Hari-hari Matematika di Tarsius

 
Posting ini diambil dari catatan observasi rekan Lukas, yang sempat mampir dan mengobservasi kegiatan di kelompok Tarsius (SD-2). Terima kasih atas perkenaannya memindahkan catatan facebooknya ke sini, ke blog-nya Semi Palar. Sebagai bagian dari catatan proses belajar buat kita semua.

Sebelumnya, saya ingin berterimakasih kepada Kak Andy, Kak Iden, Kak Taufan, dan Kak Pungky yang telah memberi saya kesempatan untuk melakukan observasi studi banding di kelas Tarsius – Semi Palar.

~

Jumat pagi itu (30/03/12) anak-anak kelompok Tarsius (kelas 2 SD) membuka pagi dengan menyimak dongeng dari Kak Pungky. Setelah dongeng, karena permintan dari anak-anak, Kak Pungky kemudian mengajak anak-anak melanjutkan karya rajutan untuk melengkapi karya ‘Tas Pengetahuan’ yang sudah mereka mulai tiga hari sebelumnya. Mereka seolah sudah tidak sabar ingin menyelesaikan proyek tersebut. Diiringi alunan raga sebagai musik latar kelas, anak-anak pun asyik merajut. Bukan hanya anak perempuan yang anteng, tapi anak laki-laki yang biasanya mengobrolkan pesawat terbang atau tank paling canggih abad 21 pun ikut anteng merajut.

Beberapa anak yang tuntas lebih dulu kemudian dipersilakan meneruskan karya bersama di kelas ini, berupa proyek ‘Garis Tahun’—biasa diistilahkan sebagai timeline, yaitu sebuah kertas panjang yang bertuliskan angka-angka tahun yang diurut secara kronologis (kebetulan tema belajar di bulan Maret-April ini adalah “Petualangan Penjelajah Waktu”. Anak-anak boleh bebas mengisi informasi yang mereka dapat dari hasil ‘cari tau’, lalu menempatkannya di angka tahun yang sesuai—baik berupa teks, gambar, maupun tempelan 3D.

Kebanyakan info yang dikumpulkan di ‘Garis Tahun’ bersumber dari buku yang sebelumnya mereka cari dan pilih sendiri  di perpustakaan, ditambah buku milik pribadi yang dibawa dari rumah. Satu per satu anak-anak yang telah menyelesaikan tali rajut kemudian melanjutkan proses ‘cari tau’ mereka untuk mengisi “Garis Tahun’. Setiap anak sibuk sendiri-sendiri dengan keingintahuan mereka masing-masing. Kegiatan ini berjalan hampir satu jam, kemudian berselang istirahat, dan berlanjut setelah anak-anak selesai menyantap bekal makan. Mereka memang tampak asyik. Namun di sisi lain, Kak Taufan dan Kak Iden saat itu sebetulnya sedang mencari celah agar hari itu bisa menyisipkan agenda matematika, setidaknya untuk jam terakhir sebelum anak-anak pulang (kata Kak Iden, sudah agak lama tidak mengasah matematika). Bagaimana alur yang sedang dijalani anak-anak tidak destructed/jek-lok/awut-awutan.

Setelah termin kedua berlangsung beberapa lama, seorang anak bernama Bulan yang sedang serius membaca sebuah buku tiba-tiba memalingkan muka ke langit-langit kelas sambil menunjukkan air muka bingung sekaligus takjub (baca: bengong). Kak Taufan yang kala itu persis ada di sampingnya lalu bertanya, “Kenapa, Bul?”

Ia ternyata sedang membuka buku tentang kisah para penjelajah dunia. Masih dalam raut wajah penuh tanda tanya ia kemudian mengeja apa yang baru saja dibacanya: “Seribu.. dela..pan.. puluh.. dua.. hariiiii—1082…!??” Ternyata lewat buku tersebut Bulan baru saja menemukan informasi bahwa Ferdinan Magellan pernah melakukan perjalanan keliling dunia pertama kali yang tercatat dalam sejarah, dan perjalanan tersebut dilakukan selama 1082 hari (!).

Kak Taufan dan Kak Iden yang selama ini mendamping kelompok Tarsius tentu tidak terlalu heran melihat bagaimana Bulan merespon informasi tersebut. Ini karena pada dua pekan sebelumnya teman-teman kelompok Tarsius baru saja diajak bertualang bersama Phileas Fogg dan Passerpartout dalam kisah terkenal Around the World in 80 Days (mereka sangat antusias menyimak kisah ini lewat versi filmnya yang dibuat Michael Anderson pada 1956). Ketakjuban mereka sepertinya tak habis-habis, bahwa pada zaman dulu orang bisa keliling dunia selama 80 hari merupakan sebuah keajaiban—petualangan yang seru dan mendebarkan.

Menanggapi respon Bulan, Kak Taufan kemudian iseng memancing, “Bul, kalo Phileas Fogg kan keliling dunia 80 hari. Nah, beda berapa hari ya sama Ferdinan Magellan?”

Linus spontan menjawab, “Beda 1002 hari, Kak!”

Situasi jadi sungguh kocak ketika Alfian tiba-tiba nyeletuk, “Ah, mana mungkin ada orang bisa hidup selama itu!“ dengan wajah agak sinis—tak percaya.

Beberapa anak langsung merespon, “Iiiiiiih, ya bisa lah..! Ini kan itungannya hari, bukan tahun! Ya pasti bisa lah, Al..!”

Kak Iden kemudian menyela, “Iya betul. Ini emang hari, bukan tahun. Nah.. nah…, kalo 1082 hari berarti kira-kira berapa tahun tuh perjalanannya?”

Tanpa disadari, saat itu praktis semua anak sudah meninggalkan buku serta karya mereka di ‘Garis Waktu’. Kali ini wajah mereka semua penuh tanda tanya. Nyatanya, anak-anak Tarsius memang belum tahu bahwa 1 tahun ada 365 hari. Kak Iden kemudian memberi petunjuk, “Kalo setahun ada berapa bulan, ya?”

“12 bulan, Kak!”

“Nah, kalo sebulan ada  berapa hari?”

“30 hariiiii…!” Ada pula yang menjawab, “31 hari!”

“Betul! Nah, sekarang anggaplah semua bulan banyaknya 30 hari. Jadi kalo dibikin bentuk penjumlahan dan bentuk perkaliannya, gimana ya?”

Fadlan kemudian berinisiatif untuk mencoba menghitung di papan tulis:

—> 30+30+30+30+30+30+30+30+30+30+30+30=360

—> 12×30=360

Di semester ini, teman-teman di kelompok Tarsius memang sedang belajar konsep dasar perkalian; bahwa 12×30 adalah sangat berbeda dengan 30×12.

Dari pembahasan singkat tentang jumlah hari dalam setahun, kemudian kami semua sepakat bahwa 1082 hari adalah sekitar ‘3 tahun kurang sedikit’.

“Wah, lama banget ya perjalanannya! Kalo Phileass Fogg kan cuma sekitar dua bulan setengah! Itu pun kayaknya udah lama banget! Nah Emangnya Ferdinan Mangellan keliling dunianya zaman kapan, sih? Kok lama amat, ya? Bedanya jauh banget, ya!” pancing Kak Taufan.

“Ini, Kak! Ada ditulis di sini! ‘Tahun 1519’,“ ujar Bulan.

“Wow! Berarti jauh lebih duluan Ferdinan Magellan, ya! Berapa tahun yang lalu tuh, ya?”—kalimat tanya yang spontan terlontar inilah yang kemudian membuat situasi siang itu menjadi agak luar biasa: Dengan penuh semangat kepenasaran semua anak segera mencoba melakukan operasi hitung susun pengurangan. Seperti biasanya, anak-anak Tarsius mengotret di lantai kelas menggunakan spidol nonpermanen.

Tahap belajar mereka menurut kurikulum yang ditargetkan memang belum sampai pada pengurangan bilangan ribuan (dengan ‘cara meminjam’, dengan bilangan yang mengandung angka nol pula). Ini merupakan penghitungan yang lumayan rumit. Tapi, apa yang terjadi di kelas Tarsius siang itu basisnya bukan kurikulum atau silabus, melainkan ‘kepenasaran’. Kakak pun membiarkan proses ini mengalur.

Saat itu, Kak Taufan dan Kak Iden hampir yakin, bahwa anak-anak pasti belum mampu memecahkan kasus pengurangan yang satu ini. “Ada yang udah dapet hasilnya?”

Beberapa anak kemudian spontan berteriak, “Belum! Belum! Belum! Tunggu dulu, Kak!” Mereka tampak sangat antusias mengotret, mengotak-atik angka-angka tahun tersebut. Beberapa anak mencoba menunjukkan hasilnya pada Kakak dengan ekspresi harap-harap cemas. Tapi belum juga ada anak berhasil.

Kak Taufan kemudian mencoba menggoda-godai mereka, “Oke, belum ada yang dapat hasil yang tepat. Mending Kakak langsung bahas aja, ya?” sembari memegang spidol mendekati papan tulis.

“AAAAAAAAAAA…!!! JANGAAAAAAAN. !!!! Tunggu dulu, Kak! Jangan dulu dibahas!”

“Tunggu dulu sebentar! Kita lagi ngitung dulu! Jangaaaaaaan..!!!! Jangaaaaaaan..!!!!”

Karmel adalah anak yang teriakannya paling melengking, ketakutan kalau-kalau Kakak sampai keburu membahas teka-teki tersebut. Bahkan Natasha yang relatif pendiam malah jadi salah satu anak yang teriakannya juga keras—keukeuh, ngotot, sambil bersemangat meneruskan hitungannya. Sementara itu Alfian yang minggu-minggu belakangan ini mood-nya sedang lebih-senang-main-ketimbang-diskusi-atau-berhitung, di momen ini malah ikut menunjukan tanda tanya besar di raut wajahnya, sambil terus mengotak-atik ‘angka-angka misterius’ tersebut.

Waktu terus bergulir. Terasa lebih cepat dari biasanya. Belum ada jawaban yang tepat. Jam sudah menunjukan 10 menit sebelum jadwal pulang. Kak Taufan terus iseng menggoda-godai, “Oke kita bahas sekarang!”

“AAAAAAAAAAA…!!! JANGAAAAAAAN..!!!!”

Setelah ‘tawar-menawar’ dengan Kakak, walhasil, hari itu anak-anak sepakat agar Kakak tidak membahas cara pengurangan tersebut. Mereka memilih/mengusulkan agar teka-teki ini dibawa pulang, sebagai tantangan akhir pekan.

“Buat temen-temen yang punya kakak di SD besar, kelas 4, 5, atau 6, boleh tanya ke kakaknya ya,” ujar Kak Taufan menutup obrolan sebelum memulai doa pulang.

“Nggak! Aku nggak mau nanya Marcel. Aku ngulik sendiri!“ ujar Linus bersikukuh.

“Aku juga mau cari tau sendiri dulu aja!” ujar beberapa anak lain.

Mengawali akhir pekan, kepala anak-anak kelompok Tarsius diisi penuh dengan pertanyaan (akibat ‘ulah’ mereka sendiri): BERAPA TAHUN YANG LALU MAGELLAN MELAKUKAN PERJALANAN KELILING DUNIA?😀

[]

Misteri teka-teki Magellan tentu kemudian berlanjut di hari Senin. Karena ternyata terlampau membingungkan, beberapa anak akhirnya mencari tau dengan bertanya kepada orangtua mereka. Yang pertamakali mencoba mempresentasikan hasil cari taunya ialah Bulan. Ia kemudian menjelaskan bagaimana cara ayahnya memecahkan pengurangan tersebut.

“Lho, kok bisa begitu?” hampir semua anak bengong—kebingungan—kecuali Bulan sendiri tentunya. Yang Bulan jelaskan memang bentuk ‘cara praktis’. Logika anak-anak tentunya bertanya-tanya bagaimana trik tersebut bisa terjelaskan—prosesnya.

Lalu giliran Karmel yang coba berbagi cara yang diajarkan oleh mamanya. Kali ini adalah ‘cara panjang’, yaitu dengan terlebih dahulu memilah ribuan, ratusan, puluhan, dan satuan. Semacam mendapat pencerahan, anak-anak kemudian mulai paham proses hitung versi Karmel ini. Beberapa anak yang paham lebih dulu kemudian membantu menjelaskan kepada anak-anak lain yang masih agak bingung.

Hasilnya ternyata:  493

Jadi, Ferdinan Magellan melakukan perjalanan keliling dunia pada empat ratus sembilan puluh tiga tahun yang lalu.

Setelah teka-teki terpecahkan, anak-anak kemudian sepakat untuk menguji pemahaman masing-masing tentang cara pengurangan bilangan ribuan ini. Teka-teki berikutnya yang harus dipecahkan adalah mencari jawaban, “Berapa usia Kak Taufan, Kak Iden, dan Kak Pungky saat ini?” Ketiga Kakak kemudian memberi tahu tahun kelahiran masing-masing. Tak lama berselang anak-anak akhirnya berhasil mengetahui usia masing-masing Kakak.

Dari kemampuan baru ini (pengurangan bilangan ribuan), akhirnya mereka melanjutkan kegiatan kelas dengan melengkapi karya ‘Garis Tahun’. Di bawah angka-angka tahun dan kumpulan informasi tentang kejadian, penemuan, dan penciptaan yang telah mereka tuliskan dan gambarkan di ‘Garis Tahun’, mereka kemudian menuliskan:

“Jadi, mobil pertama ini dibuat pada 243 tahun yang lalu.”

“Jadi, kereta api ini ada di Bandung sejak 128 tahun yang lalu.”

—-dan seterusnya..

[]

Agenda hari Senin itu kemudian ditutup dengan situasi yang tak kalah menarik. Linus pada hari itu membawa sebuah kalkulator tua: barang antik yang bentuknya unik, berat, konstruksinya rumit, dan menurut beberapa anak: “kereeeeeeen…!!”

“Ini sebenernya bukan punya Linus. Tapi dari Oma. Tapi sebenernya Oma juga dapet ini dari Oma-nya Oma. Jadi pokoknya udah lama banget,” demikian kalimat pembuka yang dilontarkan Linus sebelum mendemostrasikan cara menggunakan kalkulator tersebut.

Operasi hitung yang pertama kami ujicobakan menggunakan kalkulator itu tentunya adalah 2012 dikurangi 1519—dua bilangan yang menjadi misteri sejak akhir pekan yang lalu. Linus memasukkan angka 2-0-1-2 pada tuas-tuas angka yang ada di kalkulator. “Kalo mau pengurangan, ini harus diputer ke belakang. Tapi kalo penjumlahan, harus ke depan.” Kemudian ia memutar engkolnya ke belakang, lalu ia memasukan angka 1-5-1-9.

Jegrek! —dan munculah angka:  4 9 3 —hasilnya persis seperti hasil hitung yang sebelumnya telah mereka buat di kertas (dengan penuh perjuangan).

Sejurus setelah melihat angka 4 9 3  terpampang di kolom-kolom muka kalkulator tua tersebut, Jaya langsung menunjukan ekspresi tidak percaya sekaligus takjub: air mukanya bingung-luar-biasa. Dalam kebingungan, ia pun menilik-nilik bagian-bagian kalkulator tersebut. Ia kemudian berujar, “Itu gimana bisa…!!!?” — “Itu kita kan kalo ngitung pake otak! Nah, kalo ini kalkulator begini gimana caranya!!?”

Linus kemudian mulai menjelaskan secara runut bagimana kalkulator tersebut bekerja, “Ini cara kerjanya pake gir-gir, Jay.”

Kak Taufan kemudian memberi sedikit clue, “Mungkin ini mirip-mirip dengan cara kerja automaton yang ada di buku/film Hugo, Jay..”—sambil pura-pura bingung 😀

Linus kemudian melanjutkan penjelaasannya, “Yang buat ngitung penjumlahan dan pengurangan ada 13 kolom angka yang digerakin sama gir-gir yang ada di baliknya.” Ia juga kemudian menjelaskan bahwa tiap gir ada 10 gigi, masing-masing untuk angka 0, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, dan 9 yang nanti akan muncul di kolom angkanya. “Tapi sebenernya ini ada 21 kolom. Yang 8 kolom buat perkalian dan pembagian. Tapi aku belom bisa caranya.”

Penjelasan Linus tersebut kemudian berlanjut pada beberapa pola konsep perkalian. “Berarti kalo dibikin bentuk perkaliannya berapa kali berapa ya?” ujar Kak Iden.

“Ada 10 gigi di tiap gir. Trus gir-nya ada 21,” ujar Kak Taufan.

21×10 —–> 10+10+10+10+10+10+10+10+10+10+10+10+10+10+10+10+10+10+10+10+10——kali ini yang berkesempatan menjawab adalah Gavin dan Melati.

Obrolan seputar kalkulator, matematika, dan tetek bengek seputarnya terus berlanjut hingga jam menunjukkan waktu pulang. Jumat dan Senin ini memang seolah adalah ‘hari matematika’, tapi nyatanya ada banyak hal lain di luar matematika yang diolah anak-anak. Matematika yang ini bahkan berawal dari kisah petualangan Ferdinan Magellan; dan ternyata tidak terpisah dengan kisah kalkulator warisan Oma; tidak lepas dari sejarah penciptaan mobil atau peristiwa-peristiwa di Bandung zaman dulu; tidak lepas dari tebak-tebakan usia Kakak-kakak di kelas; dan malah ada hubungannya juga dengan Phileas Fogg atau Hugo Cabret dan automaton-nya [barangkali ini agak erat kaitannya dengan konsep yang diusung sekolah ini: Pembelajaran Holistik] 😀

Padahal dalam silabus program kelas dan standar kompetensi KTSP yang dikeluarkan Diknas, tidak tercantum kompetensi ‘pengurangan bilangan ribuan’! ———Duh, gimana dong!?   [TAMAT]

 

__________________________

NB: Foto-foto ‘Garis Waktu’, rajut, dan situasi lainnya belum lengkap terlampir. Saya masih menunggu kiriman foto via e-mail dari Kak Iden. Jadi harap maklum jika fotonya baru 3 frame. Nuhun.

diambil dari posting asli yang linknya ada di sini.
Tagged , , , . Bookmark the permalink.

3 Responses to Hari-hari Matematika di Tarsius

  1. veni hartadi says:

    woooooowwwww what a cool session time of learning, i will consider your school as my son future school.

  2. Lisa says:

    metode pendidikan yang mengutamakan proses bukan hasil. membutuhkan kerja keras,kreatifitas dari para pembimbing dan program yang terpadu. sungguh menarik dan metode pembelajaran seperti ini yang kita butuhkan… two thumbs up for you guys..

  3. Pingback: Pendidikan – sebuah esai » catatan harian semi palar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.