selamat jalan Pohon Berkembang Merah

 

Di peralihan musim kemarau ke musim penghujan tahun 2018 ini, ada pemandangan yang tidak biasa. Pohon Angsret yang hidup di pojokan pendopo Semi Palar menggugurkan dedaunannya. Biasanya memasuki musim penghujan, dedaunan segar segera tumbuh dan pohon itu kembali menghijau. Tidak kali ini.

Rekan-rekan tim Mujaer bilang, wah jangan-jangan pohon Angsret itu mati. Mari amati di beberapa minggu ke depan. Ternyata pohon tersebut memang tetap gersang walaupun hujan sudah terus turun. Ranting-rantingnya bahkan mulai banyak berguguran. Lebih jauh memasuki musim penghujan yang biasa disertai cuaca ekstrim, pohon itu dikhawatirkan membahayakan apapun yang ada di bawahnya.

img-20181109-wa00091503992097.jpg

Buat anak-anak Smipa – terutama yang sejak lama belajar di Semi Palar, pohon itu memang banyak bawa kenangan. Pohon itu menyajikan banyak hal untuk bisa dijadikan teman bermain. Buahnya yang setelah pecah seperti perahu atau bijinya yang putih seperti kapas, anak-anak sering mengimajinasikannya seperti salju… Kembangnya yang berwarna merah terang tidak berhenti berbunga setiap tahun sejak awal kita berkegiatan di Rumah Belajar Semi Palar. Sampai saat kami ini sedang berusaha mencari foto pohon Angsret yang berbunga merah – di tengah timbunan ribuan foto dokumentasi Semi Palar. Setidaknya pohon itu selalu jadi latar belakang segala aktivitas kita di Rumah Belajar Semi Palar.

Di kelas kakak2 mengajak anak2 menyadari lagi bahwa pohon Angsret itu sudah menemani kita sehari-hari, mengabarkan bahwa pohon itu waktu hidupnya sudah habis sehingga harus ditebang. Bersama kakak, anak-anak menyapa kembali pohon itu terakhir kali, beberapa kelompok membuat karya untuk mengenang pohon berkembang merah tersebut. Ada yang membuat sketsa, menuliskan doa atau puisi, ada juga yang melukis bersama di atas kain. Karya-karya ini belum tuntas sepenuhnya. Mudah2an berkesempatan untuk menampilkan beberapa hasil akhirnya… Dua hari yang lalu kelompok Batu Giok mencari saya di kantor, ternyata mereka sedang berkeliling membagikan kenang-kenangan berupa buah pohon Angsret ke kelas-kelas dan ke beberapa orang di Semi Palar…

Beberapa kakak bercerita bahwa anak-anak minta pohon Angsret itu tidak ditebang seluruhnya – supaya masih ada jejak kehidupannya. Setelah ngobrol dengan tim Mujaer, batang pohon terbawah pohon Angsret akan dibiarkan – semacam monumen pengingat dari 13 tahun lebih ia menemani perjalanan kita semua di Rumah Belajar Semi Palar.

Sabtu pagi ini, Pohon Berkembang Merah akhirnya ditebang. Pohon yang diperkirakan usianya sudah sekitar 90 tahun ini harus mengakhiri kehadirannya di Rumah Belajar Semi Palar. Ada 3 orang bapak2 yang memang sudah ahli melakukan penebangan pohon2 besar yang diminta bantuannya – ditambah tim Mujaer untuk memastikan bahwa pohon bisa aman ditebang tanpa banyak merusak bangunan2 atau tanaman lain yang ada di dekatnya.

WhatsApp Image 2018-11-10 at 8.46.01 AM

Di bawah ini video pendek karya kak Yudha bertajuk Ode untuk Angsret.

Terima kasih, pohon berkembang merah, atas kehadiranmu, atas oksigen yang tak henti kau hembuskan, atas naungan dan keteduhanmu, atas keindahan yang kau hadirkan, terima kasih sudah menjadi teman kami bermain sehari-hari. Selamat jalan…

 

 

Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.