal yang tadinya tidak kita sadari atau tidak kita perhatikan sebelumnya.  Perubahan-perubahan itu baik langsung atau tidak, berpengaruh buruk atau baik, semuanya akan mengubah kita.

Kenapa kita perlu membicarakan ekuilibrium ini ?  Karena anak-anak bahkan yang masih sangat mudapun mengalami perubahan-perubahan yang akan memperkaya dirinya dan menimbulkan ekuilibrium baru dalam kehidupannya.  Lihatlah bayi, ekuilibrium dalam kandungan yang telah dikenalnya harus berubah karena proses kelahiran.  Wuah…kacau besar buat si bayi, rasa aman hilang…menangislah dia keras-keras.  Tapi, ekuilibrium baru akan timbul saat ia merasa aman dalam pelukan ibunya, merasa nyaman saat disusui.

Perubahan demi perubahan akan dialaminya, kekacauan-kekacauan akan dilaluinya, keseimbangan-keseimbangan baru akan dilaluinya.  Tidak selalu dengan kesulitan karena manusia diperlengkapi dengan kemampuan-kemampuan untuk beradaptasi.  Misalnya saat mulai tumbuh gigi, mulai berjalan, mulai makan makanan padat, mulai berbicara dan seterusnya.  Perubahan-perubahan yang dialami oleh orang tuanya akan mempengaruhi si anak, bahkan dalam skala yang lebih besar karena kemampuan adaptasinya masih sedang berkembang.

Salah satu perubahan besar dalam diri seorang anak adalah saat dia masuk sekolah.  Suatu perubahan besar, lingkungan baru dengan orang-orang baru, suasana baru.  Semua serba baru dan asing.  Ekuilibrium setiap anak yang datang ke sebuah sekolah baru sangat beragam, dengan kemampuan adaptasi yang berbeda-beda.  Cobalah menempatkan diri menjadi anak-anak ini, pasti macam-macam rasanya, ada yang merasa serem deh, apalagi kalau mama atau pendamping tidak ada di sampingku…huah kacau berat.  Ada yang merasa semua menarik banget, aku mau lihat dan coba semua ah… Ada yang bingung, harus ngapain nih…?  Berbagai reaksi yang timbul bila seorang anak masuk ke lingkungan baru seperti sekolah ini.  Apa yang harus dilakukan ? Ada baiknya kita ingat kembali apa yang terjadi pada saat proses kelahiran, ekuilibrium baru di luar perut mama tercapai dengan bantuan rasa aman dan nyaman.  Di sekolahpun sama, seorang anak yang diberi waktu untuk merasa aman dan nyaman akan dapat berkegiatan dengan lebih asik dibandingkan dengan anak yang dipaksa untuk masuk ke lingkungan sekolah.  Pendekatan dengan mengikuti ritme anak untuk beradaptasi pastilah memerlukan waktu yang lebih lama, tapi kalau hasilnya lebih baik…mengapa tidak.

Anak-anak yang merasa sekolah adalah tempat baru yang sangat menarik, ekuilibrium akan tercapai setelah dia menjelajah seluruh ruangan atau bahkan seluruh sekolah. Ada baiknya dia dibiarkan menjelajah, sampai pada saat dalam hatinya dia berkata, “Ya, ini aman dan nyaman, aku sudah menjelajahnya.”.  Keinginan menjelajah ini adalah salah satu perwujudan kemampuan untuk beradaptasi.  Bukankah kita orang dewasa juga selalu menjajaki  lingkungan baru kita, memang bukan dengan “ngaratak”…bisa dimarahin nanti.  “Testing the waters…” kata pepatah di kampungnya Oom Bush. Waktu untuk proses menjelajah ini pun lebih lama.  Ga apa-apa, keamanan dan kenyamanan anak lebih diutamakan.  Pada saat menjelajahpun tidak selalu harus didampingi, selama anak dalam batas-batas aman, penjelajahan mandiri pastilah lebih mengasikkan dan memuaskan rasa ingin tahu anak.

Ekuilibrium baru seorang anak baru juga akan sangat didukung oleh mata rantai lain dalam lingkungan baru ini, termasuk guru atau fasilitator dan teman-teman.  Secara alamiah, anak-anak dalam sebuah kelas menyambut antusias datangnya teman baru, hal ini membantu seorang anak baru untuk merasa aman, nyaman dan disayangi.  Dengan merespon ajakan teman atau fasilitator, anak baru di lingkungan baru akan memasuki perannya sebagai mata rantai baru dalam jaring-jaring kehidupan kecil di sekolah.  Bila ekuilibrium baru sudah tercapai, maka langkah untuk masuk dalam kegiatan-kegiatan yang akan memperkaya, mengembangkan kemampuan-kemampuan dirinya bersama-sama dalam sebuah lingkungan yang menyenangkan dapat dimulai.  Dengan menumbuhkan kemampuan baru, mengembangkan kemampuan yang sudah dimilikinya, anak-anak akan semakin berperan dalam jaring-jaring kehidupannya di sekolah, di keluarga, dan di masyarakat hingga saat dewasa.  Ia akan menjadi penjaga ekuilibrium, menjadi pendukung tercapainya ekuilibrium baru yang lebih baik,yang datang sesudah perubahan atau bahkan menjadi pembawa perubahan yang akan membawa ekuilibrium baru.  Bukan tidak mungkin seorang anak yang masuk sekolah dengan malu-malu kelak akan menjadi pemimpin yang bijaksana.  Kemampuannya untuk menghadapi perubahan atau membawa perubahan selama hidupnya sejak bayi akan memungkinkan hal itu.

Yuk kita mulai memperhatikan bagaimana kita menghadapi perubahan dan bagaimana kita mencapai ekuilibrium baru.  Siapa tau ternyata kita malah lebih banyak tinggal di fase chaos, bukannya maju ke ekuilibrium baru…hehehe…

 

[kak caroline 2008]

Tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.