Kembalinya Waroeng Kopi Smipa – catatan obrolan

waroeng kopi

Bertepatan dengan peringatan hari Kebangkitan Nasional 20 Mei lalu, “Waroeng Kopi Smipa” bangun dari tidurnya yang panjang. Waroeng Kopi Smipa merupakan forum obrolan santai antara tim Smipa dengan rekan-rekan orangtua dalam rangka berbagi pandangan, ide, pendapat mengenai pendidikan, khususnya pendidikan untuk anak-anak kita di Smipa. Forum ini pada awalnya diselenggarakan guna membangun sinergi kita semua sebagai rekanan dalam mendidik anak kita. Dalam perjalanannya, Waroeng Kopi ini memang sempat lama vakum karena sebagian besar kerja penyelenggaraan Semi Palar difokuskan lebih ke hal inti persekolahan yaitu persoalan kurikulum, pengolahan program, pembekalan pendampingan guru, membangun sistem kerja tim dan lain sebagainya. Ternyata, komunikasi antara pihak sekolah dan keluarga semakin lama semakin disadari juga merupakan elemen yang juga fundamental dan karenanya bersama beberapa rekan orang tua kita mulai menggulirkan kembali forum obrolan ini.

Warung Kopi kemarin dihadiri oleh Bu Nanan (orang tua Benita, kelompok Trembesi), Pak Anton (orang tua Feta, kelompok Kiputih), Pak Oki (orang tua Ray kelompok Trembesi dan Grace kelompok Bengkirai), Bu Maureen (orang tua Evan kelompok Ulin dan Ezra kelompok Bengkirai), kak Andy (Kordinator Umum), kak Wienny (Kordinator Jenjang PG-TK), Kak Taufan (SPP Bidang Kurikulum), dan kak Listi (SPP Bidang Psikologi).  Sebagai pertemuan pendahulu setelah sekian lama tidak berjalan, Warung Kopi kemarin cukup seru meskipun belum dihadiri oleh banyak orang. Diskusi menjadi semakin hangat karena ditemani singkong goreng lezat dari Bu Nanan (terima kasih, Bu Nanan :). Berikut rangkuman obrolan di Waroeng Kopi kemarin…

Pengalaman menarik dari Bu Nanan yang mendampingi Benita sejak jenjang TK di Smipa hingga sekarang kelas 6) menyadarkan kami mengenai perubahan yang terjadi secara berangsur selama 8 tahun Smipa berjalan. Dalam rangka menyelaraskan cara mendampingi anak dalam hal materi, dulu orangtua belajar bersama guru materi-materi yang sedang dipelajari di kelas. Diskusi-diskusi informal sering dilakukan antara orangtua, kakak, dan sekolah guna menyelaraskan pandangan mengenai pembangunan karakter pada anak. Iklim ‘Rumah Belajar’ sangat terasa saat itu, dimana kita semua belajar bersama untuk mewujudkan pendidikan yang terbaik untuk anak. Saat ini ternyata hal-hal tersebut sudah sulit ditemukan di Smipa. Kami pun mencoba merefleksi apa yang menjadi faktor munculnya perubahan tersebut.

Dengan membesarnya komunitas Smipa dari segi jumlah dan kompleksitas olahan, tentunya perlu diiringi penyesuaian dari berbagai sisi mulai dari pola komunikasi, pengelolaan, konsep pembelajaran hingga implementasinya di kelas. Selain itu tak dapat dipungkiri gempuran informasi dan teknologi banyak mempengaruhi tumbuh kembang anak kita. Untuk itu kita –orangtua dan sekolah- perlu semakin kompak untuk menyikapi hal ini. Pak Anton mengibaratkan, kita semua ini bagaikan – kalau tidak salah – sebuah mesin. (mohon koreksinya apabila salah). Semua roda berputar memenuhi tugasnya masing-masing dan saling mendukung satu sama lain agar tetap berputar bersama. Jika salah satu roda berputarnya tidak lancar atau bahkan berhenti, maka roda lainpun akan terhambat perputarannya. Begitulah kita dalam mendidik anak, baik orangtua dan sekolah perlu terus bersinergi dan mengisi peran masing-masing agar proses bergulirnya pendidikan anak  terjaga.

Dalam diskusi ini kami semua kembali diingatkan bahwa Smipa bukanlah sekolah yang sekadar ‘menawarkan jasa pendidikan’, melainkan ‘menawarkan bentuk kerjasama pendidikan’, dimana sinergi antar semua pihak (guru-sekolah-orangtua) menjadi salah satu kunci keberhasilan dalam mendidik anak-anak kita. Diskusi-diskusi rutin antara orang tua dan sekolah terkait konsep pembelajaran beserta implementasinya di kelas pun disadari betul menjadi hal yang mutlak perlu diupayakan. Dalam rangka mendukung proses ini, diperlukan juga media-media pendukung yang dapat memperluas ruang kita untuk berbagi. Selain melalui media sosial Facebook, Smipa saat ini telah mempunyai account Springpad yang berisi referensi-referensi yang dapat digunakan dalam pembelajaran yang disesuaikan dengan tema saat itu, lewat mana siapapun dapat mengakses halaman ini. Di tahun ajaran depan Smipa berencana meluncurkan semacam buletin khusus orang tua sebagai media informasi dan edukasi bersama. Buletin ini diharapkan bisa menjaga kesamaan visi dan menyelaraskan tujuan pendidikan di segenap keluarga yang menyekolahkan putra-putrinya di Semi Palar.

Ternyata faktor ekspektasi orangtua terhadap Smipa juga menjadi faktor situasi saat ini. Saat ini berkembang image bahwa Smipa merupakan sekolah ‘bagus’ yang ‘serba bisa’. Akibatnya muncul harapan bahwa situasi di sekolah haruslah serba ideal demi tumbuh kembangnya anak. Bahasan menarik saat itu adalah pentingnya pemahaman bersama mengenai perbedaan antara membangun anak yang ‘steril’ vs anak yang ‘imun’. Kita ingin membangun anak yang ‘imun’, yaitu anak yang mempunyai kemampuan untuk mengatasi persoalan pada situasi tidak ideal. Dengan kata lain, situasi ‘tidak ideal’ tetap perlu ada untuk membangun kemampuan tersebut. Tentunya perlu diiringi dampingan orang dewasa dan sudut pandang yang bijak terhadap situasi yang tidak ideal tersebut. Kita bukan ingin membangun anak ‘steril’ yang selalu terhindarkan dari situasi tidak ideal, yang malah membentuknya menjadi individu yang ‘lemah’ karena tidak terbiasa mengatasi persoalan.

Masih terkait ekspektasi orangtua, tampaknya banyak keresahan yang dialami oleh orangtua saat ini ketika anaknya (yang terutama berada di SD jenjang kecil) belum mengalami perkembangan pengetahuan atau kemampuan yang sama dengan anak-anak di sekolah lain. Kemarin muncul kesimpulan bersama bahwa di Smipa, yang menjadi fokus pengembangan pada jenjang pra-sekolah hingga SD kecil adalah membangun kemampuan dasar belajar dan karakter sebagai pendukungnya untuk menghadapi materi yang lebih kompleks pada jenjang berikutnya. Sehingga mungkin pengetahuan atau kemampuan yang belum setara dengan anak-anak di sekolah lain menjadi suatu bagian dari proses; dimana ketika jenjang SD besar dan seterusnya anak-anak ini akan berkembang pesat justru melebihi anak-anak di sekolah lain karena telah dibekali kemampuan dasar belajar dan sikap-sikap pembelajar.

Didukung kehadiran tim Sistem Pendukung Pembelajaran (SPP), tahun ini Smipa banyak melakukan penggodokan dalam rangka membulatkan konsep yang telah ada. Adapun ‘penemuan-penemuan’ baru dalam hal konsep pembelajaran dan pengelolaan dicobakan sedikit demi sedikit dan berproses. Di tahun ini, kami merasa berhasil banyak sekali menemukan kesimpulan-kesimpulan setelah mengamati anak-anak berproses selama ini. Harapannya setelah melalui proses penggodokan ini, tahun depan mulai dapat disosialisasikan dan digulirkan secara konsisten; tentunya diiringi evaluasi dan pengembangan seiring berjalannya waktu.

Sebagai penutup, kami menyepakati untuk merutinkan Waroeng Kopi ini sebanyak 2 minggu sekali setiap hari Kamis sore. Kami mengundang rekan-rekan orangtua untuk bergabung di ruang diskusi ini. Berbagi pendapat, pandangan, ide, saran, saling mengisi dan melengkapi untuk mendidik anak kita bersama.

Salam sinergi!

catatan obrolan ini disusun oleh kak Listi.
berikut tautan ke liputan Waroeng Kopi I yang pertama kali di Smipa

Tagged , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.